Ruang Kisah

Ruang Kisah
Bagian 6 Keluarga Baru


__ADS_3

Seminggu telah berlalu Dara menghabiskan waktu selama seminggu ini berada dirumah sakit ditemani dengan Al yang tak pernah sedikitpun pergi dari sisinya, ternyata ada satu fakta yang ia baru tahu jika Alfian Adi Jaya Cakra merupakan anak pemilik yayasan tempat Ia menimbah ilmu yaitu SMA Cakra Pelita, Ia tahu saat ketua yayasan yang notabene Ibu dari Al datang mengunjungi Dara 3 hari lalu saat Dara baru selesai menjalankan Kemotrapi.


Dara melakukan Kemoterapi atas permintaan Al karena Al sangat berharap agar kondisi Dara cepat membaik dan menurut saran dokter Dara harus melakukan Kemoterapi sejenis (CVI) Terapi Intervensi Mikrovaskular untuk memberantas sel-sel kanker atau tumor terus tumbuh abnormal di escephalonnya. Setelah melakukan terapi itu tubuh Dara langsung mengalami reaksi seperti  kehilangan nafsu makan dan mual serta muntah-muntah akibat dari berbagai jenis obat-obatan yang dimasukan kedalam tubuhnya.


Meskipun kondisi Dara drop Al tetap


setia menemani Dara, seperti saat Ia muntah karena reaksi kemo Al dengan sigapnya menepuk-nepuk punggung belakang Andara di WC.


Dan pada saat suhu tubuh Dara naik Ia dengan sigap mengompres kening


Dara dan membaluri minyak angin ke tubuh Dara. Dara sangat bersyukur Al datang saat ia mengalami masa terpuruknya tapi disatu sisi ia takut jika Al juga akan seperti Raffa meninggalkan dirinya tanpa menjelaskan kepadanya terkait apa yang Ia lihat meskipun bukti itu sudah cukup jelas menjadi kado perpisahan mereka, dan menjadi akhir cerita cinta yang telah mereka jalin waktu kelas 2 SMA.


Hari ini tepatnya 14 hari Andara menikmati waktunya di rumah sakit Cakra Pelita milik keluarga Al. Dan selama itu Al senantiasa selalu disisinya, menemani Ia tanpa rasa bosan, dan hari ini Dara diizinkan pulang oleh dokter setelah melihat grafik peningkatan kesehatannya.


Al memang menyuruh Dara untuk tinggal dirumahnya bersama papi dan mami. Semua itu juga atas persetujuan dan saran dari kedua orang tua Al mereka tidak ingin membiarkan Andara menginjakan kaki kerumah itu lagi, rumah yang hanya bisa memberi luka kepada gadis itu, rumah yang selalu menjadi cerita pahit dan rumah yang selalu menimbulkan rasa sakit yang terus bertambah.


Mereka tidak habis pikir, orang tua mana yang setega itu dengan buah hati mereka sendiri, papi Al tidak terima Dara diperlakukan seperti itu pernah Ia hendak melaporkan kejadian yang menimpa Andara ini ke kepolisian.  Namun dengan penuh permohonan Andara meminta agar keluarganya tidak dilaporkan, ketika ditanya mengapa Andara menjawab "Dara sayang mereka semua om, dan Dara juga udah maafin mereka karena Tuhan aja selalu maafin kesalahan hambanya meskipun hambanya selalu melupakan Ia, masa Dara yang hanya manusia biasa yang derajatnya di bawah Tuhan nggak bisa maafin mereka sedangkan tuhan yang ciptain mereka aja Maha pemaaf" ucap gadis itu beberapa hari lalu.


Atas jawaban yang ia terima dari Dara hati Adi terenyuh sungguh baik gadis itu.


Wajar saja putra semata wayangnya Alfian sangat menggilai gadisnya.


Ia tahu Al menyukai Andara karena suatu hari tak sengaja Adi masuk kedalam kamar Al, karena  Ia ingin membangunkan putranya agar jogging bersama tetapi Ia melihat putranya tertidur dengan memeluk guling dan ditangan kanannya memegang ponsel yang layarnya masih hidup Ia melihat Al menstalkeri foto-foto Andara di Instagram .


"Udah jadi bucinn anak papi sekarang" batinnya kemudian keluar dari kamar putra semata wayangnya.

__ADS_1


Dara melangkahkan kaki menuju teras rumah berwarna silver itu dengan 2 pilar besar yang menjadi penyangga atap depan rumah dengan fondasi. Gadis itu berjalan dengan sebuah tangan kokoh mengamit lengannya kemudian menuntun Ia berjalan memasuki rumah minimalis dengan gaya Eropa kekinian itu.


Setiap melangkah pandangan Dara tidak henti-hentinya menatapi arsitektur rumah itu seolah-olah rumah itu merupakan istana keluarga ratu Elizabeth dengan gaya Eropa yang dimodifikasi dengan gaya kekinian.


"Selamat datang sayang" ucap wanita paruh baya yang memakai dress selutut, rambut dibiarkan tergerai yang menambah kesan elegan padanya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat berkelas dan modis hampir bisa dibilang sebelas dua belas dengan ABG zaman now sepertinya.


Wanita yang menyambut Dara di depan pintu utama itu adalah ketua yayasan tempat Dara menuntut ilmu dan wanita itu bernama Berlia Cakra atau biasa dipanggil Ibu Lia.


"Makasih Bu" ucap Dara malu karena ia tau tak sepantasnya ia disambut oleh Ibu yang merupakan istri dari pemilik yayasan SMAnya.


"Jangan panggil Ibu dong, panggil Mami aja kayak Al manggil Mami" ucap perempuan itu kemudian memeluk Dara sangat lembut, Dara membalas pelukan ibu Lia juga, setalah sekian lama akhirnya Dara bisa merasakan kembali dipeluk seorang wanita yang sering dipanggil Ibu meskipun Ibu Lia bukan Ibu kandung Dara tatapi gadis itu sangat senang seolah-olah ia kembali memiliki ibu sama seperti 7 tahun yang lalu.


"Em iya mi"ucap Dara malu-malu.


"Iya Mi nggak papa kok" ucap Dara kemudian tangannya kembali dipegang Al untuk membantu Dara berjalan.


"Bang anterin Daranya jangan di tinggalin, kalo Abang mau kekantor ngomong ke Bik Jum biar dia yang jagain, awas kalo nggak dilaksanankan perintah Mami, ntar Mami gorok baru tau rasa" ucap Lia kemudian berjalan menuju pintu utama.


"Asiayap Mami Ratu" teriak Al.


"Kejam banget dah sama anak sendiri" rutuk Al menatap Mami yang berjalan menjauhi dia dan Dara.


"Mami dengar yaa" teriak Lia kemudian pergi dari depan pintu utama.


Dara lagi-lagi tersenyum melihat keharmonisan keluarga ini dalam hati ia berandai-andai kapan keluarganya bisa seperti ini?.

__ADS_1


"Dar" suara itu membuyarkan lamunan Dara, gadis itu menoleh melihat pria berkaos putih polo dan dibalut celana jeans sebagai perpaduan bahan yang menutupi tubuhnya.


"Eh kenapa Al? " Ucapnya. Sebenarnya Dara sudah pernah mengubah panggil Al menjadi Kakak karena ia tahu perbedaan umur diantaranya.


Meskipun hanya berbeda 4 tahun tetapi namanya orang yang lebih tua harus dipanggil dengan panggilan yang sopan bukan?. Nyatanya Al tidak ingin diperlakukan seperti itu, Ia lebih nyaman Dara memangilnya dengan sebutan Lo dari pada Kakak atau Abang karena ia ingin Dara mengangapnya seperti teman atau sahabat yang lebih dari pada mengormatinya layaknya orang tua, karena sudah cukup Ia mendapatkan perlakuan hormat dari bawahan-bawahan perusahan yang ia pimpin.


"Gue anterin ke kamar biar Lo bisa rebahan, soalnya gue ada meeting mendadak nggak papakan?"


Dara mengangguk menjawab pertanyaan Al, kemudian Al membantu Dara berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua rumah ini.


Krekkk


Pintu kamar terbuka, kamar yang berwarna biru laut dipadupadankan dengan warna biru muda seolah-olah membentuk gradasi seperti air laut pada setiap dinding kamar itu, ditambah kamar ini sangat luas dengan satu ranjang Queensize ditengah-tengah kamar, sebuah kamar mandi yang terletak di dalam kamar ini, ditambah furniture yang sangat modis dengan pemilihan warna yang sangat Ia suka membuat Dara tidak ingin keluar Dari kamar ini.


"Gimana suka kamarnya?" Tanya Al setelah membantu Dara duduk dipinggir ranjang Queensize itu.


"Suka banget!!!!" Ujar Dara sumringah mendapati akan tidur dikamar yang menjadi impiannya sejak dulu.


"Btw gue nggak pantes deh Al tidur ditempat ini, semua yang gue dapet dari keluarga Lo terlalu banyak, Lo tau kan cukup Lo nump___" ucapan Dara terpotong karena Al membekap mulut Dara dengan salah satu jari tangannya.


"Please jangan ngomong kayak gitu, ini semua Mami yang minta, Lo jangan ngerasa kalo keluarga gue itu nampung Lo. Asal Lo tau papi, mami, gue malah seneng banget Lo tinggal disini" ucap Al dengan tatapan tak lepas dari netra gadis didepannya itu.


"Makasih Al" ucap Dara kemudian memeluk Al dengan erat seolah-olah Al merupakan malaikat penolong Dara dan akan selalu ada disampingnya Dara, Al membalas pelukan Dara dengan menenggelamkan kepala Dara didada bidangnya tak lupa ia mengelus surai hitam gadis itu menyalurkan kekuatan yang ia miliki untuk gadis yang teramat ia cintai.


"Gue pergi dulu Dar, ntar bik Jum kesini nemenin Lo" ucap Al kemudian beranjak keluar dari kamar Dara karena Ia harus meeting. Dara mengangguk membiarkan Al pergi dari hadapaannya. Tak lama setelah kepergian Al gadis itu mulai merasakan kantuk menyerang kemudian Ia memilih memejamkan matanya kemudian tertidur .

__ADS_1


__ADS_2