
Seminggu sejak kepergian Al Dara merasa kesepian melanda dalam hidupnya, setiap hari jika tidak ada kerjaan ia terus membuka MacBook miliknya mengecek apakah ada surel masuk atau tidak dari Stanford university.
Dan setiap waktu Dara membuka halaman eksplore mencari akun resmi Instagram Stanford untuk mengetahui kapan pengumuman seleksi, Dara sebenarnya juga sudah mendaftar ulang di UI atas usulan dari Lia agar Dara memilki cadangan PTN jika ia tidak lulus Stanford dan akhirnya Dara menyetujui usulan Lia karena ia berpikir jika ia tolak dia pasti akan rugi jika Ia tidak diterima masuk di univ yang sama dengan tunangannya.
Ditempat yang berbeda Dira dan kedua orang tuannya sedang melakukan perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta karena mereka akan menghabiskan waktu libur panjang ke Yunani tepatnya dikota Santorini dan sekitarnya sebab itu adalah permintaan dari putri mereka Andira Khairani Wilson.
"Makasih ya papa mama Dira bahagia akhirnya kita bisa liburan ke Yunani".
"Sama-sama sayang apapun akan papa dan mama lakukan untuk kamu agar kamu bahagia"ucap Ridwan mengelus-ngelus Surai pirang putrinya yang duduk dikursi penumpang belakang, dengan tangan kanan memegang stir kemudi.
Ridwan bahagia melihat Andira putrinya bahagia, seolah-olah ia lupa bahwa ia memiliki satu putri lagi Andara Chairunnissa Wilson, yang sudah 2 bulan menghilang tanpa kabar sejak kejadian malam itu. Dan lebih parahnya baik Ridwan dan Alin tidak merasakan rasa bersalah sedikitpun atas perlakuan yang mereka berikan kepada Dara, sekarang sejak kepergian Dara mereka merasa hidup bahagia tanpa beban dan rasa bersalah kepada Dara putri yang tumbuh dengan rasa sakit dan penderitaan.
"Makasih papa mama" ucap Dira merangkul mereka dari belakang.
"Santorini i am comeeeee" teriak Dira.
"Papa awass".
Brukkkkk
Mobil mereka terpental karena bertabrakan dengan sebuah mobil truk berjenis Fuso, dijalanan kota Jakarta sore itu.
Pranggg
Gelas yang dipegang Dara tiba-tiba terjatuh, gadis itu terdiam beberapa saat kemudian ia berjongkok dan hendak membersikan pecahan gelas yang berserakan dilantai dapur.
"Awwww" ringis Dara saat tangannya tak sengaja menyentuh pecahan kaca yang tajam.
Cairan kental berwarna merah itu keluar dari jari tengah gadis itu. Ia menatap darah itu dengan tatapan kosong dan kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak?
Apa yang terjadi saat ini? Kenapa firasatnya tiba-tiba tertuju pada keluarganya.
Apakah keluarganya baik-baik saja?.
Rangakaian pertanyaan terus menyeruak di otaknya, tidak biasanya Dara merasakan perasaan mengganjal dihatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba kepalannya terasa pusing dan sangat pusing dan berdenyut, ia lagi-lagi memijit-mijit keningnya untuk meredakan rasa sakit kepalanya akibat sel kankernya yang tiap detik mengalami pembelahan, saat ini rambut Dara sudah mulai menipis dan tubuhnya kurus karena efek samping Dari kemotrapi yang ia jalankan.
Pusing itu semakin menjadi-jadi, dan bukan hanya itu Dara juga merasa pandanganya mulai berkunang-kunang, setiap inci sendinya ngilu dan brukkk, tubuh Dara ambruk jatuh kelantai semuanya gelap gulita.
Dara membuka matanya dengan perlahan-lahan, menyesuaikan cahaya masuk kedalam netranya dengan sempurna. Saat intensitas cahaya sudah masuk dengan sempurna kedalam retina matanya ia melihat perempuan paruh baya yang ia panggil mami tengah berbicara dengan seseorang di ponsel.
"Baik dok tolong segera ya" ucap Lia menutup obrolan mereka ditelepon.
Ia kemudian membalikkan tubuhnya saat ia membalikan tubuh dia mendapati mata Dara terbuka dan Ia buru-buru menghampiri Andara dengan yang tergeletak lemah di atas kasur Queensize itu.
"Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya Lia memastikan keadaan putrinya.
"Mendingan mi" ucapnya.
"Syukurlah, mami tadi panik banget begitu liat kamu nggak sadarkan diri di dapur tadi" ucapnya menghela napas karena Dara baik-baik saja.
"Yasudah kalo gitu mami kebawah dulu nganter dokter".
Dara mengangguk membiarkan mami keluar dari kamarnya.
Drettt
Dara mengeser tombol berwarna hijau ketengah menandakan bahwa menerima panggilan vidio masuk dari tunangannya itu.
"Hallo my girlfriend"ucap suara dari sebrang sana menatap intens wajah gadis yang akhir-akhir ini menyeruak di otaknya.
"Hallo my boyfriend? Do you Miss me?" Tanya dengan senyuman indah yang selalu menghipnotis semua orang termasuk Al tunangannya.
" I really Miss you so much!!! you now? Seminggu tanpa kamu disini hambar rasanya tau".
"Lebay hambar emangnya makanan apa?" Ledek Dara.
" I am seriously right now babe? Kamu tau kayaknya aku bakal nggak betah disini tanpa kamu, padahal dulu aku sering ngabisin waktuku tinggal di Amrik tapi sekarang Tanpa kamu disini kayak ada yang kurang gitu" godanya.
"Receh ngegembel terus ni" ucap Dara menimpali jawaban dari Al.
__ADS_1
"Hehehe eh yang, kata mama tadi kamu pingsan? Udah mendingan apa?"tanyanya dengan menampilkan raut wajah khawatir.
"Aku baik kok, udah lebih baik kok sekarang" ucapnya berbohong karena tidak ingin Al khawatir dengan keadaannya, meskipun ia masih sedikit merasakan sakit di kepalanya yang terus berdenyut menusuk-nusuk setiap inci bagian dalam kepalanya.
"Syukurlah kalo gitu, eh sekarang jam berapa sih kalo di jakarta?".
"Em dijakarta pukul 10 malam.
, emangnya disana jam berapa?"
"Jam 12 siang, kamu udah cek belum katanya penggumuman udah disebar Loh coba cek dulu?" Perintah Al pada Dara.
"Serius nggak bohong?" Ucapnya kaget soalnya baru beberapa jam yang lalu ia membuka surel tetapi penggumuman itu belum disebar.
"Ia coba buka email kamu" perintahnya.
Dara mengambil MacBooknya dengan meletakan kamera ponselnya bersandar pada gelas agar Al bisa melihat kegiatan yang dilakukan Dara.
Gadis itu membuka email-nya mengecek apakah ada pesan masuk, tenyata benar pihak Stanford mengirim email padanya, ia segera membuka email itu dan membaca setiap kalimat yang dilampirkan dan surat itu dan benar saja Dara diterima di universitas itu.
Air mata membanjiri pipi gadis itu ia tak kuasa menahan air mata bahagia karena ia diterima di kampus yang sangat ia idam-idamkan dan kampus papanya dulu? Stanford university dengan jurusan pendidikan dokter. Al yang dari tadi menatap gadis itu dari layar ponsel binggung kenapa gadisnya menangis?.
"Honey, are you okay?"panggil lembut Al melihat gelagat aneh Dara.
Dara menghapus air matanya, menatap pria yang menghawatirkan ya itu.
"I am really okay "ucapnya.
"Terus kenapa kamu nangis? Sudahlah jika tidak masuk tidak apa bukannya di California masih ada univ bagus? Nanti aku bakal ngomong sama papi buat masukin kamu kesana" lanjutnya.
"Kamu harus liat ini" ucap Dara kemudian mengarahkan MacBook nya kearah ponselnya yang sedang menyala.
"Are you seriously? Kamu diterima sayang" ucapnya bangga kepada gadisnya.
"Alhamdullilah ini semua berkat kamu".
__ADS_1
"Itu semua hasil kerja keras kamu Dara bukan aku, aku bangga sama kamu jadi cepat urus kepindahan kamu kesini karena aku nggak bisa lama jauh dari kamu".
"Dasar bucinn, udah ah aku mau ngurus emailku dulu, dadah sayang" Dara menutup panggilan Vidio call itu dan sibuk dengan MacBook nya.