
Kringggg
Dara melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah saat ia melangkah kakinya sengaja dicekal oleh seseorang yang membuat dia tidak bisa menahan tubuhnya dan akhirnya.
Bukkk
Dara tersungkur tersandung kaki seseorang,
"Aduhh"ringisnya, kemudian dia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang membuat dia tersandung.
"Kak Dira " keget Dara ketika melihat Dira berdiri didepannya dengan bersedekap dada.
"Kenapa kaget liat gue??" Ucapnya sinis menatap wajah Dara. Dara hanya terdiam kemudian ia berdiri dihadapan Dira meskipun permukaan kulit lututnya sedikit robek sehingga meninggalkan cairan merah yang keluar dari dalam kulitnya.
"Kenapa diem?? Kehabisan kata-kata Lo!!" Ucapnya kemudian menarik tangan Dara untuk membuat Dara tersungkur untuk kedua kali tapi dengan cekatan Dara menepis kasar tangan Dira.
"Udah berani Lo ya sama gue" bentak Dira pada Dara.
"Emangnya gue pernah bilang takut sama Lo"ucap Dara tenang, ia tidak mau terbawa emosi saat meladeni saudara kembarnya ini.
"Lo yaa" ucap Dira sambil menunjuk-nunjuk wajah Dara dengan jari telunjuknya. Dara kemudian menepis kasar tangan Dira dari wajahnya.
"Nggak usah nunjuk-nunjuk gue" sarkas Dara.
"Gue cuman mau nunjukin pembunuh bang Andre yang sekarang ada didepan gue kenapa?" Ucapnya meremehkan Dara sambil bersedekap dada.
"Oh Lo bilang gue yang ngebunuh bang Andre, bukannya kebalik ya Andira Khairani Wilson saudara kembar gue, seinget gue dulu Lo yang buat bang Andre kecelakaan sampe dia ninggal dan dengan enaknya Lo bilang semua karena gue, omaygatt ampunillah dosa Dira ya tuhan jangan hukum dia sebelum dia sadar akan perbuatannya" ucap Dara tegas dengan nada meremehkan.
"Lo yaa" Dira yang naik pitam dengan ucapan Dara yang menohok dirinya kemudian hendak melayangkan tamparan kewajah mulus Dara, saat tangannya berada diatas wajah Dara. Dara dengan sigap mencekal lagi tangan Dira dan tanpa di sadari.
Bukkk
"Aaawwww" ringis Dira,
"Diraaaa" ucap Raffa kemudian berlari kearah lapangan melihat Dira yang tersungkur ketanah atas perbuatannya Dara padahal tadi Dara hanya mencekal tangan Bukan sampai membuat Dira tersungkur.
"Lo apa-apaan sih? Berani sama Dira kalo Lo punya masalah selesaikan sama gue jangan sama Dira dia nggak salah" bentak Raffa setelah membantu Dira berdiri.
"Kamu nggak papa Dir?" Tanya Raffa yang khawatir dengan Dira.
Dara berdecih melihat kelakuan dua sejoli yang memuakan ini.
"Gue punya masalah sama Lo, nggak kebalik yaa?" Ucap Dara mencoba mengontrol emosinya menghadapi dua ciptaan tuhan yang menjijikan ini.
"Dan Lo bilang cewek Lo nggak ada masalah huhh dasar, gue bilangin sama Lo kalo punya otak sama mata dipake liat tuh cewek Lo benar-benar nggak dia hah" bentak Dara.
"Gue sih nggak peduli dengan kalian dasar ratu drama dan tukang selingkuh" ucap Dara kemudian melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah, kemudian masuk kedalam mobil SUV hitam yang telah berdiri didepan gerbang SMA Cakra Pelita.
✓✓✓✓
"Assalamualaikum Dara pulang" ucap Andara melangkahkan kaki memasuki kediaman keluarga Cakra.
"Waalaikumsallam salam sayang" ucap Lia menyambut kedatangan Dara. Tak lupa gadis itu mencium punggung tangan Lia dengan lembut.
"Gimana sekolah kamu sayang?" Tanya Lia kepada Dara sambil mengelus-elus Surai hitam Dara dengan sangat lembut.
"Baik kok mi sama kayak biasanya" .
"Oh syukurlah, ngomong-ngomong bentar lagi pendaftaran SNMPTN kan sebelum UN kamu udah gambaran belum mau masuk PTN mana? Atau mau masuk Univ luar?" Tanya Lia penasaran akan pilihan Univ yang akan Dara tuju.
"Em ga tau sih mi? Dara binggung tapi kata kak Al sih dia mau bantuin An untuk ngurus syarat masuk Univ luar" ucap Dara memandang wajah perempuan disampingnya ini.
"Emangnya kamu mau masuk mana sayang?" Tanya Lia lagi.
__ADS_1
"Rencananya sih kak Al ngajakin An masuk Stanford university mi"ujar Dara.
Mami tercengang, sungguh Dara sangat luar biasa Lia salut dengan Dara. Disaat anak muda seusianya kebanyakan malah malas-malasan dalam menuntut ilmu Dara berbeda dari mereka, gadis manis ini rela mendaftar di Stanford university disaat banyak PTN negeri favorit di Indonesia berharap Andara bergabung menjadi MaBa mereka. Tetapi Dara malah memilih univ luar.
"Mami bakal dukung kamu sayang. Apapun yang bakal kamu pilih semoga menjadi pilihan yang terbaik ya" ucap Lia menyemangati Dara.
"Makasih mi" ucap Dara kemudian memeluk mami Lia, ia pun juga membalas pelukan Dara sekaligus mengelus-ngelus lagi Surai hitam Dara.
"Udah kamu ganti baju dulu ya, terus turun makan kebawah Bik Jum udah masakin makanan, Mami harus pergi dulu soalnya ada urusan" perintah Lia pada Dara.
"Asiyaapp Mi, Dara kekamar dulu ya" ucap Dara kemudian berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
...........
Suara dentingan sendok garpu mewarnai acara makan malam keluarga Cakra. Disini telah duduk Adi Cakra di kepala meja dan Lia di sebelah kanan Adi, dan didepan Lia duduk Al dan juga disebelah Al duduk Dara.
"Gimana sekolah kamu Dar?" Tanya Adi pada Dara yang asik membelah daging ayam dengan pisau steak.
Darapun menoleh menatap diempu pemilik suara itu dan tersenyum seraya berkata.
"Baik kok Pi" ucapnya.
"Kalo kamu Al udah ngurus beasiswanya?" Adi memastikan putranya yang akan menempuh pendidikan S2.
"Udah kok Pi, bulan depan Al berangkat ke California" tuturnya.
"Bagus deh mami ikut senang" Lia menipali perkataan Al.
"Kalo kamu Dar ikut jejak Al kan?" Adi memastikan ucapan Lia sore tadi.
"Insyallah iya Pi".
"Oke nanti biar Al yang bakal bantuin Dara nulis esay sama memo latter trus nemenin kamu tes TOEFL dan sejenisnya untuk syarat utama" ucap Al memberi saran pada Dara. Dara mengangguk senang akhirnya Ia ada yang membantu mengurus semua syarat yang akan dia tempuh untuk masuk Stanford.
"Siap mi".
"Em papi mau ngomong serius sama kalian" karena instruksi papi semua orang yang berada diruang makan itu fokus ke papi saja.
"Ada apa Pi?" Al menaikan alisnya binggung dengan ucapan papi yang ingin berbicara serius pada mereka.
"Papi lihat belakangan ini kalian semakin akrab, dan yang papi tangkap kalian mulai ada tumbuh rasa. Disini papi pingin bilang kalo kalian lebih baik tunangan saja karena biar Dara ada yang jaga".
Deg
Deg
'tunangan' satu kata yang terlintas di otak Dara mendengar kalimat demi kalimat yang di utarakan oleh Adi.
"Kamu mau kan sayang" panggil Lia membuyarkan lamunan Dara seketika.
Dara menatap wajah Lia yang sangat berharap agar Dara mau menerima usulan dari papi tapi disatu sisi Dara binggung harus bagaimana? Jujur memang selama berada dirumah sakit dan disini ia selalu nyaman dengan semua perlakuan yang Al berikan padanya. Tapi disatu sisi ia bimbang apakah ia sudah dapat menerima orang baru dalam hatinya disaat hatinya sedang sehancur-hancurnya. Sungguh Dara tidak tega terhadap mami Lia yang sangat berharap agar Ia bertunangan dengan putra semata wayangnya, namun apakah Dara sanggup disaat ia takut karena nanti hanya menjadikan Al hanya pelampiasannya saja?.
"Gimana Dar?" Tanya Adi memastikan jawaban Dara.
"Pa nanti aja kenapa bahas itu sebentar lagi kan Dara akan menghadapi UN dan juga Dara harus control ke____" belum sempat ia melanjutkan ucapannya Dara memotongnya.
"Dara terima kok Pi" ucap Dara mantap.
"Makasih sayang" ucap Lia tersenyum dan tak lupa menitikan air mata haru kepada Dara.
"Dara" panggil Al.
"Kita harus bicara" lanjutnya kemudian Al menarik Andara menuju taman belakang Mansion keluarganya. Adi dan Lia menatap kepergian mereka, mereka berdua memaklumi putra putri mereka itu mungkin mereka butuh privasi.
__ADS_1
"Putra kita sudah besar ya Pi" ucap Lia menatap kepergian putranya.
"Iya sayang" tutur Adi.
✓✓✓✓
Cuaca kota Jakarta saat ini sangat sejuk. Dara duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu dan depan mereka terdapat kolam yang airnya mengkilat karena menerima pantulan dari sinar rembulan itu.
"Kenapa lo mau?" Ucap Al memulai obrolan mereka.
Dara menoleh kearah pria yang mengenakan kaos putih dengan celana selutut berwarna cream.
"Mau apa?" Ucap Dara seolah - olah tidak mengerti arah pembicaraan yang dimaksud Al.
"Andara gue yakin Lo tau" lanjutnya lagi.
"Kenapa? Bukannya lo memang pengen lebih dari pada temen apa salahnya kalo gue terima" ucap Dara menatap intens wajah Al .
"Gue memang pengen Dar tapi gue nggak bisa maksain kehendak gue, gue tau Lo masih cinta sama Raffa gue juga tau jika ini bakal dilanjutin Lo bakal nggak pernah cinta sama gue" lirihnya kemudian membuang pandangannya kini ia menatap air kolam yang mengkilap itu.
Dara mengambil tangan Al dan menimpanya dengan tangannya kemudian berkata,"Lo tau kan ada pepatah yang bilang kalo cinta bisa datang karena terbiasa? Gue tau mungkin saat ini hati gue belum nentuin pilihan siapa orang yang bakal gue izinin berlabuh kehati gue, karena gue nggak mau stuck sama orang yang jelas-jelas udah ngancurin kepercayaan gue".
"Gue nyaman sama Lo, nyaman dengan semua perlakuan dan perhatian yang tulus pada gue. Gue juga nggak menampik kalo gue ingin lebih dari temenan, tapi gue masih binggung dengan hati gue, jadi tolong Al ajarin hati gue gimana caranya nerima Lo biar bisa menetap dihari gue, bukan hanya singgah" ucapnya panjang lebar.
Al menarik tubuh Dara dan memeluknya erat-erat, ia sangat bersyukur akhirnya penantiannya selama beberapa tahun yang lalu terbalaskan, Andara Chairunnissa Wilson akhirnya membalas cintanya.
"Makasih Dar" ucapnya memeluk Andara semakin kuat.
"S_e_s_e_k tauk" kata Dara mencoba melepaskan pelukan Al.
Mendengar ucapannya Dara sontak Al melepas pelukan mereka.
"Hehehe maaf abisnya gue kesenangan sih" Al menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
"Boleh seneng tapi jangan buat mati tauk" dumel Dara pada Al.
"Hehehe maafin ya Dar" ucapnya memohon.
"Gue nggak mau" kata dara kemudian membuang muka kepada Al.
"Aduh An maafin gue dong, gue janji bakal ngelakuin apa yang Lo suruh deh" ucapnya lagi.
"Serius" Dara sumringah mendegar kalimat terakhirnya.
"Iya deh" lanjut Al pasrah.
"Oke, besok Lo harus beliin gue eskrim sama kita ke mall maen trampolin nggak ada penolakan" ucap Dara tegas.
"Cuman itu aja nyonya Alfian Cakra?" Tanyanya lagi.
"Ya nggak lah rugi gue kalo cuman dua, ntar yang lain gue belum kepikiran" kata Dara.
"Oke siap apapun permintaan Lo gue usahanya buat nurutin semuanya".
"Gitu dong jadi makin sayang kan sama Lo".
Cup
Dara mencium pipi kiri Al membuat empunya terpelonjak kaget.
"Jangan lupa Bawa duit banyak-banyak besok" teriak Dara kemudian berlari masuk kedalam sebelum Al menyadari yang barusan terjadi tadi.
'Gue di cium' batin Al memegang pipi kirinya.
__ADS_1