
"Kak Arik?"
Binar sedikit terkejut. Begitupun dengan Hasbi yang sedang berbicara dengan Binar.
Teman-teman sekelasnya pun juga ikut menoleh ke arah pintu kelas. Membuat suasana agak sedikit canggung.
"Eh, Binar! Sini sebentar," ucap Arik sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Binar menurut.
"Ini ada undangan acara ulang tahun aku besok malam, datang ya!" Arik menyerahkan sebuah undangan yang dimaksud.
Binar memandangi undangan itu dengan ragu, lalu ia terima saja undangannya.
"Tapi, aku malu, Kak. Nanti di sana kelas sebelas sendiri," ucap Binar cengengesan.
"Ada Ardan juga, kok. Kalau mau datang, bareng sama Ardan aja. Kalian deket 'kan?"
Hasbi yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka berdua pun langsung panas hatinya ketika nama Ardan disebut.
"Em..." Binar menoleh ke arah Hasbi, dan Hasbi hanya menatapnya datar.
"Gimana, Nar? Bisa 'kan?" tanya Arik memastikan.
"Insyaa Allah, Kak. Tapi aku juga nggak janji, ya. Karena biasanya kalau malam aku jarang dibolehin keluar, apalagi sama cowok yang belum dikenal banget sama keluarga aku."
"Oh, oke. Tapi gue harap sih lo bisa datang."
Binar hanya mengangguk.
"Oh, iya! Novel yang mau gue pinjam itu, dibawa, nggak?"
Tiba-tiba Ghea datang sambil menatap Binar dan Arik dengan tatapan heran. Seakan-akan mata Ghea menanyakan sesuatu pada Binar. Tetapi Binar segera mendorong pelan Ghea agar masuk ke kelas.
"Dibawa, nggak?" tanya Arik sekali lagi.
"Eh.. iya, Kak! Lupa. Maaf, ya..."
"Nggak papa. Gue ke kelas dulu, ya."
"Iya, Kak. Makasih."
Sebelum pergi, Arik menoleh ke arah Hasbi yang masih setia memperhatikan mereka berdua.
"Apaan tuh? Undangan, ya?" tanya Hasbi saat Binar sedang berjalan mendekat ke tempat duduknya.
"Iya, Bi."
"Nar, tadi siapa?" tanya Ghea.
"Lo awas dulu, Bi. Gue mau naruh tas. Lo malah di duduk di bangku gue."
"Iya, bawel!" Hasbi pun menyingkir.
"Itu Kak Arik, Ghe... Yang gue ceritain tadi malam."
"Oh itu yang namanya Arik? Yang chat lo terus?"
"Apa? Chat lo terus? Dapet nomer lo darimana?"
__ADS_1
Binar menggelengkan kepalanya.
"Tapi tadi kok Kak Arik ngundang Ardan juga, ya? Berarti dia kenal Ardan, dong! Mungkin minta nomer gue dari Ardan," tebak Binar.
"Serius Kak Arik kenal Ardan?" tanya Ghea tak percaya.
Binar mengangguk, "Malah katanya kalau mau datang ke acara ulang tahunnya dia nanti gue berangkat bareng aja sama Ardan gitu."
"Dia nyuruh lo berangkat bareng sama Ardan?" kini Hasbi yang bertanya dengan heran.
"Kenapa emangnya?" tanya Binar.
"Jujur aja sebenarnya gue nggak setuju kalau lo deket-deket sama Ardan, ataupun Kak Arik. Gue tau sifat mereka kaya gimana. Gue takut lo kecewa, Nar. 'Kan ada gue, Nar. Gue akan selalu ada buat lo. Lo jangan cari yang lain," ucap Hasbi serius menatap mata Binar yang sedang redup cahayanya.
Perasaan Binar kini benar-benar bimbang. Ia terkadang ingin jujur kepada Hasbi bahwa selama ini ia menyimpan rasa padanya. Tapi di sisi lain ia juga sadar bahwa Hasbi sebenarnya masih ada rasa pada Kayla, jadi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia benar-benar pada perasaannya saat ini. Apakah tetap mencintai, atau harus berhenti?
---
"Lo mau beli apa, Nar? Bakso? Siomay?" tanya Hasbi ketika sesampainya di kantin.
"Gue nggak mau beli apa-apa, Bi."
"Terus ngapain lo ke kantin?"
"Tadi 'kan gue diajak sama lo."
"Gue juga nggak mau jajan. Gue mau ajak lo ke taman belakang aja. Yok!" ajak Hasbi sambil beranjak pergi dari kantin ke taman belakang. Binar pun hanya menurut.
Di jalan menuju taman belakang, mereka bertemu dengan Ardan.
"Lah? Kok masih sama Binar aja, Bi?" tiba-tiba Ardan bertanya dengan tatapan merendahkan.
Binar dan Hasbi hanya diam saja. Mereka hanya menatap Ardan dengan tatapan dingin.
"Maksudnya?" tanya Binar bingung.
"Iya. Lo itu jadi pelampiasan Hasbi doang. Hasbi itu deketin lo karena sebenarnya itu cuma pengalihan rasa dari Kayla. Hasbi tuh sebenarnya belum bisa move on dari Kayla. Tapi dia sok jual mahal aja waktu diajakin balikan sama Kayla. Gue kasihan sama lo. Gue juga kasihan sama Kayla. Jadi korban dia doang!" jawab Ardan sambil menunjuk-nunjuk Hasbi tepat di depan wajah Hasbi.
Binar menoleh ke Hasbi meminta penjelasan. Tapi yang ditatap justru diam saja.
"Bi, lo bela diri sendiri dong! Lo direndahin gitu masa lo terima aja?!"
Hasbi masih tetap diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Bi! Ngomong, dong!" bentak Binar. Ia merasa tak terima jika Hasbi direndahkan seperti itu. Hatinya tiba-tiba sakit. Seperti ditusuk.
Hasbi menatap ke arah Binar dan memegang pundak Binar, "Maaf, Nar."
Setelah kata itu keluar dari mulut Hasbi, Hasbi segera pergi entah kemana meninggalkan Binar dan Ardan berdua.
Binar remuk. Binar seperti terjatuh ke lubang hitam, dalam, dan menyakitkan. Air matanya tak bisa dibendung lagi.
"See? Dia aja ninggalin lo. Percaya 'kan? Gue jadi pingin ketawa" ucap Ardan sedikit melucu.
Binar segera pergi dari tempat itu. Rasanya ia ingin menjauh dari semua orang.
---
Binar memasuki kelas dengan langkah agak sedikit goyang. Bahkan ia sampai menabrak pintu kelas.
__ADS_1
"Ya ampun Binar... Lo kenapa?" Ghea segera mendekati Binar.
"Gue pusing banget, gue mau pulang aja, Ghe. Tolong telfon tante atau om gue, ya. Gue mau ke rumah nenek aja. Jangan telfon orang tua gue."
"Oke."
Sementara itu, Hasbi sedang duduk di depan aula menunggu seseorang. Kayla. Kayla yang Hasbi tunggu.
"Ada apa, Bi?" tanya Kayla ketika Kayla sudah berada di hadapan Hasbi.
Hasbi hanya diam. Ia bingung untuk menyampaikannya.
"Kayla, gue minta balikan."
"Ha???"
---
"Nar, itu tante lo udah di depan. Gue antar ke depan, yuk."
Karin membantu Binar berjalan, dan Ghea yang membawakan tas Binar.
"Syahla, gue minta tolong banget nih, minta surat izin ke BK ya buat Binar. Biar ini yang rapiin gue aja," ucap Ghea kepada Syahla yang sedang ikut merapikan barang-barang Binar.
"Oke," Syahla segara pergi ke ruang BK untuk meminta surat izin.
"Ayo, Rin."
Mereka berdua segera membawa Binar ke depan pintu gerbang. Sesampai di pintu gerbang, tantenya menatapnya dengan tatapan khawatir dan segera berterima kasih kepada Karin dan Ghea yang sudah mengantarkan Binar.
"Sekali lagi saya dan Binar sangat berterima kasih kepada kalian. Kami pulang dulu, ya," ucap tantenya Binar dari dalam mobil.
"Iya, Tante. Sama-sama. Hati-hati. Binar, jaga kesehatan, ya..." ucap Ghea tulus.
Binar hanya mengangguk sambil tersenyum. Untuk berbicara saja rasanya lemas. Mobilpun melaju normal menuju rumah neneknya Binar.
"Kamu kenapa kok nggak mau pulang ke rumah? Ada masalah ya di rumah? Lain kali cerita sama tante."
Yang diajak bicara malah diam. Lebih tepatnya Binar tak mendengar jika tantenya sedang mengajaknya berbicara. Ia sedang melamun. Ia sedang memikirkan keadaannya saat ini. Sakit hatinya. Rasanya hancur.
"Udah sampai, Nar. Tante bantuin jalan, ya."
Binar menatap rumah di depannya ini. Rumah berlantai dua yang sederhana, tetapi menyimpan banyak kenangan bersama kakeknya yang telah meninggal 5 tahun yang lalu. Tujuannya ia ke rumah ini adalah neneknya. Ia ingin berkeluh kesah kepada neneknya seperti biasa. Binar sering ke rumah neneknya karena jarak rumah mereka berdua memang lumayan dekat, hanya beda komplek perumahan. Ia datang ke rumah ini untuk bercerita banyak hal. Tetapi akhir-akhir ini ia jarang datang ke rumah ini karena tugas sekolah membuatnya jarang pergi kemana-mana.
Sang Nenek menyambut dengan rasa khawatir, "Kamu kenapa, Binar? Kok pucat banget? Tidur di kamar nenek aja, ya?"
Binar mengangguk. Lalu neneknya membawanya ke kamar penuh cerita itu. Di kamar itulah Binar bercerita pada neneknya penuh tawa atau bahkan penuh tangis.
"Duduk dulu ya, Binar. Tante ambilin makan sama teh anget dulu."
Setelah dirasa tantenya pergi, neneknya segera menutup pintu kamar dan menanyakan apa yang terjadi.
"Mata kamu sembab, kamu pasti habis nangis. Kenapa? Nenek tau kalau kamu lago ada masalah. Jangn ditutupi. Cerita sini ke nenek apa yang belum kamu ceritakan," ucap nenek sambil duduk di samping Binar dan memeluk Binar dengan tulus.
Seketika Binar menangis. Ia hanya benar-benar menangis. Bahkan tantenya yang ingin masuk kamar untuk membawakan makanan dan minumannya menjadi mengurungkan niatnya karena mendengar Binar menangis hingga sesenggukan. Ia tau jika Binar sedang menangis di kamar neneknya, itu artinya Binar sedang bercerita. Ia harus bisa menghargai privasi keponakannya itu.
"Binar kecewa, Nek..."
"Binar kecewa sama temen sendiri. Binar udah percaya sama dia, tapi dia malah buat Binar sakit hati..."
__ADS_1
"Binar juga bingung sama ayah ibu akhir-akhir ini, Nek. Tadi malam ayah pergi bawa koper, terus ibu juga nangis. Binar takut nanti salah satu dari mereka meninggalkan Binar..."
Tangis Binar semakin keras. Tanpa Binar sadari, sedari tadi neneknya juga menangis mendengarkan tangisan pilu dari cucunya. Ia seperti merasakan apa yang cucunya rasakan.