
Siang ini matahari terasa lebih panas dari biasanya. Bahkan beberapa siswa yang biasanya main bola ketika istirahat kedua ini menjadi diam saja di kelas atau mungkin hanya di kantin menikmati es teh segar.
"Nar, gue mau nanya sama lo sesuatu yang serius. Lo harus jawab jujur. Jangan membohongi diri sendiri," ucap Ghea tiba-tiba dan membuat Binar menghentikan musik yang sedang ia dengar di handphone-nya.
"Apa?"
Ghea memasang wajah serius dan siap-siap menginterogasi Binar. Binar yang ditatap seperti itu merasa risih.
"Ngapain sih lihatin gue kaya gitu? Risih."
"Sabinar Iswara."
"Iya... Kenapa? Tinggal ngomong apa susahnya, sih?" tanya Binar mulai kesal dengan perilaku Ghea.
"Lo ada perasaan nggak sama Hasbi?" tanya Ghea lirih. To the point.
Binar terkejut mendengarnya. Dan Ghea tahu bahwa Binar akan terkejut. Setidaknya kini Ghea sedang mengira-ngira jawaban Binar. Binar mencoba untuk tidak gugup ketika menjawab. Karena sebenarnya ia tak ingin perasaannya pada Hasbi diketahui oleh orang-orang. Biar ia saja yang menyimpannya.
"Ke-kenapa lo tanya gitu?"
Tetap saja Binar tak bisa tenang untuk menjawabnya.
"Ya gue bingung aja sama kalian. Deket terus tapi nggak pernah jadian."
"Emangnya yang deket udah pasti jadian?"
"Nggak, sih. Tapi kalian cocok."
"Masa?"
"Iya."
"Nggak, ah!"
"Tapi lo 'kan sering dibuat baper sama Hasbi. Lo nggak merasa apa-apa gitu?"
"Gue bukan tipe orang yang gampang baper kok," Binar seperti membohongi dirinya sendiri.
"Ghea, gue sama Hasbi tuh cuma sahabatan. Lagian Hasbi tuh mantannya Kayla, sedangkan gue sama Kayla itu udah berteman selama di ekskul teater. Nanti kalau suka dikira nikung."
"Kok nikung? Udah mantan 'kan?"
"Siapa tahu mereka mau balikan lagi?"
"Lagian lo suka sama Hasbi tapi cuma diem doang. Jatuh cinta diam-diam, nanti sakit hatinya juga diam-diam."
Kali ini Binar agak sedikit tertampar dengan ucapan Ghea. Benar, ia mencintai diam-diam nanti juga sakit hatinya diam-diam. Dan sebenarnya ia tak rela jika nantinya Hasbi dan Kayla akan berpacaran lagi dan Hasbi akan menjaga jarak dengannya. Ia tak mau kejadian itu terulang lagi.
---
Waktunya untuk pulang sekolah. Ketika murid-murid lain lebih memilih untuk berlari keluar kelas, Binar dan beberapa temannya yang piket memilih untuk diam di kelas.
"Nar, lo piket 'kan? Gue tunggu di lapangan, ya?" Hasbi menghampiri Binar yang sedang mengambil sapu.
"Ok."
"Semangat piketnya! Yang bersih juga biar nanti jadi istri gue," ucap Hasbi sambil melangkah keluar dari kelas.
"Cieeeee...." ledek anak-anak lain yang masih berada di dalam kelas.
---
__ADS_1
"Udah bersih 'kan?" tanya Binar sambil memperhatikan seluruh isi kelas.
"Udah, Nar."
"Ya udah gue pulang dulu, ya? Bye..."
Binar segera keluar dari kelas dan mencari Hasbi yang katanya sedang berada di lapangan sekolah.
Agak lama ia mencari Hasbi, namun akhirnya ia menemukan Hasbi sedang bersama seseorang di pinggir lapangan.
"Hasbi sama siapa tuh?" Binar mencoba memperhatikan seseorang yang sedang berbicara dengan Hasbi.
"Ha? Kayla?"
Tampaknya Hasbi sedang berbicara serius dengan Kayla. Melihat Hasbi yang sedang mengatakan sesuatu dan juga melihat Kayla yang tenang mendengarkan apa yang diucapkan Hasbi sedikit membuat Binar cemburu. Tapi ia mencoba menghilangkan rasa cemburu itu karena ia sadar bahwa ia hanyalah sahabatnya Hasbi dan tidak memiliki hak untuk merasakan cemburu.
"Susah emang kalau jatuh cintanya diam-diam," ucap Binar pada diri sendiri sambil tersenyum getir.
Tiba-tiba Kayla dan Hasbi saling tersenyum satu sama lain lalu Kayla pergi meninggalkan Hasbi sendirian di pinggir lapangan. Jujur, hati Binar sedang sakit. Karena Hasbi tak pernah tersenyum semanis itu padanya.
---
"Ya udah ya lanjutin nanti malam aja sambil nonton," ucap Kayla malu-malu.
"Oke," jawab Hasbi agak gugup.
Lalu Kayla tersenyum dan pergi begitu saja. Dan Hasbi membalas senyumannya.
Bego lo, Bi!
Di dalam hati Hasbi sendiri ia malah memaki-maki dirinya sendiri.
Tiba-tiba ia melihat Binar datang sambil berlari. Hasbi agak gugup melihat kedatangan Binar. Entah kenapa.
"Ayo!"
---
Daritadi Binar hanya diam dan Hasbi juga diam. Biasanya ketika sedang berboncengan begini mereka akan sama-sama bercerita. Tetapi kali ini tidak. Terasa canggung.
Bahkan sampai rumah Binar pun mereka tidak mengucapkan apa-apa. Hanya Binar yang mengucapkan terima kasih pada Hasbi lalu pergi ke dalam rumah tanpa menawarkan Hasbi untuk singgah di rumahnya sebentar.
"Lo kenapa, sih?" tanya Hasbi bingung.
Binar berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Kok gue? Lo tuh yang kenapa. Daritadi diam aja."
"Lo juga diam aja."
"Apaan sih orang gue lagi males ngomong doang."
"Ya sama."
"Ya udah."
"Ya udah."
"Ya ngapain lo masih di sini?" tanya Binar dengan nada ketus.
"Nungguin disuruh masuk," jawab Hasbi santai.
__ADS_1
"Nggak usah lah, ya? Gue sibuk. Mau belajar buat besok."
"Besok ulangan?"
Binar mengangguk.
"Ha? Apaan?"
"Kimia."
"Kok bisa-bisanya kimia ulangan lagi. 'Kan minggu kemarin udah ulangan. Salah denger kali."
"Minggu kemarin tuh bab 3, besok bab 4. Udah 'kan jelas. Sana pulang," usir Binar sambil menutup gerbang rumahnya.
"Lah gue diusir. Ya udah, deh! Besok mau berangkat bareng lagi nggak?"
"Nggak usah! Sana berangkat aja sama Kayla," jawab Binar dengan nada agak tinggi.
Hasbi terkejut mendengarnya.
"Kok Kayla? Cemburu, ya?" goda Hasbi.
"Kok cemburu, sih? Yang ada gue malah takut deket-deket sama lo."
"Kok takut?" kali ini Hasbi benar-benar bingung dengan ucapan sahabatnya itu.
"Gue takut dikira pelakor," nada bicara Binar merendah.
"Kok bisa?" kini Hasbi mematikan mesin motornya.
"Bentar lagi lo balikan 'kan sama Kayla?" tanya Binar dengan tatapan meminta kepastian.
Hasbi menatap mata Binar dengan tulus. Entah mengapa ia merasakan seperti ada rasa tidak ikhlas di dalam mata itu.
"Buka gerbangnya dulu. Aku mau ngomong."
Hal teromantis bagi Binar adalah ketika ia dan Hasbi menggunakan subjek aku-kamu. Terasa lebih manis menurutnya.
Binar menurut. Lalu ia membukakan gerbang dan berjalan menuju Hasbi.
"Nanti bagaimanapun yang terjadi, aku nggak akan lupain kamu," ucap Hasbi sambil tersenyum untuk meyakinkan Binar.
Rasanya Binar ingin menangis saat itu juga. Mengapa lelaki di hadapannya ini tahu apa yang sedang ia pikirkan? Mengapa lelaki di hadapannya ini membuatnya nyaman? Ia ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi ia tak akan mampu. Bahkan terkadang untuk mengucapkan rindu saja tak mampu.
"Masuk sana. Katanya mau belajar," ucap Hasbi sambil menyalakan mesin motornya kembali.
"Hati-hati di jalan."
"Makasih. Hati-hati juga buat kamu."
"Kenapa?"
"Hati-hati untuk menjaga hati sendiri."
Binar hanya tersenyum. Kemudian kembali menutup gerbang rumahnya.
---
"Kalau Hasbi sama Kayla beneran mau balikan, kayanya gue tiap hari bakal patah hati kaya dulu."
Binar memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan tak termakna. Ada kesedihan, ada keraguan, ada kelelahan, ada juga sepercik kebahagiaan.
__ADS_1
"Semuanya akan indah pada waktunya, Nar..." ucap Binar sambil menutup matanya untuk berisitirahat sebentar dari dunia nyatanya yang penuh lelah.