
Di dalam kelasnya Binar tak bisa berhenti berdecak sebal. Semua anak perempuan di kelasnya membicarakan rumor anak baru yang akan datang nanti.
"Kok lo bisa tau kalau bakal ada anak baru di sini?" tanya Ghea memastikan.
"Dia itu tetangga baru gue, Ghe. Ganteng, tajir lagi! Pokoknya idaman banget!" jawab Selena bersemangat.
"Tapi gue juga belum tau sih dia jadi murid kelas apa, semoga aja di sini!"
Binar tak tertarik sedikitpun dengan pembicaraan itu, ia hanya saja tidak sengaja mendengar karena Selena berbicara dengan suara keras. Ia masih merasa sakit hati dengan Hasbi karena kejadian beberapa hari yang lalu. Sejak kejadian itu Hasbi tidak pernah berbicara lagi dengan Binar. Bukan begitu, tapi Binar yang menolak untuk berbicara dengan Hasbi. Bahkan sampai sekelas bingung mengapa tiba-tiba Binar menjadi sedikit galak kepada Hasbi.
Ghea yang melihat Binar sedang melamun segera menghampiri sahabatnya itu, "Lo kenapa sih, Nar? Kasih tau gue. Gue nggak enak liat lo sama Hasbi jadi jauh-jauhan gini."
Ghea menatap Hasbi yang justru sedang asik bermain game di pojokan kelas bersama anak laki-laki yang lain.
Binar hanya diam. Ia benar-benar bungkam. Baginya, jika Sang Nenek sudah tau masalahnya, itu akan lebih baik.
"Sebenarnya kalau lo nggak mau ngomong sama gue juga nggak papa, karena gue bisa tanya Hasbi. Tapi masalahnya Hasbi juga nggak mau ngasih tau. Ada apa, sih?" Ghea gemas sendiri.
Binar rasanya ingin menangis saat ini juga. Ia sudah malas dengan keadaan seperti ini. Ia ingin berlari sejauh mungkin menghindari orang-orang.
Bel berbunyi nyaring di kelas mereka. Semua anak-anak segera merapikan tempat duduknya. Lalu berdoa bersama. Setelah berdoa, mereka masih melanjutkan aktivitas seperti tadi.
Tak lama kemudian Bu Anisa datang dengan seseorang memakai seragam SMA pada umumnya. Ia tampak asing bagi kelas XI MIPA 4. Tiba-tiba anak-anak perempuan menjadi ribut sendiri. Termasuk Ghea yang ada di sebelah Binar.
"Ini anak baru yang dimaksud Selena tadi itu?" tanya Binar pada Ghea.
"Kayanya sih iya."
Setelah menjawab pertanyaan Binar, Ghea segera menoleh ke arah Selena dan memberikan semacam kode yang tidak bisa dimengerti oleh semua orang. Dan Selena mengangguk. Hebat!
"Iya, Nar. Ini anaknya." ucap Ghea memastikan kepada Binar. Dan Binar hanya ber-oh saja.
"Harap diam. Silakan perkenalkan diri kamu," Bu Anisa menyilakan anak baru tersebut untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, nama saya Bagas Gemilang Jaya. Biasa dipanggil Bagas. Saya pindahan dari SMA Pancasila. Semoga kalian senang berteman dengan saya."
Seketika kelas ribut kembali, terutama murid perempuan. Binar memaklumi itu. Karena Bagas ini memang seperti tipe idaman bagi setiap wanita. Tinggi, tampan, manis, terlihat sopan, dan terlihat kaya. Tapi bukan tipe idaman untuk Binar.
"Ya sudah, kamu bisa duduk di sebelah sana," ucap Bu Anisa sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Hasbi karena Radja, teman sebangku Hasbi sedang tidak berangkat.
Hasbi segera merapikan tempat duduknya dan menyilakan Bagas duduk.
"Hasbi," Hasbi mengajak Bagas bersalaman sebagai bentuk pengenalan.
"Bagas," Bagas membalas menjabat tangan Hasbi.
"Jangan ribut. Kemungkinan besar, selama satu hari ini kalian akan santai-santai dulu karena guru-guru akan ada rapat dan membahas persiapan UAS kalian. Jadi, kalian boleh belajar sendiri. Ingat, jangan ribut!" Bu Anisa segera pergi keluar kelas.
__ADS_1
"Horeeeeeee!!!!" sorak sorai gembira dari kelas XI MIPA 4. Ada yang langsung sujud syukur, ada yang langsung touch up, ada yang mulai konser, bahkan ada yang bersiap untuk tidur.
"Woy! Diam napa, sih?! Bu Anisa minta kita buat belajar. Malah pada konser. Nggak malu apa sama Bagas yang masih baru di sini?!" emosi Karin meledak. Mohon dimaklumi, masih haid.
"Eh, santai! Temen-temen gue di sekolah sebelumnya juga kaya gini," jawab Bagas santai sambil mengeluarkan headphone dari dalam tasnya.
"Ah, lu mah, Rin! Baperan!" ucap salah seorang anak laki-laki. Sukses membuat Karin keluar dari kelas karena kesal.
"Bal, pacar lo marah tuh!"
"Pacar lo baperan parah, Bal."
"Putusin aja modelan begitu mah. Nyusahin kita sebagai cowok."
"Iya. Gue juga bakal putusin cewek yang kaya gitu. Nggak guna!"
Dan sederet ucapan menyakitkan lainnya yang ditujukan kepada Iqbal. Tetapi Iqbal hanya diam, tak menanggapi.
---
"Nar, lo mau ikut ke kantin nggak?" tanya Ghea yang sedang merapikan rambutnya.
"Nanti."
"Ya udah gue tinggal dulu, ya?"
Binar sebenarnya tak minat untuk pergi ke kantin. Ia sangat malas untuk berjalan sekalipun. Tetapi ia juga malas di kelas hanya ada dirinya, Hasbi, dan anak baru itu. Berhubung ia masih sakit hati dengan Hasbi, ia memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Saat dia sedang berjalan di koridor kantin, ada segerombolan kakak kelas yang menatapnya tak suka. Binar mencoba tak peduli dengan kakak kelas itu. Tapi mereka malah menyindir Binar.
"Dulu Ardan, terus Kevin, Hasbi, sekarang Arik. Emang nggak ada hati tuh orang. Kasihan Kayla. Perasaan Kayla lebih cantik, lebih pinter, lebih segalanya lah pokoknya. Tapi kenapa cowok-cowoknya Kayla malah milih dia yang nggak banget. Buta kali, ya cowok-cowok itu," ucap salah satu dari mereka.
"Bukan cowoknya yang buta. Tapi dia tuh pakai pelet kali, ya. Hahaha...." terdengar gelak tawa dari arah seberang.
"Pakai acara temenan sama Kayla lagi! Dasar muka dua! Centil banget sih jadi adek kelas!"
Sabinar sudah tak tahan, ia segera balik arah dan jalan secepat mungkin menuju ke kelasnya kembali. Di perjalanan ia sedikit menahan tangis.
"Sabinar, lo nggak boleh nangis di sini! Lo kuat!" Sabinar berbisik pada dirinya sendiri.
Sesampainya di kelas ia justru langsung menangis di atas mejanya. Ia menangis tersedu-sedu. Hatinya sudah terlalu patah. Beruntungnya yang sedang ada di kelas hanya ada dua anak tadi.
Hasbi dan Bagas terkejut melihat Binar datang sambil menangis. Hasbi yang merasa ada yang tidak beres segera menghampiri Binar walaupun mereka sedang ada jarak. Dan diikuti oleh Bagas yang berjalan di belakang Hasbi.
"Nar, lo kenapa? Kenapa nangis?" Hasbi duduk di samping Binar sambil merapikan rambut Binar yang terkesan berantakan.
Binar segera menghapus airmatanya dan bilang menjawab bahwa ia baik-baik saja. Tapi sayangnya kali ini sandiwara Binar terdeteksi oleh Hasbi dan juga Bagas. Hasbi tahu pasti ada seseorang yang membuat Binar menangis seperti ini. Dugaan terkuat, antara Ardan atau segerombolan kakak kelas yang memang sering 'mengganggu' Binar.
"Lo habis darimana?" tanya Hasbi sedikit menahan emosi.
__ADS_1
"Kantin."
"Ada siapa di sana? Ardan? Apa kakak kelas itu lagi?"
"Kakak kelas."
"Biar gue samperin!"
Hasbi hendak pergi keluar kelas, tapi tangannya ditahan oleh Binar.
"Percuma lo mau membela gue, Bi. Orang-orang emang udah terlanjur benci ke gue."
"Tapi gue sahabat lo, Nar."
"Tolong lo nggak usah ngaku jadi sahabat gue lagi kalau nyatanya lo melakukan hal yang sama jahatnya seperti kakak kelas itu," Binar mulai menangis. Setiap membahas hal ini, hatinya seperti dipukul lalu dihancurkan sesuatu. Sakit.
"Kalau soal itu gue minta maaf, Nar. Gue tau keadaan mental lo sekarang kaya gimana. Lo butuh orang untuk melindungi lo. Oke. Gue tau gue salah. Tapi seenggaknya dengan membela lo bisa buat lo maafin gue."
"Nggak segampang itu, Bi. Makasih," ucap Binar sambil merapikan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas dan bergegas pulang.
Bagas yang sedari tadi hanya melihat drama tersebut mencoba untuk bertanya apa yang terjadi. Dan mungkin karena Hasbi sama-sama sudah merasa tertekan dengan keadaan seperti ini, jadi ia menceritakan semuanya kepada Bagas.
"Ternyata lo jadi cowok agak error juga, ya?"
"Iya gue tau gue salah. Tapi sebenarnya keadaannya nggak kaya gitu, Gas."
"Itu sama aja lo nggak menghargai wanita, bro. Lo punya ibu?"
"Punya? Kenapa?" tanya Hasbi heran.
"Punya ayah?"
"Punya. Kenapa lo tanya-tanya keluarga gue?"
Bagas tersenyum, "Ini gue contohin, ya. Tapi ya semoga aja nggak kejadian. Ternyata ayah lo selama ini menikah sama ibu lo cuma karena sebagai pelampiasan rasa dari mantan ayah lo. Jadi, ibu lo cuma sebagai pengganti, bukan pelengkap hidup ayah lo. Gimana kira-kira perasaan lo?"
"Marahlah."
"Nah itu tau."
"Jadi?" Hasbi bertanya kesimpulannya.
"Hati Binar udah benar-benar hancur. Mungkin maafin lo bisa. Tapi kecewa pasti membekas. Semoga lekas membaik buat hubungan lo sama Binar."
Hasbi terpukul mendengarnya. Ia merasa memang dirinya sudah jahat sekali pada sahabatnya itu.
"Terus gue harus ngapain kalau udah gini?"
__ADS_1
"Itu cuma lo yang tau. Gue bingung beneran sama otak lo. Baru kali ini gue pertama kenal sama orang udah emosi duluan. Hahaha..."