Sabinar Is Okay

Sabinar Is Okay
Salahkah Berharap?


__ADS_3

Semenjak percakapannya dengan Ardan waktu itu, Hasbi jadi lebih sering murung. Ia memikirkan apakah memang benar bahwa ia belum benar-benar bisa move on dari Kayla?


"Gue nggak tahu kenapa gue bisa bersikap baik sama Binar. Dan seakan-akan lebih romantis dari biasanya," ucap Hasbi pada dirinya sendiri.


Lalu Hasbi pergi dari kamarnya dan berjalan menuju ruang musik yang ada di rumahnya. Ia bermain piano dan memainkan lagu kesukaannya. Jari jemarinya yang menekan tuts-tuts piano dengan indah selalu dapat menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Termasuk kakaknya sendiri yang sedang berdiri di depan pintu ruang musik itu sambil mendengarkan alunan piano merdu yang Hasbi mainkan.


Hasbi tak menyadari bahwa Sang Kakak telah berdiri lama di depan pintu. Ia selalu fokus ketika bermain piano. Dan mengingat semua memori bersama dengan orang-orang yang berkaitan dengan piano ini ataupun lagunya yang sedang ia mainkan.


"Kalau masih sama Kayla gue bisa main piano terus di sebelah gue ada Kayla lagi nyanyi. Sekarang udah putus. Mana bisa kaya dulu lagi?" Hasbi berbicara sendiri.


"Oh, jadi lo kangen Kayla?" tanya Galang, Sang Kakak.


Hasbi terkejut. Ia mencoba untuk tenang dan santai di depan kakaknya.


"Nggak," jawab Hasbi tenang.


"Halah! Gitu banget kangennya. Lo bisa bucin juga, ya?"


"Pergi sana, Bang! Males banget lihat lo. Ini hari minggu. Masa cuma di rumah doang. Nggak punya pacar, ya? Kurang ganteng, sih. Jadi jomblo 'kan," ledek Hasbi.


"Durhaka lo jadi adek," ucap Galang lalu pergi entah kemana.


---


"Kok Hasbi nggak chat gue, ya? Biasanya 'kan jam segini chat gue. Terus ngajak keluar."


Binar memantau layar handphone-nya sambil berharap Hasbi segera mengirimkan pesan padanya. Karena saat liburan begini, biasanya Hasbi dan Binar selalu chatting ala anak pacaran. Hal itu yang membuat Binar menjadi susah untuk mencari pujaan hati yang lain selain Hasbi. Hasbi bisa menjadi seseorang yang humoris, romantis, perhatian, penyayang, dan lainnya yang selalu membuat Binar semakin jatuh kepadanya.


"Aaarrgghh!!" Binar melempar handphone miliknya frustasi.


"Gue nggak mau terlalu berharap sama lo, Bi... Sekali-kali kek lo menjauh dulu dari gue, jangan deketan terus... Gue jadi semakin jatuh ke lo," ucap Binar sedikit berteriak. Mumpung tidak ada orang di rumahnya selain dirinya. Jadi ia bebas untuk melakukan apa saja.


"Duh, gabut banget di rumah sendirian. Apa ngajak Hasbi jalan aja kali, ya?" tanya Binar pada dirinya sendiri.


"Ih masa cewek duluan yang ngajak jalan. Nanti dibilang murahan."


"Nggak papa, deh! Yang penting nggak sendirian di rumah," ucap Binar sambil mengambil handphone-nya untuk mengirim pesan pada Hasbi agar menjemputnya dengan alasan pergi ke toko buku. Alasan klasik.


From : Hasbi Kampret

__ADS_1


Iya bentar lagi gue jemput. Yang cantik ya biar nanti lo salting lagi pas gue puji


Begitulah kira-kira isi pesan terakhir dari Hasbi yang dikirim kepada Binar sebelum mereka jalan-jalan.


"Perasaan gue jadi kaya es krim kalau kena panas. Meleleh."


Lalu Binar dengan semangat memilih-milih baju yang akan ia pakai. Setelah dirasa ia sudah menemukan baju yang cocok, ia segera duduk manis di depan meja riasnya untuk make up sederhana saja.


Kaos abu-abu panjang dengan celana jeans yang ia kenakan hari ini tampak begitu sederhana. Juga dengan rambut sebahunya yang ia kuncir ke belakang.


Tak lama kemudian ia mendengar suara seseorang yang mengetuk pintu depan rumahnya agak kencang. Ia pikir mungkin saja itu Hasbu. Lalu ia turun ke lantai satu dan tak lupa dengan membawa slingbag-nya.


"Assalamu'alaikum..." terdengar seseorang memberi salam di depan rumah sambil terus mengetuk pintu.


"Waalaikum salam. Iya ini mau dibukain," jawab Binar sambil membukakan pintu.


"Nah gitu, dong! Ayo jalan sekarang."


"Iya. Gue mau kunci pintu dulu," Binar segera mengambil kunci rumahnya yang ada di slingbag-nya dan mengunci pintu itu.


"Kok dikunci? Di rumah nggak ada orang? Lo sendirian?"


"Ayo, Bi."


---


Sesampainya di toko buku, justru Binar bingung ingin membeli buku apa. Karena sebenarnya tujuannya bukan untuk membeli buku. Hanya ingin pergi saja dan jalan dengan Hasbi.


"Kok lo malah bingung? Katanya mau ke toko buku."


"Sebenarnya gue cuma mau pergi aja. Gabut banget di rumah, Bi."


"Karena gabut di rumah apa karena pingin jalan sama gue?" Hasbi tersenyum sambil menyenggol lengan Binar.


Binar agak terkejut dengan pertanyaan Hasbi. Bagaimana ia bisa tahu?


"Idih! Nggak boleh terlalu percaya diri nanti kalo terlanjur percaya diri jadinya sombong," ucap Binar menyembunyikan kegugupannya


"Kita juga nggak boleh terlalu berharap sama manusia. Nanti kalau harapan itu nggak terjadi, sakit banget. Berharap aja sama Allah," ucap Hasbi sambil melihat-lihat komik yang ada di toko buku itu. Entah kenapa tiba-tiba mulutnya ingin berbicara seperti itu.

__ADS_1


Binar tersenyum getir mendengar ucapan bijak Hasbi. Ia teringat akan harapannya yang ingin menjadi salah satu orang istimewanya Hasbi. Tapi, mendengar Hasbi mengucapkan tentang rasa berharap itu, ia agak ragu untuk harapannya itu.


Setelah beberapa lama Binar memilih-milih buku. Akhirnya ia jadi untuk membeli buku tentang seorang motivator yang sangat terkenal. Di saat Binar akan membayar ke kasir, tidak sengaja Hasbi yang mengikutinya dari arah belakang melihat ke arah pintu keluar-masuk toko buku tersebut karena letak kasir dan pintu sangat dekat. Ia melihat Kayla dan Ardan sedang bergandengan tangan masuk ke toko buku itu.


Ardan dan Kayla sempat melihat Hasbi dan Binar di depan meja kasir sedang menunggu giliran Binar untuk membayar. Tetapi mereka tak peduli dan lanjut jalan melewati belakang Hasbi dan Binar. Hasbi melihat Binar sedang membaca sinopsis buku yang Binar beli di bagian belakang buku itu sambil menunggu giliran Binar membayar. Sepertinya Binar tak melihat Ardan dan Kayla. Jika Binar melihat, sudah pasti ia akan berisik mengadu pada Hasbi. Hasbi mencari cara supaya Binar tak perlu melihat Ardan dan Kayla. Akan sakit bagi Binar jika ia melihat Ardan dan Kayla bergandengan tangan sedangkan akhir-akhir ini hubungan Ardan dan Binar semakin membaik.


---


"Makan dulu, yuk!" ajak Binar pada Hasbi.


"Dimana?"


"Bakso aja di tempat biasa."


"Oke."


Sesampainya di bakso langganan mereka, mereka segera memesan bakso dan juga minumannya. Mereka duduk juga di tempat yang biasa mereka duduki.


"Eh, Bi! Tadi pas mau pulang dari toko buku itu, gue kaya lihat Kayla. Tapi nggak tahu sama siapa. Kayanya sendirian, deh! Temenin kali," ucap Binar sambil mencoba memancing Hasbi agar bercerita tentang bagaimana hubungannya dengan Kayla sekarang.


Sebenarnya Hasbi agak terkejut dengan kata Binar. Ternyata Binar melihat Kayla. Tetapi untunglah Binar tak melihat Ardan juga di sana.


"Ha? Masa? Gue nggak lihat. Lagian kalau itu emang Kayla, ngapain gue mau nemenin dia. Orang udah putus juga," jawab Hasbi santai.


"Ya temenin aja. Lo nggak ada niatan buat balikan sama Kayla gitu?"


"Kalau gue balikan sama Kayla, nanti lo gimana?"


"Ha? Kok gue? Maksudnya?" Binar benar-benar tak mengerti dengan pertanyaan Hasbi.


"Lupain aja. Tuh baksonya udah datang,"


Sepertinya Hasbi memang sedang lapar. Bahkan belum ada lima menit ia makan baksonya, sudah habis dulu. Lalu Hasbi menunggu Binar selesai makan. Setelah Binar selesai makan, mereka berbincang-bincang sebentar. Menatap mata lawan bicaranya masing-masing, tertawa kecil, disela dengan perhatian-perhatian kecil. Pemandangan yang indah, bukan?


"Nar, cuma lo yang bisa ngertiin gue. Bahkan cuma lo yang tahu masalah pribadi gue. Em... gimana, ya? Bahkan gue juga kurang merasa nyaman untuk curhat sama keluarga gue. Gue tuh nyaman kalau curhat sama lo. Karena lo jadi dewasa gitu kalau lagi nanggapin gue cerita. Pokoknya gue nyaman sama lo. Apapun nanti yang terjadi, tolong tetap kaya gini. Sampai kapanpun. Gue sangat makasih banget sama lo," ucap Hasbi tulus sambil menatap mata indah Binar.


Binar ingin sekali memeluk Hasbi dan bilang semuanya akan baik-baik saja. Ia sangat tahu bagaimana keadaan hati Hasbi. Tentang masalah keluarganya, masalahnya dengan Kayla, dan yang lainnya. Memang selama ini Binar selalu mendengarkan semua apa yang Hasbi keluhkan. Dan itu membuat Hasbi nyaman.


"Iya," jawab Binar mengagguk mantap sambil tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2