Sabinar Is Okay

Sabinar Is Okay
Sabinar Iswara dan Cinta


__ADS_3

Sabinar Iswara. Atau biasa dipanggil Binar. Bak namanya, ia selalu berbinar-binar ketika melihat, mendengar, atau memikirkan apa saja yang ia kagumi dan ia sukai. Salah satunya adalah pujaan hatinya. Yang kini sedang duduk di sebelahnya sambil memakan bekal yang dibuatkan oleh Binar.


"Enak," kata Hasbi sambil mengunyah makanan yang dibuatkan Binar dengan lahap.


Raihan Hasbi Alzaki. Lelaki remaja berusia 17 tahun yang Binar cintai. Yang Binar pikir itu hanya rasa kagum biasa seperti seorang penggemar kepada idolanya. Ternyata lebih dari itu.


Bagaimana bisa ia mencintai sahabatnya sendiri? Takutnya, jika karena rasa cinta ini akhirnya malah membuat jarak mereka menjadi jauh. Binar tak ingin itu terjadi. Dan ia lebih memilih untuk diam dan memendam.


"Makasih,"


Hasbi menutup tepak makan itu lalu mengambil botol minum berisi air putih segar itu -yang juga disediakan oleh Binar- untuk membasahi tenggorokannya.


"Nggak mau tahu pokoknya besok bawain lagi!" Hasbi menyerahkan tepak makan dan botol milik Binar.


"Iya. Biasanya juga gitu. Padahal cuma nasi goreng doang. Hahaha..." terdengar suara tawa Binar yang renyah.


"Ya walau cuma nasgor doang tapi enak kalau dimakan pas lagi laper."


"Oh jadi cuma pas lagi laper doang ini enaknya? Oke... Gue marah sama lo!" ucap Binar berakting.


Di saat ini, jika orang yang belum mengenal Binar lebih dalam pasti akan mengira bahwa Binar memang benar-benar marah. Binar memang bisa berakting dengan baik, karena ia salah satu aktris di ekstrakurikuler teater di sekolahannya. Bahkan teaternya itu sudah sering diundang ke acara-acara penting di kota-kota besar.


"Idih pakai acara ngambek segala, kaya orang pacaran aja. Lagian nggak usah akting. Gue bisa bedain kali mana lo yang lagi akting sama mana yang lagi beneran," ucap Hasbi sambil pergi keluar kelas.


Binar tak menyadarinya. Pipinya kini kian merona. Binar menatap punggung Hasbi yang lumayan lebar.


"Kenapa sih semakin aku ingin lari dari rasa ini, justru aku malah semakin jatuh ke kamu," ucap Binar lirih. Mungkin bahkan dirinya sendiri tak bisa mendengar suaranya sendiri.


---


"Nar, lo udah dapet kelompok belum?" tanya Hasbi sambil mendekati Binar, lalu duduk di depan Binar. Terkadang saat seperti ini jantung Binar menjadi berdetak lebih cepat.


"Kelompok apa?" tanya Binar balik.


"Kelompok seni budaya," jawab Hasbi.


Deg. Deg. Deg.


Hasbi menatapnya tepat di inti mata. Tatapannya seakan merasuki jiwanya. Binar segera mengalihkan perhatiannya ke handphonenya yang sedang ia pegang.

__ADS_1


"Oh, udah. Tapi kurang satu orang, sih."


"Gimana kalau gue ikut kelompok lo? Gue belum punya kelompok," usul Hasbi. "Pada nggak ada yang ngajakin gue buat gabung di kelompoknya. Jahat 'kan?"


"Palingan nanti lo juga diajakin. Lo itu pasti dimasukin ke kelompok mereka. Lo 'kan aset mereka," ucap Binar sambil menunjuk ke segerombolan cowok-cowok di pojok kelas yang sedang bermain game.


Hasbi juga mengalihkan pandangannya ke pojok kelas. Lalu menatap Binar kembali.


"Nggak mau. Males. Maunya sama lo aja."


Binar terdiam.


Oh, tidak benar-benar terdiam. Dia hanya sedang berusaha menyembunyikan senyumnya yang kini ingin mengembang. Rasanya seperti melayang.


"Ya, ya, ya?" ucap Hasbi memelas.


"Ya udah."


"Oke, siap. Makasih!" ucap Hasbi sambil mengacak puncak kepala Binar lalu pergi begitu saja.


Wahai rasa, jangan terbang! Nanti terjatuh.


Binar menoleh ke belakang. Ternyata Ghea. Teman sebangkunya.


"Kenapa?"


"Hasbi suka sama lo, ya?" tanya Ghea tanpa basa-basi.


Binar terkejut. Maksudnya apa?


"Ng-Nggaklah. Gue 'kan sahabatnya," Binar mengelak sekaligus menyembunyikan kegugupannya.


"Emangnya kenapa kalau sahabat? Bukannya justru kalau cowok cewek sahabatan itu salah satunya pasti ada rasa?"


Iya, benar.


"Ya nggak semua 'kan?"


"Tapi perilaku Hasbi ke lo dari hari ke hari itu semakin memperlihatkan kalau dia tuh suka sama lo."

__ADS_1


"Masa?"


Ghea mengangguk yakin.


Bukannya bagaimana-bagaimana. Aku takut jikalau ini hanya anganku saja. Dan tak 'kan terjadi nantinya. Aku takut terjatuh dengan ekspektasi-ekspektasi halu.


---


Binar melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Tiga jam lagi waktunya untuk pulang. Menurut Binar sebentar sebenarnya jika waktu tiga jam itu diisi oleh pelajaran. Tapi kelas Binar sedang jam kosong, malah membuat ngantuk dan lama.


Entah mengapa badan Binar rasanya lemas sekali. Dan suhu badannya menjadi hangat. Matanya serasa pedas. Perutnya sakit dan kepalanya pusing. Binar menelungkupkan kepalanya. Kepalanya terasa berat.


"Nar, lo nangis?"


Itu suara Hasbi.


Binar menggelengkan kepalanya pelan. Masih terasa pusing.


"Sakit?"


Binar hanya diam. Badannya terasa panas tapi juga dingin. Binar mengangkat kepalanya. Terlihat wajah Binar pucat pasi. Hasbi panik.


"Ghea! Binar sakit!" seru Hasbi pada Ghea yang sedang berkumpul dengan gerombolannya di pojok kelas.


Ghea lari ke arah Binar yang duduknya terletak di paling depan. Ghea juga sama paniknya. Binar sudah terlihat lemas dan tatapannya kosong.


"Bawa UKS aja, Bi!" usul Ghea sambil membantu Binar untuk berdiri.


Baru saja Binar berdiri, Binar sudah tidak sadarkan diri dan hampir terjatuh. Untungnya Hasbi menahan tubuh Binar agar tak terjatuh ke lantai.


Hasbi semakin panik. Lalu ia berinisiatif untuk menggendong sahabatnya itu ke UKS. Teman-temannya bukan membantunya, malah hanya menonton saja.


Ketika Hasbi sudah membawa keluar Binar ke UKS, Ghea segera menelepon orang tuanya Binar untuk memberitahukan bahwa Binar pingsan.


"Eh, teman kalian pingsan! Bukannya bantuin malah nonton doang!" teriak Ghea kepada seluruh isi kelas lalu pergi meninggalkan kelas.


Di sisi lain, Hasbi agak kesusahan saat menuruni tangga karena UKS ada di lantai 1 sedangkan kelas mereka ada di lantai 2. Apalagi Hasbi menggendong Binar sendirian. Di saat semua kelas masih pelajaran pula, jadi tidak ada yang membantu. Jangankan kelas lain, teman sekelasnya pun tak ada yang berinisiatif membantu.


"Sabar, Nar. Bentar lagi sampai di UKS."

__ADS_1


__ADS_2