Ruang Kisah

Ruang Kisah
Bagian 3 Kesakitan Andara


__ADS_3

Sudah 2 Minggu sejak kejadian dimana Dara diperlakukan layaknya pembantu oleh keluarganya sendiri. Sebenarnya memang dari dulu Dara diperlakukan seperti itu oleh keluarganya, jujur Dara tidak bisa menolak akan perlakuan mereka. Ia juga tau jika keluarganya sangat membenci dan sebenarnya mereka ingin Dara sendiri yang angkat kaki dari mansion itu tapi Dara tau tabungannya belum cukup untuk pindah karena selama 7 tahun ia tidak pernah mendapat uang saku ataupun dibiayai kebutuhannya oleh kedua orang tuanya, mereka mengganggap Dara seperti orang asing disana.


Mereka sering menyiksa Dara ketika ia melakukan kesalahan sedikit saja ataupun kakak kandungnya yang sengaja  melakukan kesalahan dan mengkambing hitamkannya sebagai pelaku, kejadian itu terus berulang tetapi dalam bentuk yang berbeda. Dara yang selalu menerima semua perlakuan buruk keluarganya hanya bisa tersenyum dan berkata it's okay i am fine, padahal dalam hatinya ia begitu rapuh dan penyakit yang diidapnya semakin meyakinkan argumen keluarganya bahwa mereka sangat menginginkan Dara mati.


Dara duduk di taman belakang SMA Cakra Pelita, gadis berhodie Gray itu memutar sebuah lagu di ponsel yang ia beli dari hasil mengajar bimbel di sebuah lembaga kursus. Dara merupakan gadis yang pintar kerena banyak sekali penghargaan yang gadis itu peroleh saat mewakili sekolahnya, gadis yang bercita-cita menjadi seorang dokter itu dan melanjutkan studinya di Stanford university hanya bisa tersenyum dan selalu mengatakan it's okay i am fine di balik senyum palsu yang mencerminkan bahwa dirinya sangat lelah menghadapi cobaan hidup ini.


Dara menatap lurus ke depan melihat daun-daun pohon Ketapang yang berwarna kuning ke cokelatan itu berjatuhan ke lantai. Sudah seminggu semenjak kejadian itu hubungan Dara dan Raffa kian menjauh tepatnya semenjak kedatangan Dira yang pindah di sekolahnya Raffa jadi semakin jauh dari Dara, dan ada fakta yang Dara baru tau, jika kekasihnya saat ini adalah mantan pacar kakak perempuannya Andira Khairani Wilson.


Seakan menjadi Boomerang yang sangat Dara takutkan dan benar Raffa sekarang lebih mementingkan Dira dari pada ia padahal Raffa tau jika Dara membutuhkannya tapi apa nyatanya Raffa lebih memilih Dira dari pada dirinya seperti kejadian tadi saat Dara meminta Raffa untuk menemani dirinya disini dan jawaban Raffa " sorry aku nggak bisa Dar soalnya Dira minta aku buat temenin dia makan di kantin" ucap Raffa tanpa sedikitpun mengerti perasaan Dara. Dara kekasihnya yang sudah satu tahun bersama mengukir kisah indah berdua tapi pada kenyataannya Raffa lebih memprioritaskan Dira kakaknya yang notabennya hanya mantan pacar.


Lagi-lagi Dara tersenyum kecut menatapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Dibenci oleh keluarganya karena di tuduh membunuh tanpa papa dan mamanya mendengarkan penjelasan Dara terlebih dahulu. Ia kembali mengingat semua kejadian pilu yang menimpa dirinya.


Flashback on


Seorang gadis kecil yang berumur 10 tahun menangis sengugukann taman depan rumah karena mainannya diambil oleh saudara kembarnya Dira. Padahal Dira juga memiliki mainan yang sama dengan miliknya tatapi dia ingin semua mainan hanya dia yang boleh memilikinya. Merasa kesal karena Dara tidak berhenti menangis Dira melempar boneka itu kejalanan depan rumah mereka. " Ara jangan nangis dek biar Abang aja yang ngambilin boneka Ara ya" ucap Andre Abang mereka tak lama Andre berjalan kedepan menuju jalanan depan rumah mereka saat Andre hendak berbalik sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang dan brukkk mobil hitam itu menabrak Andre di depan mata Dara.


Tubuh abangnya terpental dan mengeluarkan cairan berwarna merah pekat dengan tubuh tergeletak masih memegang boneka Nemo miliknya.


Semua orang di dalam rumah itu berlari keluar papa dan mama melihat tubuh putranya terbaring diaspal hitam itu hanya bisa berteriak meminta pelayan mereka membawa Andre menuju rumah sakit terdekat untuk mendapat penangangan namun takdir berkata lain Andre dinyatakan meninggal dunia saat menjalani operasi darurat semua orang syock mendengar kabar kematian Andre begitupun dengan Dara kejadian dimana Andre mengambil bonekanya dengan senyuman itu hilang seketika . Saat itu semua orang menuduh Daralah yang membunuh Andre ditambah argumen-argumen yang menjelaskan bahwa dilokasi kejadian hanya ada Dara semakin memperkuat rasa benci papa dan mama padanya.


Mereka kehilangan pewaris keluarga dan satu-satunya putra dalam silsilah keluarga Wilson kerena adik Ridwan Reno belum menikah.


Kejadian itu sangat memukul Ridwan dan Alin mereka bersumpah akan selalu membenci orang yang membunuh putra mereka dan orang itu adalah Dara Putri bungsu mereka sendiri.


Flashback off


Air mata itu kembali jatuh air mata yang melambangkan betapa banyak rasa sakit yang selama ini dia pendam. Dara bukan gadis kuat ia juga bisa menagis karena ia hanya manusia biasa ia tidak menginginkan hidup seperti ini disaat ia semua anak seusianya mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dara tumbuh remaja tanpa semua itu.


Tetapi ia tidak bisa memaksa karena bukan ia yang menulis kisah ini, bukan dia yang ingin ini terjadi, bukan ini yang dia harapkan dan, dia hanya pemeran dalam skenario yang Tuhan buat untuknya, dia hanya perlu menjalankan baik happy atau sad ending dia hanya perlu melakoni perannya.


Setelah selesai dengan kesunyian yang ia rasakan gadis cantik bersurai hitam itu melangkahkan kaki meninggalkan taman belakang. Saat ia hendak meninggalkan taman itu samar-samar ia mendengar suara desahan seseorang karena rasa penasaran ia mendekati sumber suara.

__ADS_1


Dara menyibakkan gordeng berwarna pink di jendela ruang yang terbuka dengan hati-hati untuk memastikan siapa didalam laboratorium bahasa itu betapa terkejut ia melihat kejadian yang tak ingin dia lihat.


Dimana Raffa tengah mencium Dira saudara kembarnya dengan penuh nafsu dan Dira meladeni ciuman demi ciuman yang diberikan Raffa padannya.


"Gimana kalo dara ngelihat kita Raffa" ucap Dira berpura-pura khawatir padahal ia tahu jika saat ini Andara melihat kejadian ini.


" Dara nggak bakal tau soalnya jam segini dia lagi belajar diperpus" ucap Raffa kemudian tangannya mengelap air liur yang menempel di bibir ranum Dira.


"Makasih dir, bibir mu masih sama kayak 2 tahun lalu" ucap Raffa kemudian memeluk Dira dengan mesra.


Dara menangis dia berlari menjauhi dua orang terkutuk itu. Di benci, dikhianati dan penyakitan begitu lengkap penderitaan yang ia alami saat ini.


"Tuhan kenapa harus Dara yang ngalamin semua ini, kenapa tuhan" ucapnya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Raffa orang yang sangat ia cintai lelaki yang membuatnya mampu bertahan dan menjadi penopang ia ketika jatuh, laki-laki yang selalu ada ketika ia rapuh, dia yang selalu melindungi Dara dari apapun yang terjadi, dia yang selalu ada saat Dara mengalami titik terendah, dia yang membuat Dara percaya bahwa masih ada cinta yang terukir untuk dirinya.


Raffa yang menjadi alasan Dara untuk mampu bertahan sampai detik ini. Dan sekarang apa semua harus hancur disaat Dira datang dan kembali lagi mengambil semua yang Dara miliki?.


Sudah seminggu sejak kejadian laboratorium itu dan sejak hari itu Raffa tak pernah mengspami dirinya dengan telpon ataupun pesan melalui aplikasi hijau. Seolah-olah hilang di telan bumi.


Raffa tak pernah ada untuknya disekolah pun Raffa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Dira dan ketika pulang sekolah ia selalu mengantar Dira pulang padahal Raffa tau jika Dira merupakan saudara kembar Dara tapi ia tidak peduli akan itu mungkin karena Dira merupakan first lovenya sehingga sangat sulit melupakan Dira dari hidupnya. Dara juga tahu jika Raffa lebih lama berpacaran dengan Dira dibanding dia sehingga kemungkinan itu membuat Raffa lebih nyaman dengan Dira dan melupakan dirinya.


Pukul 17.00 wib gadis bersurai hitam itu duduk di sebuah bangku cafe Season yang menjadi saksi dimana Raffa mengutarakan perasaannya satu tahun lalu saat mereka belajar bersama untuk persiapan OSN. Sore ini ia memang akan bertemu dengan Raffa membicarakan soal kelanjutan hubungannya tapi sudah satu jam berlalu Raffa belum menampakan batang hidungnya padahal dia sudah berjanji akan datang kesini.


"Sorry telat" ucap Raffa kemudian mengambil posisi duduk dihadapan gadisnya, Dara mengangguk menjawab ucapan Raffa.


"Mau pesan apa?" Tawarnya membukanya obrolan.


"Nggak usah gue lagi buru-buru soalnya Dira udah nungguin gue di mobil" ucap Raffa tanpa merasa bersalah pada Dara.


Bisa- bisanya ia menyebut nama gadis lain di hadapan kekasihnya meskipun nama itu sudah sering ia dengar tapi kenapa nama itu selalu membuat hatinya terasa tertusuk- tusuk belati?.

__ADS_1


Dan Raffa juga sudah Mengganti panggilan aku kamu menjadi Lo gue sama seperti saat mereka belum memiliki status.


"Oke kalo kamu memang mau buru-buru aku langsung to the point aja" ucap Dara.


"Gimana soal kelanjutan hubungan kita raf?" Raffa menoleh dari kegiatannya membalas pesan dari Dira kemudian menatap wajah gadisnya.


"Maksudnya?" Ucap Raffa heran dengan pertanyaan Dara.


"Kamu nggak ngerti? Oke biar aku jelasin mungkin kamu nggak ngerasa Raffa ataupun nggak peduli dengan semua ini. Aku juga tau kamu mungkin sekarang lebih memilih kak Dira dari pada aku, aku tau Raffa aku tau semua, aku bukan gadis bodoh yang cuma diam saat kekasihnya lebih memilih memprioritaskan gadis lain dan dengan mudahnya ia selalu membicarakan nama gadis itu depan kekasihnya".


"Saat kamu bilang kamu dan kak Dira cuman sebatas mantan kekasih aku seolah-olah meragukan itu raf, aku tau kamu masih ada rasa dengan dia" ucap Dara dengan air mata tak sengaja mengalir disaat ia mengungkapkan semua isi hati yang ia pendam.


"Waktu itu aku lihat kamu,----" Dara menarik napas panjang,  kenapa sulit sekali membahas kejadian seminggu lalu yang mengganjal hatinya kenapa lidahnya kelu saat mengatakan bahwa ia melihat adegan menjijikan yang jujur tak ingin ia lihat.


"Ka-m-u ber C-i-u-m-a-n dengan kak Dira aku lihat semua nya raf" ucap Dara dengan terisak.


"Hikss hikss salah apa aku sama kamu raf, kenapa kamu tega khianatin cinta kita hikss hikss" ucap Dara dengan suara bergetar.


Raffa menatap Dara tanpa merasa bersalah sedikitpun ia tidak peduli dengan Dara dan apa yang Dara rasakan, dulu ia memang mencintai Dara tapi kenapa ia tidak bisa melupakan kenangan yang sudah ia lukisan dengan Dira kakak Dara sendiri. Saat Dira meninggalkan dirinya tanpa kabar dan kali ini Dira kembali satu sekolah dengannya entah kenapa perasaan kepada Dira muncul kembali disaat dia sudah jelas memiliki status dengan Dara adik Dira sendiri.


Namun perlahan ia sadar bahwa ia tidak mencintai Dara dia memacari Dara hanya karena ingin membalas perasaan Dara dan perbuatan baik yang pernah Dara lakukan untuk bundanya saat Dara menyelamatkan bunda yang hampir ditabrak mobil.


Dara yang saat itu sangat tulus menyelamatkan bunda dan Dara yang rela memberikan sepatu sekolahnya pada ibu-ibu yang berjalan tanpa alas kaki, saat itu ia sadar bahwa Dara merupakan gadis yang berakhlak baik tapi lagi-lagi dia hanya menyukai Dara karena ketulusannya bukan karena ia rasa cinta.


"Terus kalo Lo tau sekarang !!! mau Lo apa?" Ucap raffa menatap sinis kearah Dara yang tengah terisak.


"Aku mau kita putus" kata Dara final dengan air mata berderai membasahi pipi putihnya.


"Oke kalo Lo mau itu. Gue bakal kabulkan asal Lo tau gue udah jadian sama Dira 2 Minggu yang lalu" ucap Raffa kemudian pergi meninggalkan cafe Season yang tengah di guyur hujan.


Dara menangis menatap kearah jendela transparan di hadapannya. Hal yang paling ia benci saat ini berada di titik terbawah semua orang yang menjadi alasan dirinya bertahan di dunia yang memuakkan ini lambat laun menghilang dan justru malah membencinya. "Oh tuhan bisakah takdir baik berpihak padaku sekali saja, bisakah aku tersenyum tanpa kepalsuan sedikitpun. Tuhan kenapa sakit ... Kenapa tuhan????" Ucap Dara bermonolog.

__ADS_1


__ADS_2