Ruang Kisah

Ruang Kisah
Bagian 11 Penjelasan Rafael


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana dilaksanakannya UN terakhir bagi semua pelajar diseluruh SMA. Ujian nasional kali ini berbeda dan sudah diterapkan selama 3 tahun terakhir yakni Ujian Nasioanl berbasis Komputer (UNBK), dan sini tepatnya Andara duduk didepan komputer untuk melaksanakan ujian mata pelajaran jurusan pilihan, dan ujian ini adalah step terakhir Dara di jenjang pendidikan sekolah menengah atas sebelum masuk ke bangku perkuliahan.


Dara menatap komputer dengan sangat fokus, membaca dan memahami tiap soal yang tertera dilayar plasma itu. 2 jam telah berlalu, kini Dara telah selesai menghadapi ujian terakhir itu.  Semua murid mengucap syukur karena UN telah selesai, begitupun dengan Dara ia tak menyangka bisa menyelesaikan studinya meskipun ia harus menerima banyak luka dalam hidupnya. Dan kini Dara tinggal menunggu pengumuman kelulusan yang dikabarkan akan diumumkan 1 bulan dari sekarang.


Drettt


Ponsel Dara berbunyi ia membuka lookscreen hpnya untuk melihat siapa yang menelponnya ternyata itu panggilan masuk dari Raffa. Dara menaikan sebelah alisnya binggung kenapa tiba-tiba Raffa menelponnya?bukankah hubungan mereka telah berakhir? Andara membuang perspektif buruknya tentang Raffa, mungkin Raffa ingin meminta maaf padanya atas apa yang telah ia lakukan pada Dara dulu.


Dara mengeser tombol hijau dan terdengar suara pria yang dulu sempat mengisi hatinya.


"Halo Dar" ucap Raffa dengan lembut.


Dara masih tidak menjawab, ia diam mendegarkan perkataan selanjutnya dari Raffa.


"Dar, gue mau ngomong sama lo" ucapnya ketika tidak mendapatkan respon dari Dara.


"Gue sibuk" ucap Dara seadaanya, memang hari ini ia benar-benar sibuk karena ia akan mengantar Al tunangannya kebandara, sebab Al mulai besok sudah akan memulai perkuliahan S2 di Stanford University.  Ia dan ketiga teman seperjuangannya di terima di perguruan tinggi yang telah mereka daftar, sehingga mereka harus bersiap-siap untuk pergi ke kampus itu mengurus pendaftaran dan admisnitrasinya.


Andara diterima di fakultas kedokteran umum Universitas Indonesia a.k.a UI, dan untuk Stanford University ia sudah melengkapi syarat pendaftaran dan mengirim essay juga memo latter, TOEFL, ILCS serta Transkip nilai bahasa Inggris dan mengikuti tes yang diadakan oleh kedutaan besar Amerika serikat di Indonesia mengenai pendaftaran Stanford hanya saja pengumuman penerimaan belum keluar sehingga Dara mungkin harus sedikit menunggu apakah ia diterima atau tidak? Meskipun sejujurnya Dara tidak yakin apakah Ia bisa masuk ke universitas terbaik nomor 2 dunia itu, karena banyak sekali pelajar dari seluruh belahan dunia yang ingin kuliah disana, selain  mengandalkan nilai persemester, ia juga hanya mengandalkan kejuaraan lomba biologi tingkat internasional nya 1 tahun lalu. Sehingga Ia berpikir bahwa peluang Ia ditolak itu sangat besar. Tetapi Al tidak henti-hentinya memberikan semangat dan dukungan kepada Dara, Ia selalu memberikan pencerahan pada Dara agar Ia tidak menyerah dan berputus asa.


"Memang kamu tidak sepintar mereka tapi kamu harus tahu, semua orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, apa yang menjadi kelebihan mu belum tentu menjadi kelebihan mereka dan apapun kekurangan yang kamu miliki belum tentu mereka juga memilikinya bukan? Jadi jangan berputus asa, ingat rencana tidak akan pernah mengkhianati hasil? kamu harus percaya pada potensi dirimu sendiri" ucap Al beberapa hari lalu setelah menemani Dara dari rumah sakit untuk menjalankan perawatan Kemotrapi.


"Please Dar, kasih gue kesempatan ngomong sama Lo sekali aja" ucap suara diseberang sana dengan nada memohon.


"Oke di kafe biasa" finalnya.


"Maka___" suara diseberang sana terputus karena Dara mematikan telepon sepihak.


Disinilah Dara sekarang di cafe Season tempat dimana ia dan Raffa sering menghabiskan waktu bersama.


Raffa duduk di hadapan Dara dengan didepannya terdapat Moccachinno dan Greentea Latte kesukaan Dara.


"Suasananya masih sama ya Dar kayak dulu" ucap Raffa memulai obrolan dengan mata tak berhenti memandangi netra gadis didepannya itu.


"To the point, waktu gue nggak banyak" ucap Dara, melirik sekilas jam di tangannya menghitung menit demi menit nya yang terbuang disini.

__ADS_1


"Maafin gue Dar"lirihnya dengan wajah menunduk.


"Untuk apa?" Ucap Dara dingin.


"Semuanya Dar, semua rasa sakit yang pernah gue torehkan ke lo".


Dara menatap pria di hadapannya ini. Raffa iya Rafael Altafatuh Pradipta, nama yang dulu ia ingat sebagai Supermannya dikala ia bersedih dan kini Supermannya lah yang menjadi alasannya bersedih dan terluka lagi.


"Gue udah maafin Lo kok" Dara membuka suara.


"Jauh sebelum Lo nyakitin gue, jauh sebelum Lo ngelukis I Hate di hati gue, jauh sebelum ngehianati dan ngerusak kepercayaan gue, jauh sebelum Lo ninggalin gue. Gue udah maafin Lo kok".


"Tapi maaf gue nggak bisa ngelupain semua kejadian yang menjadi alasan gue terluka, semua itu bukan embun di pagi hari sehingga untuk berhenti mengingatnya bukan perkara mudah. Mungkin bagi Lo setelah nyakitin gue Lo tinggal ngomong maaf gue pasti maafin dan gue dengan bodohnya ngelupain kejadian itu. Sorry gue emang maafin Lo, tapi gue nggak bisa ngelupain semua hal yang buat gue benci sama Lo gue nggak bisa" lanjutnya.


"Dar gue bener-bener minta maaf, gue tau gue salah. Dan mungkin bagi Lo sulit untuk maafin gue karena gue betul-betul ngehancurin perasaan Lo gue nyesel, sumpah gue nyesel. Gue ingin perbaiki semua dari awal, gue bodoh yang rela ninggalin cewe setulus dan sebaik Lo Dar. Gue nyesel


Please kasih gue kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki hubungan kita" ucapnya dengan air mata berkaca-kaca.


"Sorry untuk memperbaiki gue nggak bisa Raf, Lo harus tau hati gue sekarang udah ada yang ngisi dan gue harap Lo harus nerima takdir tuhan kalo kita memang nggak jodoh" tuturnya.


"Sorry gue nggak bisa, gue harap Lo ngerti diposisi gue, Lo tau kan terlalu banyak luka di hati gue yang Lo buat dan sekarang udah ada yang bisa ngobatin luka itu dan gue ninggalin dia. Sorry Raf gue nggak bisa karena gue nggak sejahat Lo, dan Lo harus ingat ini omongan manusia itu dilihat dari ucapannya yang pertama bukan yang kedua. Semoga Lo ngerti maksud gue".


"Gue pamit" ucap Dara kemudian melangkahkan kaki keluar dari hotel season yang telah memberikan warna dihatinya walaupun hanya sebentar.


Didalam taksi Dara merasakan sakit di kepalanya, ia memijat keningnya untuk meredakan rasa sakit itu.


Supir taksi melihat penumpangnya dari kaca mobil binggung, Karena wajahnya tiba-tiba berubah pucat.


"Apakah mbak baik-baik saja?" Tanyanya pada Dara.


"Saya baik pak hanya sedikit pusing" tuturnya.


"Mau saya antarkan kerumah sakit saja soalnya wajah mbak terlihat pucat" lanjutnya.


"Nggak usah pak, ke bandara saja soalnya saya sudah ditunggu"

__ADS_1


Supir taksi itu mengangguk Ia kemudian melajukan mobilnya menuju bandara Soekarno Hatta.


Terminal 4 bandara Soekarno Hatta Tanggerang.


Dara dengan setia menemani Al menunggu pesawat take off di ruang Daprature, Al yang terlihat begitu manja kepada Dara dengan selalu menempel pada gadis itu seolah-olah ia tidak ingin berpisah dengan gadisnya apalagi dalam waktu yang lama yakni 3 tahun.


"Udah deh kak dempet-dempet mulu dari tadi, malu di liat orang-orang" kata Dara menatap Al dengan gerak tubuh mengatakan jika dia risih.


"Uhh sama tunangan sendiri gitu, Bentaran dikit napa sayang, kamu tau kan besok aku udah nggak bisa nempel-nempel sama kamu lagi dan aku nggak bisa nyium wangi parfum kamu lagi!" Ucap Al menatap netra gadisnya karena ia sungguh berat meninggalkan Indonesia.


Dara merasa tidak enak hati dengan ucapan yang keluar dari mulutnya kepada Al, karena benar kata Al mungkin beberapa menit lagi ia dan Al tidak bisa bertemu sebelum ia diterima di universitas yang sama dengan Al.


"Udah jangan bete gitu dong? Maafin aku ya sini kalo mau dipeluk-peluk soalnya aku pasti bakal rindu sama my prince" ucap Dara mengoda Al, dengan semangat Al merengkuh tubuh mungil gadisnya yang masih berbalutkan seragam putih abu-abu itu.


"Aku pasti bakal rindu kamu sayang, kamu harus buktiin ke aku kalo kamu bisa masuk ke univ yang sama biar aku nggak kesepian dia California" ucapnya kemudian menempelkan dagunya pada ceruk leher jenjang Dara.


"Udah ah Abang sama Dara pacaran Mulu, tu pesawat udah mau take off cepetan sana" ucap Lia yang menghampiri dua sejoli yang duduk sambil berpelukan diruang deprature.


"Aku pamit ya" ucap Al kemudian mencium kening Dara dengan lembut dan memeluknya terakhir kali sebagai salam perpisahan.


Kemudian memeluk Mami dan Papinya yang ikut mengantarnya ke bandara.


"Hati-hati bang disana, makan yang teratur jangan suka keluyuran, belajar yang giat biar lulus cuma 2 tahun, jangan lupa pulang kesini awas kalo nggak pulang Mami coret dari KK kamu" .


"Iya mi".


"Jaga diri baik-baik bang" ucap Adi pada putra semata wayangnya itu.


"Hati-hati kak Dara bakal usahain masuk Stanford" ucap Dara pada Al.


"Janji?" Al mengulurkan jari kelingkingnya pada Dara.


"Janji" ucap Dara.


Tak lama keberangkatan akan dimulai, Al berjalan dengan koper hitam yang ia seret menjauhi orang-orang yang menjadi alasan ia bahagia, papi, mami dan Dara.

__ADS_1


"Sampai jumpa Dara, aku harap kita dipertemukan lagi di negara berbeda dengan perasaan yang sama" doa Al dalam hati sebelum ia masuk kedalam pesawat.


__ADS_2