Sabinar Is Okay

Sabinar Is Okay
Prolog


__ADS_3

Bahkan aku tak mengerti mengapa harus kamu yang jadi pilihanku.


Ia hanya melamun. Merenung bersama kisah cintanya yang telah lama namun dengan rasa yang sama. Hujan yang kini ia pandang menjadi terdengar sendu sebab mengenang masa lalu yang masih menjadi cerita abadi.


Walaupun ia sedang di kantor bersama teman-teman kerjanya, ia selalu menyempatkan diri untuk duduk di tepi jendela kala hujan. Seperti saat ini. Menurutnya, hujan itu membawa memori-memori lamanya yang indah. Hujan itu membawanya ke masa lalu.


"Jangan melamun. Katanya mau ketemu sama Mama. Ayo!"


Ia segera tersadar. Lalu tersenyum tulus kepada orang yang mengajaknya tadi sambil mengambil tasnya di meja kerjanya.


"Kamu udah contact Mama kamu 'kan? Ya seenggaknya biar nanti Mama nggak kaget gitu kalau aku datang."


"Udah, kok."


Lalu mereka berdua keluar dari kantor dengan hati berbunga.


Mereka saling melengkapi.


---

__ADS_1


"Kita nggak bawain apa-apa ini buat Mama?" tanyanya lembut sambil memandangi orang di sebelahnya yang sedang menyetir mobil.


"Nggak perlu. Paling nanti malah kita yang disuruh makan di sana. Mama 'kan biasanya gitu. Kamu juga tahu 'kan?"


"Oke, deh!"


Lalu ia beralih menatap ke luar jendela mobil yang sedang hujan lumayan deras. Ia suka dengan hujan dan bunyinya. Menenangkan, katanya.


"Kamu itu suka banget ya sama hujan? Kalau ada hujan pasti langsung ngelamun. Dan ini aku malah dicuekin," ucap seseorang di sebelahnya dengan wajah yang berakting sebal.


"Hujan 'kan juga rahmat Allah. Ini salah satu cara aku untuk bersyukur."


"Kamu juga salah satu tujuanku buat ngelamun. Dan kamu nggak tahu," jawabnya ringan.


"Lihatin aku aja! Biar tambah bahagia."


"Nggak mau. Nanti kamu salting. Kamu 'kan lagi nyetir. Bahaya kalau nanti oleng kayak bus."


"Halah bilang aja kamu yang nggak kuat lihatin aku. Aku 'kan ganteng."

__ADS_1


"Emang kamu ganteng."


Lalu hening. Hanya terdengar suara air hujan yang menerpa atap mobil. Dan juga klakson-klakson dari para pengendara di jalanan. Heran. Hujan begini tapi masih saja macet.


---


"Dari rumahnya calon mertua ya Kak?"


Ia hanya tersenyum. Tak menjawab pertanyaan adiknya. Kadang ia bingung dengan adiknya yang masih kelas 3 SMP. Adiknya itu sangat tahu tentang kisah percintaan. Ketika ditanya, adiknya hanya menjawab, "Aku banyak baca novel tentang cinta. Jadi aku tahulah tentang cinta-cinta begitu."


"Ck! Kayak gitu terus aja! Bikin iri!"


"Kamu masih kelas 3 SMP. Nggak usah mikirin cowok dan cinta dulu. Suka si nggak papa. Tapi jangan pacaran."


Ia segera masuk ke kamarnya dan meletakkan tasnya di meja dengan sembarangan. Lalu ia berjalan menuju ranjangnya dan menghempaskan tubuhnya ke spring bednya yang lembut dan empuk.


Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu. Dengan tatapan menerawang jauh ke masa lalu. Ia suka mengenang masa lalu. Bukannya ia tak bersyukur dengan keadaan saat ini. Tapi ia merasa bahwa masa lalunya adalah sumber kekuatan dan kedewasaannya yang ia butuhkan saat ini untuk berbahagia.


Kamar dengan nuansa putih-coklat itu terasa hangat walau sedang turun hujan. Menenangkan sang pemiliknya yang sedang gundah gulana. Ia tak tahu mengapa menjadi sering memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan. Membuat kepalanya menjadi pening.

__ADS_1


Kini ia mencintainya. Tidak hanya kali ini. Tapi dulu, sekarang, dan mungkin selamanya.


__ADS_2