
Suara deringan dari handphone milik Binar sudah berbunyi lebih dari lima kali. Ia tak ingin menjawabnya saat ini. Sudah lima kali pula ia harus menolak panggilan itu.
"Ganggu banget nih bocah. Gue lagi nggak butuh aja telepon mulu, sedangkan gue lagi butuh malah sama Kayla. *** emang," gerutu Sabinar ketika melihat nama Hasbi di layar handphone-nya.
"Sabinar... Sarapan dulu. Sini keluar. Jangan di kamar mulu..."
"Iya, Bu. Ini Binar mau keluar kamar."
Sabinar segera berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Ternyata ayah, ibu, dan adiknya sudah makan dulu meninggalkan Binar.
"Binar nggak ditungguin nih makannya," sindir Binar sambil mengambil piring.
"Kamu kelamaan sih di kamar. Dandannya lama banget kayanya," jawab ayahnya membela diri.
Binar cengengesan, "Maaf, tadi Binar harus cari sunscreen dulu. Lupa kemarin naruh dimana."
"Udah dimakan aja langsung nasinya. Kamu mau berangkat sama Hasbi lagi 'kan?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya berhasil membuat Binar lemas. Ia masih teringat atas kejadian tadi malam. Sebenarnya ia tak apa jika nantinya Hasbi dengan Kayla kembali. Tapi...
"Em... Enggak kayanya, Bu."
"Loh, kenapa? Biasanya dia rajin jemput kamu."
"Hasbinya ada urusan," terpaksa Binar berbohong.
"Oh, ya sudah. Nanti sama Ayah aja, sekalian nganterin adek."
Binar mengangguk saja dan melanjutkan makan.
---
Binar sedang sibuk dengan buku tugas fisikanya saat ini. Tak hanya Binar yang sedang sibuk, tapi teman-temannya juga sedang sedang sibuk. Sibuk mencontek. Binar yang sedang sibuk berdebat dengan Yena tentang jawaban dari tugas-tugas itu, sedangkan yang lain sibuk menyalin jawaban. Selalu seperti itu.
Tak lama kemudian, Hasbi datang ke kelas dengan agak tergesa-gesa. Lalu sesampainya di kelas ia seperti mencari-cari seseorang. Dan menemukan... Binar!
"Woy! Lo tadi berangkat sama siapa?" tanya Hasbi sambil berjalan mendekati Binar.
Binar yang masih berdebat dengan Yena, segera menolehkan kepalanya ke arah Hasbi. Ia terlihat malas untuk berhadapan dengan Hasbi lagi. Dan ia memilih untuk melanjutkan perdebatannya dengan Yena.
"Nar, lo marah sama gue? Tadi gue hubungi lo juga nggak lo angkat-angkat. Malah ditolak. Lo kenapa? Apa gara-gara tadi malam?"
Binar menolehkan kepalanya sekali lagi ke arah Hasbi, "Gue nggak akan marah kalau lo jujur tadi malam lo kemana. Katanya ada urusan, tapi malah sama mantan. Mau ngajak balikan?"
Hasbi terlihat sedikit terkejut, "Kok lo tau?"
Binar memalingkan wajahnya dan segera keluar dari kelas. Ia tak tahu ia akan kemana. Yang jelas, hati dan pikirannya kini sedang meminta Binar untuk menjauh sebentar dari Hasbi.
Pada akhirnya Binar berjalan terus menuju perpustakaan dengan alasan meminjam buku. Sesampainya di perpustakaan ia segera berjalan menuju lorong rak buku yang penuh dengan novel-novel. Ternyata ia tak sendiri di lorong tersebut, ada seorang cowok yang Binar tebak sepertinya kakak kelas.
Lumayan tinggi, sawo matang, rambut rapi, tetapi seragam agak berantakan. Begitulah kira-kira ciri-cirinya.
"Dek, sendiri aja?" tanya kakak kelas itu tiba-tiba.
Binar terkejut. Ia menolehkan kepalanya ke segala arah dengan maksud mencari seseorang di sekitarnya, mungkin ia mengira bahwa kakak kelas di sebelahnya ini sedang berbicara pada orang lain, bukan pada dirinya. Tapi tak ada satu orangpun di sekitar mereka.
"Ditanyain kok malah diam aja."
"Aku?" tanya Binar menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
"O-Oh... i-iya sendiri," jawab Binar gugup.
"Nyari novel juga?"
__ADS_1
"Iya."
"Oh iya. Tolong bisa nggak cariin novel yang judulnya 'Merpati dan Kamu' yang sampulnya kalau nggak salah warna hijau toska gitu. Kemarin temen gue ada yang pinjam itu soalnya di sini. Tapi kok gue nyari novel itu nggak ketemu-ketemu ya daritadi," katanya sambil berjongkok mencari buku di rak bawah.
"Oh... itu. Itu masih dipinjam temen sekelas aku, Kak. Kayanya banyak banget ya yang suka sama novel itu. Emang bagus, sih."
"Lo tau novelnya?" tanyanya dengan tatapan penuh tanya.
"Iya. Aku punya, Kak. Sering baca juga, sih. Bagus."
"Oh ya? Gue boleh pinjam, nggak?"
"Pinjam punyaku?"
"Iya. Ya... itu sih kalau boleh. Kalau nggak juga nggak papa. Gue nggak maksa loh, ya."
"E-Eh. Boleh, kok. Mau diambil kapan?"
"Nanti malam, mungkin. Kasih tau aja alamat rumah lo. Atau nggak nanti gue ke kelas lo."
"Emangnya kakak tau aku kelas berapa?" tanya Binar dengan tatapan menyelidik.
"Tau dong."
Bel tanda jam pelajaran dimulai sudah berbunyi. Mereka berdua segera cepat-cepat keluar dari perpustakaan dan segera berlari ke kelas masing-masing. Raga Binar sedang berlari, tetapi pikirannya seperti masih tertinggal di perpustakaan. Siapa cowok tadi?
---
"Aduh Ghea gue masih kenyang. Gue nggak mau ke kantin ah! Mau dengerin musik aja," tolak Binar ketika Ghea tetap memaksanya untuk mengantar Ghea ke kantin. Ia segera mengambil earphone di tasnya dan mencolokkan earphone tersebut pada port yang sudah tersedia di handphone-nya.
"Oh My God, Binar! Anterin sebentar aja beli cilok. Ini perut udah dangdutan," bujuk Ghea sekali lagi. Tetap saja tak mempan bagi Binar.
"Beneran nih lo nggak mau anterin gue? Ya udah deh gue sendiri aja," ucap Ghea pasrah.
Hasbi segera mendekati Binar ketika melihat Ghea sudah pergi keluar kelas.
Binar menoleh, "Kenapa?"
"Lo masih marah sama gue? Ya maaf," ucap Hasbi memelas.
Binar melepaskan earphone-nya lalu menghadap ke arah Hasbi.
"Bi, sebenarnya gue nggak akan marah kalau lo jujur. Tapi lo udah bohong ke gue. Apa susahnya sih bilang kalau lo lagi sama Kayla di taman? Lagian gue juga nggak akan ngelarang, kok. Emang gue siapa?"
Hening. Hanya tersisa suara beberapa anak yang sedang memakan bekalnya di dalam kelas.
"Cemburu, ya?" tanya Hasbi dengan wajah menggoda.
Binar membelalakkan matanya dan segera memukul tangan Hasbi lumayang kencang membuat Hasbi mengaduh kesakitan.
"Lo rese banget, sih! Sana ke kantin aja sama Ghea!"
"Nggak mau, maunya sama Binar," ucap Hasbi dengan senyuman lebar.
Binar hanya tertawa sambil memasang kembali earphone-nya.
---
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, waktu untuk pulang telah tiba. Disambut hangat dan gembira oleh para pelajar. Surga bagi para pelajar saat ini.
Binar melangkahkan kaki keluar kelas dengan perasaan bahagia karena hari ini ia tak ada ekstrakurikuler yang harus ia ikuti. Jadi ia bisa bersantai lebih lama di rumah.
"Nar, pulang bareng, ya?" ajak Hasbi.
"Oke."
__ADS_1
Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Binar.
"Siapa, Nar?" tanya Hasbi penasaran.
"Kakak kelas yang tadi pagi ketemu di perpustakaan," jawab Binar santai.
"Lo kenal?"
"Nggak, sih. Tapi dia bilang dia tau kelas gue."
"Untung lo belum pulang."
"Iya, Kak. Ada apa, ya?"
"Lo lupa? Gue kan mau pinjam novel sama lo."
"Oh iya. Tapi novelnya di rumah, Kak. Gimana?"
"Em... gimana kalau gue anterin lo pulang aja? Sekalian ambil novel maksudnya. Oh iya kenalin, nama gue Arik. Kelas 12 MIPA 2," ucap Arik sambil menjulurkan tangannya ke arah Binar.
Binar menjabat tangan Arik dengan was-was, "Binar."
"Jadi gimana? Mau gue anter nggak?" tanya Arik sekali lagi.
"Nggak. Binar pulang bareng gue," jawab Hasbi tiba-tiba.
Arik menolehkan kepalanya ke sumber suara, "Lo mantannya Kayla, ya?"
"Apa urusannya?" tanya Hasbi dengan tatapan tak suka.
"Bener ya katanya lo sama Kayla mau balikan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Hasbi, ia justru menambah pertanyaan.
"Nar, pulang yuk."
"I-Iya. Pulang dulu ya, Kak."
"Oh iya. Hati-hati ya," ucap Arik sambil tersenyum manis.
"Bi, kakak kelas aja sampai tau loh kalau lo sama Kayla mau balikan. Gimana tuh?" ucap Binar setelah mereka berdua mulai jauh jaraknya dari Arik.
"Nggak usah dengerin," jawab Hasbi ketus.
"Ih, galak banget."
"Lo mau tau nggak?"
"Apa?" tanya Binar antusias.
"Gue baru ingat kalau dia tuh mantannya Kayla waktu Kayla masih SMP dulu. Pantes aja ketemu gue reaksinya gitu."
"Masa sih?"
Hasbi hanya mengangguk.
"Tuh gue bawa helm buat lo," Hasbi menunjukkan helm yang terletak di atas sepeda motornya.
"Makasih. Hasbi baik, Hasbi pinter, Hasbi nggak sombong."
"Nar, nggak mudah buat gue merasa nyaman," celetuk Hasbi.
"Terus?" tanya Binar dengan wajah kebingungan. Bingung kenapa tiba-tiba pujaan hatinya berbicara seperti itu.
"Tapi lo bisa buat gue merasa nyaman. Kenapa, ya?"
__ADS_1
Hasbi tersenyum sambil menatap Binar penuh arti.
Binar tersenyum, "Pertanyaan retorik."