Ruang Kisah

Ruang Kisah
Bagian 2 Ketahuan


__ADS_3

Nyatanya rasa sakit di tubuh tak sebanding rasa sakit yang kalian torehkan padaku


-AndaraCw


Dara melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Saat ia sampai di ruang keluarga ia melihat kejadian yang sangat ingin dia rasakan dimana papa, mama dan saudari kembarnya Dira duduk sambil bercengkrama di depan layar plasma besar itu. Hal sederhana yang selalu menjadi mimpi tetapi pada kenyataannya tidak akan bisa terjadi.


"Assalamualaikum.... Dara pulang" ucap Dara menyapa semua orang yang ada di ruang keluarga. Semua orang di ruangan itu menoleh kearah Dara sesaat, kemudian memalingkan wajah lagi karena mendengarkan lanjutan cerita Dira.


Dara dan Dira merupakan saudara kembar tak indentik dimana Dira lebih dulu lahir 5 menit dari pada Dara sehingga Dira adalah kakak Dara.


"Mulai besok kamu harus menggantikan semua tugas bik Ijah karena dia pulang kampung" ucap Alin mama Dara padanya tanpa menoleh kearah Dara.


"Kok Dara ma?" Ucap Dara bertanya kepada mamanya, kenapa harus dia yang mengantikan semua tugas bik Ijah bukankah keluarganya memiliki asisten rumah tangga yang cukup banyak untuk menyelesaikan tugas rumah.


"Karena kamu memang pantas P. E. M


B. A. N. T. U" Dira menjawab pertanyaan Dara dengan menekan kata pembantu. Dara terdiam mendengar kalimat Dira yang sangat menyinggungnya.


"Kerjakan saja tugas mu. Mulai sekarang kau yang menggantikan tugas Ijah, jika kau menolak saya tidak segan-segan menyuruh kamu untuk angkat kaki dari rumah saya dasar anak sialan" ucap Ridwan papa Dara.


Dara hanya bisa tersenyum kemudian mengangguk dan pergi dari hadapan mereka, tanpa disadari cairan bening kembali menetes membasahi pipinya.


Air mata yang selalu jatuh dirumah ini, sungguh Dara sangat benci menangis tetapi apa daya ia bukannya superhero yang kuat dan ia bukan gadis yang bisa selalu tersenyum tanpa beban, dia hanya Dara si gadis lemah dengan penyakit kanker otak stadium 2 awal yang sedang berusaha tegar menerima cobaan yang datang kepadanya.


"Apa jika aku mati mereka bakal bahagia?" Batin Dara, kemudian ia berjalan menuju dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan mamanya.


Dara menyiapkan makan malam tanpa terlebih dahulu mengganti seragam sekolahnya. Tak lama setelah ia menata makanan Papa, mama dan kakak perempuannya Dira datang kemudian duduk di meja makan kayu ukiran Jepara itu.


Dara yang hendak duduk di hadapan Dira  kemudian menghentikan langkahnya karena mendengar sebuah seruan "siapa yang nyuruh kamu duduk?" Tanya Ridwan pada Dara.

__ADS_1


"Kenapa pa?" Tanyanya heran atas pertanyaan papanya.


"Kamu bukan bagian dari keluarga ini, dan seharusnya kamu makan di dapur karena tempat mu memang disana" ucap Ridwan kali ini tanpa menatap wajah Dara.


"Sana pergi" usir Alin pada Dara. Dara pergi dari hadapan mereka menuju dapur untuk makan malam.


Tiba-tiba kepalanya tiba-tiba terasa sakit, kanker itu kembali berereaksi dia memegang kepalanya yang terasa amat sakit dan berdenyut-denyut  dengan tangan kiri bertumpu pada meja pantry agar Ia tidak jatuh. Dara menangis lagi tangisan kedua hari ini, tangis yang melambangkan betapa lemah dirinya dan betapa sakit dirinya. Dia berjongkok disebelah rak piring dengan memijit-mijit dahinya agar rasa sakit itu berkurang tapi nihil rasa sakit itu kian bertambah tak lama Dara jatuh dan tak sadarkan diri.


Dara membuka matanya menyesuaikan cahaya yang perlahan-lahan memasuki retina mata cokelat itu 'kamar' satu kata yang ia lihat saat pertama kali membuka mata ketika kesadarannya telah pulih.


"Kenapa aku gue disini?" Monolog ia, seinggatnya ia pingsan tak sadarkan diri di dapur dan kenapa dia bisa ada disini?.


Krekkk


Pintu kamar terbuka seorang wanita paruh baya dengan wajah sekitar umur 45 an berjalan menuju dirinya yang terbaring lemah di ranjang dan berbalut selimut kartun kesukaannya.


"Non udah mendingan?" Ucap perempuan itu mengambil posisi duduk di kursi yang terletak di samping ranjangnya.


"Mbok Sum yang bawa Dara ke kamar?"


"Nggak Non, bibi nggak kuat ngangkat non Dara, soalnya Non kan berat" ucapnya asal-asalan.


"Ah bibik bisa aja, Dara nggak gendut amat kok berisi gini" ucap Dara kemudian dia mengambil ponselnya melihat apakah ada notifikasi pesan masuk di ponselnya.


Ternyata Raffa menelpon dia beberapa kali, terbukti dari beberapa buah panggilan tak terjawab di aplikasi hijau miliknya. Ia melirik jam di nakas. Pukul 21.00 wib terakhir dia melirik jam di nakas dapur masih pukul 19.05 wib berarti dia sudah tertidur sekitar 2 jam lebih wajar Raffa menelponnya.


"Trus siapa yang ngangkat dara ke kamar Mbok? Tanya Dara dengan tatapan dan tangan menekankan layar ponselnya.


Hikss hikss

__ADS_1


Dara menoleh kearah suara tangis, Mbok Sum menangis dengan tersedu-sedu, Dara menghentikan aktifitasnya melihat ponsel, ia menatap Mbok Sum dengan rasa penasaran, kemudian Ia merengkuh tubuh Mbok Sum menenangkan Mbok Sum agar tidak semakin terisak.


"Mbok ada apa cerita sama Dara?" Tanyanya lembut masih dalam mendekap Mbok Sum.


"Hikss hikss non Dara kenapa nggak bilang ke Mbok kalau non sakit"ucapnya menatap gadis didepannya dengan perasaan pilu.


Ia sangat tau Dara, dia gadis yang sangat baik, ceria, selalu tersenyum, cerewet dan suka bercerita. Dara gadis pintar dan intelektual, ramah dan penyayang. Ia sangat tahu Dara karena ia sudah lama berkerja di rumah ini tepatnya dari Dara masih duduk di bangku kanak-kanak.


Bagaikan de javu Dara menelan salivanya dengan gusar kenapa harus secepat ini?. Bagaimana Mbok Sum tau jika dia di vonis kanker atau jangan-jangan mbok Sum membuka almari Dara kerena gadis itu kini telah mengati seragamnya dengan piyama ikan Nemo kesukaannya dan menemukan surat hasil tes yang mengatakan jika dia mengidap penyakit tumor ganas pada otaknya?.


"Kok mbok bisa tau?" Ucap Dara penasaran.


"Non nggak perlu tau. Mbok sedih liat Non Dara kayak gini, kenapa Non nggak cerita sama Mbok kalo Non sakit?" Lirihnya.


"Maafin Dara buat Mbok jadi khawatir, Dara cuman nggak mau orang tau aja kalo Dara penyakitan  Mbok, percuma juga Dara bilang kalo Dara sakit nggak bakal ada yang peduliin Dara Mbok, malahan mereka semuakan pengen Dara mati" ucap Dara lagi dan lagi kembali terisak. Ia teringat akan perkataan papanya waktu itu.


"Lebih baik kamu mati saja dasar anak tak tahu diri, dasar anak tak tau diuntung, kamu seharusnya bersyukur saya masih mau mengizinkan kamu tinggal dengan kami meskipun kamu sudah menjadi pembunuh saudaramu sendiri. Lebih baik kamu musnah dari dunia ini" ucap Ridwan di beberapa hari setelah kematian abangnya dan hari itu merupakan hari dimana Dara di pukuli habis-habisan oleh papanya.


"Non Dara jangan ngomong gitu non . Mbok, mang Ujang, Bik Ijah kami semua sayang sama Non Dara, Non orang baik mana mungkin kami tidak peduli dengan Non"


"Makasih bik. Kalian masih sayang sama Dara" ucapnya memeluk lagi Mbok Sum.


"Dara di vonis kanker otak stadium 2 awal mbok, dulu Dara nggak tau kalo Dara sakit. Waktu itu Dara ngerasain sakit kepala luar biasa dan membuat Dara masuk RS, pas diambil sampel darah Dara terbukti terkena kanker dan itu udah mau jalan 2 bulan" ucap dara meningat-ngingat kejadian itu.


"Astagfirullah kok bisa Non mendem itu sendiri, trus Non udah pernah melakukan pengobatan atau Kemoterapi?" Tanyanya dan Dara hanya menggeleng .


"Mbok tau kan kalo Kemoterapi itu mahal, lebih baik uangnya Dara tabung untuk membantu anak panti" ucap Dara.


"Maafkan Mbok Non nggak bisa bantu Non Dara karena keterbatasan ekonomi" lirihnya.

__ADS_1


Dara memeluk Mbok Sum yang telah Ia anggap sebagai mamanya sendiri wanita yang selalu ada disaat mamanya sendiri amat membencinya.


"Mbok nggak perlu bantu Dara cukup ada disamping Dara dan temani Dara itu udah lebih dari cukup kok" Dara kemudian mengeratkan pelukan pada Mbok Sum. Seolah-olah Mbok Sum dapat menjadi penyalur rasa sakit yang Dara alami sekarang.


__ADS_2