
"Jadi, untuk mendapatkan hasil seperti pada buku, kita harus mengalikan hasil transpos matriks ini dengan dua," ucap Pak Heri, guru matematika yang sedang mengajar di kelas Binar.
Semua murid di dalam kelas yang mendengarkan sebenarnya merasakan kantuk yang sangat berat. Mengantuk karena mereka tak tahan dengan gaya bicara Pak Heri yang agak lambat membuat cepat merasa bosan. Bukan hanya itu, mereka juga sebenarnya belum paham dengan apa yang sedang dibahas oleh Pak Heri.
Pak Heri terlihat sedang melihat jam tangannya, lalu mengecek handphone-nya yang ia letakkan di saku bajunya.
"Oh iya, anak-anak. Karena sepuluh menit lagi kalian pulang, jadi saya sudahi dulu pelajaran kali ini. Kalian boleh pulang."
Ucapan Pak Heri membuat beberapa murid yang sedang bermalas-malasan mengangkat kepalanya menjadi terkejut dan segera menatap Pak Heri dengan tatapan heran. Pasalnya, biasanya Pak Heri memulangkan murid-muridnya paling terakhir.
"Tumben, Pak. Biasanya Pak Heri betah banget di kelas kita sampai kita pulangnya kesorean," ucap Leo, murid termalas di kelas ini.
Pak Heri tersenyum, "Saya lagi bahagia. Alhamdulillah istri saya sudah hamil anak kedua. Jadi habis ini saya mau ke rumah sakit untuk USG istri saya."
"Wah! Selamat ya, Pak!" ucap beberapa murid penuh bahagia.
"Iya. Terima kasih. Doakan ya semoga sehat sampai proses lahiran."
"Aamiin..."
---
"Nar, lo pulang bareng gue 'kan?" tanya Hasbi setelah keluar dari kelas.
"Gue ada latihan teater, lo kalau mau pulang, pulang aja dulu. Nanti gue minta jemput," jawab Binar dengan raut muka malas. Entah mengapa ia merasa hari ini terlalu lelah dari biasanya.
"Nggak. Gue mau nungguin lo."
"Pulang aja. Besok ada ulangan sejarah, loh. Sana pulang dulu buat belajar. Jangan terlalu malam kalau mau belajar, nanti ngantuk, capek."
"Lah, lo juga paling belajarnya pas malam. Lo juga nanti capek habis teater. Mending nggak usah ikut latihan dulu ya, Nar. Lo kelihatan capek banget," Hasbi terlihat khawatir.
Binar menjadi berpikir kembali untuk mengikuti latihan teater. Benar, ia lelah sekali hari ini. Dan sialnya ia belum belajar juga untuk ulangan besok.
"Kayanya gue mau izin aja deh nggak ikut latihan dulu."
"Nah gitu, dong. Kalau emang udah capek banget, jangan dipaksain. Nanti malah sakit. Yang repot siapa? Gue juga 'kan akhirnya," ucap Hasbi dengan percaya diri.
"Hidih! Ya udah gue mau izin sama pelatihnya dulu."
"Eh, tunggu dulu, gue ikut!"
Binar baru saja sampai di rumahnya. Diantar oleh Hasbi yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagi seorang Sabinar Iswara. Hasbi memakirkan motornya di halaman rumah Binar.
"Makasih, ya."
Hasbi hanya mengangkat kedua ibu jari tangannya.
"Oh iya, Nar. Nanti malam belajar bareng di rumah gue, ya? Itu sih kalau lo nggak capek."
"Insya Allah, Bi."
"Lo nggak capek?"
__ADS_1
"Semoga aja nggak."
"Ya udah gue pulang dulu."
"Iya, hati-hati."
"Habis ini makan, jangan main hp mulu," ucap Hasbi yang sudah menaiki sepeda motornya.
Sabinar hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
---
Kini, Binar tak tahu mengapa hatinya sepertinya tak bisa pindah ke lain hati. Ia sangat ingin untuk tidak mencintai Hasbi lagi. Mencintainya itu kadang bahagia, kadang juga sakit. Tapi ia selalu ikhlas dengan bagaimanapun keadaannya.
"Hasbinya belum datang, Nar?" tanya Sang Ayah yang sedang berjalan di depannya.
Sabinar hanya menggeleng.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Ia menebak itu pasti Hasbi. Dan ia segera membukakan pintu. Namun yang ia lihat bukanlah sosok yang sebenarnya ia harapkan.
"Loh, udah dibukain pintu? Baru aja mau ketuk pintunya. Eh, udah dibukain duluan," ucap seseorang itu dengan raut bahagia.
Binar bukannya menyilakan orang itu masuk, ia malah seperti mencari-cari seseorang di luar rumahnya.
"Kok lo yang datang? Hasbinya mana?"
"Kok lo malah nanya Hasbi? Yang datang itu Ardan, bukan Hasbi. Lagian Hasbi juga lagi jalan sama Kayla."
Ya orang yang datang itu adalah Ardan. Sama sekali tak terpikirkan oleh seorang Sabinar Iswara.
Ardan memutar kedua bola matanya, "Ck! Yaudah kalau nggak percaya. Tadi gue lihat sendiri. Di Taman Cendrawasih Gembira. Berdua doang di taman. Gue cuma lihat sekilas, sih. Gue juga tadi chat Kayla, ternyata bener kalau itu Hasbi sama Kayla."
Binar membelalakkan matanya karena terkejut. Ia bingung ingin percaya dengan siapa. Tapi, Hasbi sampai saat ini belum juga menjemputnya.
"Lah, malah bengong. Suruh gue masuk juga kagak. Gue mau masuk."
Dengan terpaksa ia menyilakan Ardan masuk ke rumahnya. Ia masih saja memikirkan apakah yang baru saja Ardan ceritakan itu benar.
"Lo tunggu aja di sini. Gue mau ke atas dulu," ucap Binar sambil berlalu pergi.
---
Kini mereka berdua sedang duduk bersebelahan sambil terdiam. Sang Lelaki hanya memandang lurus ke depan tanpa titik fokus. Sedangkan Sang Perempuan hanya bisa menunduk.
Hasbi dan Kayla. Hasbi dengan perasaan risihnya dan Kayla dengan perasaan gugupnya.
"Kenapa ngajak gue ke sini?" tanya Hasbi dengan ekspresi datar.
Kayla terlihat gugup mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang berwarna beige itu.
"Ini," ucap Kayla sambil menyerahkan sekuntum mawar merah dari bahan plastik yang masih terlihat seperti baru.
"Ini mawar yang waktu itu gue pakai buat nembak lo 'kan? Ngapain lo kasih lagi ke gue, Kay?"
__ADS_1
Kayla senang ketika Hasbi ternyata masih mengingat tentang mawar plastik itu.
"To the point aja, ya?"
"Hm."
Kayla menarik nafas, "Jadi dulu 'kan kamu kasih mawar ini ke aku ketika kamu nembak aku. Dan aku akan kasih mawar ini ke kamu sebagai tanda kalau aku mau balikan sama kamu."
Hasbi terkejut dengan pernyataan dari Kayla. Ia tak pernah menyangka bahwa Kayla akan berani mengakui ini. Benar-benar di luar dugaan. Dan baginya ini terlalu cepat, tanpa persiapan.
"Aku nggak maksa kamu untuk jawab sekarang, kok."
"Kenapa kamu mau balikan sama aku?" tanya Hasbi serius.
"Jujur, aku belum bisa untuk move on dari kamu. Iya, aku cemburu waktu kamu lebih dekat sama Binar, walaupun aku sudah mantan kamu. Tapi aku nggak tahu kenapa justru aku melihat kalau kamu sama Binar itu memang cocok. Kalian ada chemistry. Aku takut aja kalau nantinya kalian memang benar ada apa-apa. Aku takut kehilangan kamu, Bi," jelas Kayla sambil menahan tangis.
Hasbi merasa bersalah. Ia merasa bersalah pada Kayla dan juga Binar. Ia tak tahu hatinya saat ini untuk siapa. Di satu sisi, sebenarnya ia masih ada sedikit rasa pada Kayla. Namun di sisi lain, ia sangat nyaman pada Binar. Ia merasa menjadi dirinya sendiri ketika dengan Binar. Dan ia bahagia di sisi ini.
"Terus kamu sama Ardan?"
"Sahabat. Kaya kamu sama Binar."
"Yakin nggak lebih?"
"Kaya kamu sama Binar. Banyak orang yang menginginkan kamu sama Binar segera jadian. Begitu juga dengan aku sama Ardan. Tapi kita saling mendukung."
Hasbi sebenarnya ragu tentang ini. Ardan membencinya karena Ardan merasa Hasbi telah merebut Kayla.
"Tapi gimana kalau nanti pada akhirnya aku sama Binar memang benar ada apa-apa?"
Senyum Kayla perlahan luntur. Ia tak tahu harus jawab apa. Baru mendengarnya saja ia sudah sakit. Apalagi melihat Hasbi dan Binar berpacaran secara langsung.
"Sakit, sih. Tapi aku nyoba buat ikhlas mungkin," jawab Kayla pasrah.
"Harus ikhlas. Kan tanda mencintai itu ikhlas," ucap Hasbi sambil tersenyum.
Kayla mengangguk tanda setuju.
"Tapi maaf. Kayanya gue nggak bisa balikan sama lo."
"Kenapa? Karena Binar?"
Hasbi hanya tersenyum dan mengajak Kayla untuk pulang.
---
*From : Hasbi
Maaf ya, kayanya gue nggak bisa belajar bareng dulu. Baru aja ada urusan. Night.*
Binar hanya melihat pesan dari Hasbi itu di notifikasi. Ia malas membukanya.
"Sakit, sih. Tapi mereka sama-sama mencintai. Jadi mau gimana lagi."
__ADS_1
Tak apa lelah karena perangkap penat. Kita hanya manusia, kita perlu rehat.