
Gadis itu berlari dimalamnya hujan yang membasahi kota Jakarta dengan terburu-buru, saat Ridwan menelpon dia menyuruhnya untuk pulang dapat Dara dengar bahwa papanya mengeraskan rahang saat berbicara ditelpon padanya tadi, dengan perasaan takut Dara berlari menuju Mansion Wilson dengan tergesa-gesa.
Disepanjang jalan dia tidak berhenti-henti melapaskan doa agar apapun yang terjadi padanya nanti semoga akan baik-baik saja, Ia tidak peduli pakaiannya yang basah terkena guyuran air hujan asal ia sampai tepat waktu ke Mansion Wilson.
Dara memasuki pekarangan Mansion itu dengan kaki gemetar dan bibir pucat ia sungguh takut akan apa yang terjadi pada dirinya malam ini.
Di ruang tamu tampak Ridwan, Alin, dan Dira sedang duduk saling berhadap-hadapan menunggu kedatangan Dara.
"Assalamualaikum..... Dara pulang" ucapnya berusaha menetralkan rasa takutnya jika berhadapan dengan keluarga itu.
Disana Dara melihat papa, mama, dan Dira yang menangis didalam pelukan mama, Dara tidak tahu apa yang terjadi dengan Dira. Saat ia hendak mengambil tangan Ridwan untuk menyalimi punggung tangan Ridwan, papanya malah menghempaskan tangan Dara dan alhasil Dara terjatuh dan bokongnya mendarat diubin marmer berwarna cream itu dengan kasar, Dara merintih dalam diam.
"Dasar anak tak tau diri" ucap Ridwan dengan amarah memancar di semua sisi wajah.
Ia menendang tubuh Dara hingga gadis itu merasakan sakit lagi dibadannya. Air mata itu berjatuhan lagi, ia kembali mendapat siksaan dari papanya tanpa ia tahu letak kesalahannya dimana?.
"DASAR ANAK SIALAN, TEGA KAU MEREBUT PACAR KAKAKMU SENDIRI MAU JADI APA KAMU HAH, PACAR KAKAKNYA SENDIRI DIREBUT MAU JADI JALANG ATAU PELAKOR KAU. DASAR ANAK TAK TAU DIUNTUNG LEBIH BAIK KAMU MATI" ucap Ridwan marah kemudian ia menarik kepala Dara dan membenturkannya ke lemari hias yang ada ruang tamu.
"Hikss" Dara menagis senggugukan dipojok lemari itu, kepalanya mengeluarkan cairan berwarna merah yang pekat dengan jumlah yang banyak.
"Sakit pa " lirih Dara memohon ampun pada papanya, Papanya tidak peduli melihat keadaan Dara saat ini.
"ENAK NGGAK??? NGGAKKAN KAYAK GITULAH RASA SAKIT YANG KAKAK MU TERIMA ATAS PERLAKUAN KAMU" ucap Ridwan murka, ia pun melemparkan foto-foto yang jelas-jelas itu bukan Dara, dimana jelas-jelas Dira yang tengah berciuman panas dengan Raffa di Laboratorium Bahasa tetapi dengan berbagai editan yang sangat memanipulasi membuat gadis di dalam foto itu mirip sekali dengan Dara.
"Itu bukan Dara pa hikss hikss" ucapnya mencoba menjelaskan dengan air mata turun membasahi pipinya bersama dengan cairan pekat merah dari dahinya.
"MAU NGELES LAGI KAU JELAS-JELAS ITU KAU, DASAR ANAK TAK TAU DIUNTUNG PERGI KAU DARI RUMAH INI..." ucapnya kemudian menarik paksa tangan Dara mengusirnya keluar dari rumah ini.
"PERGI KAU DARI RUMAH INI SIALAN".
Bukkkk
Ridwan mendorong Dara hingga ia tersungkur di teras rumah. Semua pelayan mansion itu menatap iba kearahnya, mereka ingin sekali menolong Dara dari kekejaman perlakuan keluarga ini tapi apa daya mereka hanya pelayan dan tak lebih, jika mereka menolong Dara bagaimana dengan pekerjaan mereka otomatis mereka akan di pecat oleh pak Ridwan yang merupakan kepala keluarga disini, tak tanggung-tanggung Alin melemparkan koper yang berisi baju-baju Dara yang sudah mereka siapkan.
"JANGAN PERNAH KAU MENGINJAKKAN KAKIMU KERUMAH INI DASAR ANAK SIALAN"umpat Ridwan kemudian menarik tangan istri dan anaknya menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah.
Dira tampak tersenyum licik kepada Dara dia mengucapkan kata-kata tanpa suara yang ia tahu berbunyi "emang enak?, mampus Lo" umpat Dira kemudian ikut masuk kedalam Mansion bersama papa dan mama.
Dara mengelap air matanya dengan kasar, baju basah, darah bercucuran, di usir sungguh malang nasibnya. Dara tertawa hambar disertai senyuman yang memiliki maksud sangat dalam. Ketika pintu mansion utama tertutup semua pelayan yang menyaksikan kejadian itu berlari menghampiri Dara dengan penampilan yang dibilang jauh dari kata baik.
"Non Dara nggak papakan?" Ucap salah seorang pelayan dapur.
"Aduhh kepala Non Dara berdarah, biar bibik obatin ya Non" ucap bik Ijah yang baru pulang dari kampung beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Dara menepis tangan bik Ijah dengan lembut yang ingin menyentuh dahinya yang berdarah seraya berkata.
"Dara nggak papa kok bik, ini udah biasa. Nggak usah diobatin ntar sembuh sendiri" ucap Dara menghela napas kemudian melanjutkan ucapannya lagi.
"Lebih baik kalian masuk, makasih udah peduli sama Dara dan ternyata masih ada orang yang sayang sama Dara, Dara pamit dulu ya" kemudian Dara berdiri dan mengambil koper yang dilemparkan mamanya padanya di teras tadi.
"Non mau kemana?" Tanya bik Ijah penasaran mereka tahu jika dara tidak miliki tempat tinggal selain disini.
"Kalian jangan khswatirin Dara, Dara nggak bakal kenapa-kenapa kok. Lagian kalo Dara mati ini semua sesuai keinginan mereka semua dan tolong bilang sama mereka kalo Dara nggak pernah benci mereka Dara sayang mereka, tapi ....." Dara sengaja mengantungkan kalimatnya menelan salivanya dan sedikit menghapus air matanya.
"Dara kecewa sama mereka, mereka semua lebih mendengarkan cerita kak Dira dari pada mendengar sisi Dara, dan bilang juga sama kak Dira semoga dia cepat berubah. Dara sayang mereka, Dara pamit ya" Dara kemudian berjalan keluar pagar mansion Wilson itu.
Semua pelayan menangis menatapi kepergian Dara, ia gadis yang baik selama mereka berkerja disini, hanya Daralah satu-satunya keluarga Wilson yang mau berbaur dengan pelayan, supir, ataupun tukang kebun Dara sangat berbeda dari kedua anak Ridwan Khairun Wilson yang tidak mau berbaur dengan mereka dikarenakan perbedaan status dan golongan. Tetapi berbeda dengan Dara, ia memperlakukan mereka layaknya orang tuanya sendiri menghormati dan menyangi mereka.
Dara menoleh kebelakang untuk melihat rumah bergaya American Classic tiga lantai itu untuk terakhir kalinya.
"Makasih rumah berkat aku diizinkan tinggal disini dalam waktu lama aku bisa mendapatkan kebahagiaan dan kedukaan serta rasa sakit yang selalu beiringan" ucap Dara kemudian ia berjalan menjauhi mansion dengan tertawa hambar seolah- olah ia menyukai hidupnya, "it's okay Andara you are fine" ucap dia menyakinkan dirinya sendiri.
******
Sudah 30 menit Dara berjalan tanpa arah dan tujuan dibawah cahaya lampu jalan kota Jakarta ditambah darasnya hujan yang mengguyur kota malam itu ia berjalan mengikuti hatinya ingin melangkah, asalkan ia tidak kembali lagi ke rumah itu.
Kakinya terasa sakit karena berjalan tanpa tujuan, dan darah segar masih terus bercucuran dari keningnya tetapi tidak sebanyak tadi, kepala Dara tiba-tiba kembali terasa sakit dan amat sakit, kankernya kembali bereaksi dia memegang kepalanya dan sedikit memijit-mijit agar rasa sakit itu sedikit berkurang tapi nihil rasa sakit itu kian bertambah dan semakin terasa sakit.
Tubuh Dara ambruk tergeletak tak berdaya di jalanan kota Jakarta yang sedang diguyur hujan malam itu.
Sebuah mobil SUV putih berhenti depan Dara yang tak sadarkan diri. Seorang pria berlari tergesa-gesa menuju arah Dara setelah membuka pintu mobilnya.
"Kenapa bisa kayak gini Andara" ucap pria bertexudo biru navy itu, melihat keadaan Dara yang basah kuyup tergeletak di aspal hitam jalanan yang sepi, wajah pucat pasih dengan bibir membiru serta dikeningnya terdapat sisa-sisa cairan merah seperti darah.
Tak butuh waktu lama ia kemudian membopong tubuh Dara meletakan dia di kursi penumpang, dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat agar Dara dapat di tangani secara intensif.
7 hari berlalu gadis bersurai hitam itu membuka matanya dengan perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah ruangan yang bernuansa serba putih. "Apa ini disurga?" ucap Dara melihat sekeliling tempat dengan posisi masih tergeletak di ranjang.
"Jika ini disurga aku pasti bertemu dengan bang Andre " ucap Dara lagi disertai senyum yang mengembang, soalnya ia ingat terakhir ia pingsan di jalan dan mungkin benar saat ini hanya rohnya berada surga.
"Surga- surga, ini rumah sakit" ucap pria yang memakai texudo hitam menyandarkan punggung di belakang pintu almari rumah sakit.
Dara menoleh ke sumber suara tampak seorang pria yang sepertinya tidak asing ia lihat, Dara mencoba mengingat-ingat siapa pria tampan didepannya itu, Pria dengan yang memiliki rahang tegas diwajahnya, bertubuh atletis yang di balut jas, wajah yang blasteran dengan bulu mata lentik dan ditambah bola mata berwarna cokelat.
"Jangan dipaksa mengingat gue kalau nggak ingat" ujarnya kemudian mengambil posisi duduk di sofa putih ruangan itu.
Ruangan itu seperti ruangan rawat inap kelas Suit President room VVIP dimana ukuran ruangan 2 kali lebih besar dari pada kamarnya, dengan satu Brankar khusus untuk pasien yang sedang digunakan Dara, satu televisi berukuran 32 inci ditambah satu set meja multiguna, sofa bed, lemari pakaian, dan nakas yang berada disebelah Brankar.
__ADS_1
"Anda mirip cenayang bisa meramal isi pikiran saya" ucapnya dengan berbicara formal karena ia menghormati orang di hadapannya yang ia perkirakan usianya lebih tua dari dirinya dilihat dari tubuh dan gayanya yang mirip orang kantoran.
"Ternyata kamu bisa seformal ini ya jika berbicara"ucap pria itu dengan tatapan tak lepas melihatnya.
"Emangnya kita pernah bertemu, you know me?" Tanya Dara penasaran.
"Lebih tau dari itu"ucapnya tersenyum manis kepada Dara.
"Seriously?" Dara kemudian merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Dara kembali bertanya.
Pria tampan itu menganguk menjawab pertanyaan Dara.
"Tapi di mana?" Lagi-lagi ia bertanya.
"Nanti gue jelasin lebih baik Lo makan dulu, udah 7 hari perut lo di isi inpus" ucap pria itu kemudian mengambil makanan yang dibawakan oleh suster tadi sebelum Dara siuman.
"Gue nggak nafsu makan" ucap Dara, mengubah pengucapannya menjadi Lo gue, menatap bubur di mangkuk keramik yang tidak menarik minatnya sejenak, kemudian menatap langit-langit ruang inap.
"Lo harus makan, bukannya Lo harus sembuh" ucap pria itu kemudian duduk di kursi disebelah brankarnya.
"Buat apa gue sembuh?" Katanya ketus menatap pria disampingnya itu.
"Bukaannya mereka pingin gue mati" kata Dara menggingat kejadian waktu itu yang menjadi kisah terpahit yang pernah ia alami.
"Lo nggak boleh ngomong kayak gitu nggak baik" ucap pria itu menatap lekat Dara yang masih cantik meskipun wajahnya saat ini pucat dan bibirnya pecah-pecah.
"Nggak baik maksud Lo?, Lo nggak tau apa- apa tentang gue. YANG NGGAK BAIK MAKSUD LO YANG MANA HAH" Dara menaikan beberapa oktaf suaranya, saat ini emosinya tidak bisa dikontrol Ia sudah terlalu terluka karena disaat yang bersamaan semua orang membenci dan meninggalkannya.
Pria itu terdiam membiarkan Dara meluapkan emosinya, mungkin dengan cara ini Dara bisa sedikit melupakan rasa sakit yang Ia alami.
"Lo nggak tau apa yang terjadi sama gue, gue udah cukup menderita, gue sakit, gue capek untuk bilang kalo gue selalu baik-baik aja, gue capek untuk muna dan selalu tersenyum. Gue capek sama hidup gue sendiri. Disaat anak seusia gue merasakan indahnya masa SMA gue harus merasakan kado pahit di akhir tahun SMA. Gue capek, gue lelah dengan skenario Tuhan, gue capekkk" ucapnya terisak sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa seperti tertikam belati.
Pria itu menarik Dara dalam pelukannya menyalurkan kehangatan dan kenyamanan untuk Dara agar ia bisa sedikit meredakan amarahnya. Dara membalas pelukan pria itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu sambil menangis didada bidang pria itu.
"Udah jangan nangis Lo harus kuat Dara, apapun yang terjadi Lo harus hadapin, Lo kan pemeran utama dalam skenario Tuhan buktikan alur yang dibuat Tuhan bisa dirubah oleh pemerannya berdasarkan usaha yang Ia miliki, ingat gue akan selalu ada buat Lo disaat berada di titik terendah seperti saat ini. Lo harus tau jangan anggap diri Lo capek akan semua cerita hidup yang Lo jalanin selama ini, Lo harus yakin kalo cerita hidup Lo yang sulit saat ini tidak menutup kemungkinan kalo takdir Lo bakal bahagia trust me" ucapnya kemudian melepas pelukan Dara dan menangkap wajah Dara dengan tangan kekarnya dan mengelap air mata yang masih berjatuhan dipipi Dara.
"Gue nggak akan biarin Lo ngalamin ini sendirian sekarang ingat Gue akan selalu jadi pengenggam tangan Lo ketika Lo rapuh dan hendak jatuh, dan asal Lo tau kebahagiaan akan datang kepada orang- orang yang senantiasa bersabar dan berusaha menerima cobaan dalam hidup, dan Tuhan tidak memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya. So you understand Andara Chairunissa Wilson?" Ucap pria itu tersenyum manis pada Dara.
Gadis itu mengangguk kemudian menggulingkan senyum yang sangat indah, senyuman yang telah lama hilang disaat ia selalu menampakan senyuman kepalsuan.
Pria itu kemudian memeluk Dara lagi dengan lebih erat membisikan sesuatu di telinga kiri Dara. "Percaya gue Lo bisa melewati semuanya Dara "ucapnya kemudian melepaskan pelukan pada Dara.
__ADS_1
Gadis itu lagi-lagi tersenyum apakah ini yang dinamakan ada pelangi di saat badai telah berlalu? Pria di depannya ini dikirim tuhan untuk membantu ia melewati masa perihnya, apa pria ini yang akan selalu ada saat ia melewati kisah hidupnya yang sulit? Entahlah semua itu hanya tuhan yang tahu, Dara hanya bisa menjalankan garis takdir yang telah diberikan untuknya.