
Sejak tadi Binar tak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia masih terngiang kata-kata Hasbi tadi di parkiran sekolah. Kata-kata itu seolah melambungkan hatinya dan menerbangkan senyumannya. Ia tak menyangka saja Hasbi akan bertanya seperti itu.
"Binar, kok kamu daritadi cuma senyam-senyum mulu? Dimakan dong nasgornya. Udah dibuatin juga. Liat tuh adek kamu makannya udah hampir habis, kamu setengah aja belum," ucap ayahnya mengomel.
"Tau tuh kakak daritadi senyam-senyum doang, dimakan nggak. Makan napa, Kak," timpal Indira, adik Sabinar yang masih kelas 2 SD.
"Apaan sih," jawab Binar malu-malu.
"Kalau udah kenal cinta ya gitu, Yah."
"Ih, apaan sih, Bu? Nggak kok."
"Pipinya jadi merah gitu, efek pakai blush on apa karena lagi salting nih?" Sang Ibu terus menggoda Binar.
Binar segera memegangi pipinya, "Nggak pernah pakai blush on juga. Paling pakainya kalau ke acara penting doang."
Tiba-tiba suara notifikasi dari WhatsApp di handphone Binar berbunyi. Ada satu nomor tak dikenal mengirimkan pesan padanya. Segera ia membuka notifikasi tersebut.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat apa isi pesan tersebut. Ternyata pesan tersebut berasal dari Kak Arik yang tadi tidak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan sekolah.
Kak Arik? Ngapain?
"Binar, jangan main HP. Makannya dihabisin dulu."
Binar segera tekan tombol home dan segera menghabiskan makannya.
***
"Iya, Ghe. Masa tiba-tiba dia WA gue. Dia dapat nomor gue darimana coba?" Binar masih setia pada perbincangannya dengan Ghea melalui videocall.
Di seberang sana Ghea sedang sibuk ber-make up ria sambil mendengarkan cerita temannya itu.
"Dia minta sama salah satu teman kelas kita kali. Tapi jujur ya gue nggak tau Kak Arik itu yang mana. Tapi kalau kelas 12 MIPA 2 yang gue tau cuma Kak Bagas yang anak basket itu, sama Kak Fida yang ketua rohis yang alim banget itu. Udah," ucap Ghea sesekali menghadap ke kamera handphone-nya.
"Bingung gue. Daritadi chat gue mulu. Belum gue bales ini."
"Mau deketin lo kali."
"Idih!"
Melihat Ghea sepertinya sedang sibuk sekali di rumahnya, ia bingung ingin melanjutkan ceritanya atau tidak.
"By the way, lo mau kemana sih pakai acara make up-an segala. Mau nge-date?"
"Kagaklah! Gue mau nge-date sama siapa juga. Gue mau ke acara resepsi pernikahan sepupu gue di Gedung Wira Asri, deket sama komplek perumahannya Hasbi 'kan? Mau titip salam ke Hasbi nggak? Siapa tau nanti gue mau mampir ke rumahnya."
"Ish apaan sih!"
"Salting juga lo akhirnya. Hahaha..."
"Eh, gue baru inget. Tadi pulang sekolah 'kan Kak Arik nyamperin gue, terus ketemu Hasbi. Reaksinya Kak Arik tuh kaya ngerendahin Hasbi gitu. Kata Hasbi, ternyata Kak Arik itu mantannya Kayla waktu SMP. Pantesan lihat Hasbi kaya gimana gitu."
"Seriously? Mantannya Kayla? Aduh, Nar... Lo kenapa sih deketnya harus sama orang yang pernah punya hubungan sama Kayla, sih? Dulu pas kelas 10 lo pernah deket sama Kelvin. Kelvin juga 'kan mantannya Kayla waktu SMP. Tapi Kelvin sama Kayla nggak lama, sih. Cuma dua bulan doang," ucap Ghea semangat bercerita.
"Apa? Kelvin pernah pacaran sama Kayla? Lo tau darimana sih gosip kaya gitu? Heran gue. Lagian lo kan juga nggak satu SMP sama Kayla," sahut Binar terheran-heran dengan sahabatnya ini yang gila gosip.
"Kelvin pernah cerita sendiri ke gue. Dan jangan lupa kalau gue sama Kelvin sepupuan. 'Kan gue dulu pernah bilang ke lo kalau gue sepupunya Kelvin."
__ADS_1
"Oh, iya gue lupa. Hehehe..." Binar cengengesan.
"Udah dulu ya. Gue mau berangkat nih. Gue tutup dulu ya videocall-nya. Bye..."
"Bye... Hati-hati."
Videocall pun berakhir. Binar segera meletakkan handphone-nya di meja belajarnya dan segera melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda tadi.
***
Angin malam terasa dingin dan terasa menusuk kulit-kulit bersih milik Binar. Ia terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa jendela kamarnya masih terbuka. Lalu ia segera turun dari ranjangnya dan menutup jendela. Ketika hendak menutup jendela, ia melihat ayahnya pergi menggunakan mobil sambil membawa koper. Ia bingung dan spontan turun ke lantai satu. Ia merasa sedang ada yang tidak beres.
Ibunya melihatnya turun tangga dengan tergesa-gesa. Binar menatap mata ibunya yang sepertinya baru saja menangis. Binar tak tau harus apa.
"Kok kamu belum tidur, Nar?" Ibu mendekat ke arah Binar yang sedang terlihat bingung.
"Ayah mau kemana?" tanya Binar gemetar, ia ingin menangis melihat mata ibunya yang ternyata terlihat merah dan sedikit bengkak, menandakan Sang Ibu sudah menangis sejak tadi.
Ibunya segera memeluk Binar tanpa menjawab pertanyaan dari anaknya.
"Tidur dulu, ya? Ibu capek," kata ibunya lalu berjalan ke lantai dua.
Binar masih terpaku di lantai satu. Ia tak tau ada apa sebenarnya. Ia ingin bertanya lebih dalam pada ibunya, tapi ia tak tega. Ia ingin tidur tapi tak bisa.
---
06.20
Sabinar sudah berada di kelasnya. Melamun dan tidak tau harus apa. Hati dan pikirannya masih berdiskusi tentang kejadian tadi malam. Ada apa sebenarnya? Mengapa ayahnya pergi? Tadi pagi juga ayahnya tidak di rumah.
"Huh!" seru Binar.
"WOY!!!"
Teriakan itu membuat Binar terkejut. Ia menoleh ke sumber suara, ternyata Hasbi.
"Bisa nggak sih pagi-pagi gini jangan buat tambah pusing?"
"Lo tuh yang buat gue pusing. Gue samperin ke rumah ternyata lo udah berangkat. Akhir-akhir ini lo susah banget sih dihubungi, kenapa? Ada masalah? Cerita, dong!" Hasbi duduk di sebelah Binar sambil menatap Binar dengan tatapan penuh arti.
Binar balas menatap Hasbi. Tapi ia tak kuasa. Mata itu selalu membuat hatinya meleleh. Ia selalu dibuat berdebar dengan sikapnya. Sialnya, aku suka.
"Bi..."
"Hm?"
"Makasih, ya."
"Makasih untuk?"
Binar segera mengalihkan pandangannya, beralih menatap keluar kelas. Dan mulai menitikkan air mata.
"Kok lo nangis? Hei, kenapa?"
"Nggak papa, kok. Gue cuma capek," jawab Binar sambil menghapus airmatanya karena beberapa temannya sudah mulai berdatangan.
"Gue selalu ada di samping lo, kok."
__ADS_1
Binar tersenyum, dan dibalas Hasbi. Senyum Hasbi membuat mood-nya semakin membaik.
"Bi, Kayla nyariin lo tuh di depan," ucap Radja yang baru saja berangkat.
"Bentar, ya," Hasbi segera keluar kelas untuk menemui Kayla.
Dan Binar hanya mengacungkan satu jempol tangannya tanda setuju.
"Baru aja baper-baperan, malah mantannya datang!" gerutu Binar lirih.
Sementara itu di luar kelas, Kayla menemui Hasbi sambil membawa bekal.
"Ada apa?" tanya Hasbi.
"Ini ada bekal buat kamu. Hehe..." jawab Kayla sambil menyerahkan tepak makan warna biru laut polos itu.
Hasbi menatap tepak makan itu sambil berterima kasih dan hendak masuk ke dalam kelas lagi, namun tangannya ditahan oleh Kayla.
"Kenapa?" tanya Hasbi sambil melepaskan tangan Kayla yang masih setia melekat di tangannya.
"Nanti malam ke taman lagi, yuk!" ajak Kayla ceria.
"Maaf ya Kay, nanti malam gue udah janjian sama Binar," terpaksa Hasbi berbohong. Karena sebenarnya ia ingin menghindar dari mantannya ini.
"Oh, nggak papa! Binar nanti ikut aja."
"Tapi gue sama Binar mau belajar."
"Gimana kalau nanti aku ikut belajar juga?"
Hasbi kehabisan akal untuk berbohong.
"Nggak tau, nanti malam di rumah Binar belajarnya. Jadi gue harus ngomong dulu sama Binar. Oh, iya. Makasih bekalnya, gue masuk dulu," Hasbi segera masuk ke kelas dan mengabaikan Kayla.
"Dari Kayla, Bi?" tanya Binar setelah melihat Hasbi sedang membuka tepak makan biru laut itu.
Hasbi hanya mengangguk.
"Nar, buat lo aja, nih!" Hasbi menyerahkan bekal yang diberi Kayla tadi kepada Binar.
"Loh kenapa?"
"Lauknya udang. Gue 'kan alergi udang."
"Nggak papa, nih?" tanya Binar memastikan.
"Nggak papa."
"Tau aja lo kalau gue tadi sarapan cuma roti doang. Hahaha... Makasih, ya!"
"Sama-sama."
Binar segera membuka bekal itu dan mulai memakannya dengan lahap. Binar terlihat kelaparan hingga tersedak.
"Pelan-pelan aja! Santai napa, sih!" ucap Hasbi sambil menyerahkan botol minum kepada Binar. Lalu Binar segera meminumnya.
"Permisi, ada Binar nggak di kelas?" ucap seseorang dengan suara lantang di pintu kelas Binar.
__ADS_1
Yang merasa namanya disebut segera menoleh ke arah pintu, "Kak Arik?"