
"Lo berangkat sama Ardan?" tanya Hasbi tiba-tiba kepada Binar yang baru saja datang di kelas.
"Iya," jawab Binar sambil meletakkan tasnya di bangkunya.
"Lo masih suka sama dia nggak, sih?"
Binar tertegun. Ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, sebenarnya ia sudah move on dari Ardan. Mengingat apa yang telah dilakukan Ardan dulu, sungguh ia tak ingin berhubungan dengan lelaki seperti Ardan. Namun di sisi lain, ia jadi memikirkan apa yang Ardan katakan tadi malam di rumahnya -di depan orang tuanya- bahwa Ardan masih menyukainya.
Tentang rasa Binar untuk Hasbi, masih sama. Yaitu cinta.
"Lo masih suka 'kan? Jawab, Nar..." Hasbi beralih duduk di sebelah Binar.
"Nanti malam gue bakal ceritain, Bi. Jangan sekarang. Banyak orang. Gue bingung," ucap Binar sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Oke. Nanti malam, ya? Kemana?"
"Nggak di WA aja?"
"Janganlah... Susah kalau curhat lewat chat."
"Ya udah. Terserah lo aja, sih."
"Taman Cendrawasih. Gimana?"
Binar mengangguk.
"Tapi lo boleh keluar 'kan? Lo udah sembuh 'kan? Nanti kalau nggak dibolehin orang tua lo gimana? Nanti izinnya gimana?" tanya Hasbi bertubi-tubi.
"Udah, tenang. Gue udah sembuh. Kalau sama lo 'kan udah pasti dibolehin."
"Tapi kok sama Ardan juga boleh?"
Binar mencubit lengan Hasbi sambil tersenyum pada Hasbi. Dan Hasbi membalasnya dengan melepas kunciran rambut Binar dengan sekali tarik. Lalu pergi entah kemana.
"Ih, Hasbi!!" Binar berlari mengejar Hasbi.
---
Hasbi dan Binar sedang berjalan menuju kantin. Perut mereka terasa lapar setelah menghafalkan nama-nama bakteri yang begitu banyak. Selama perjalanan menuju kantin, Hasbi dan Binar bertemu dengan mantannya Hasbi. Namanya Kayla. Binar menyapa Kayla tetapi Hasbi hanya terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kayla. Walaupun sebenarnya Kayla sedang menatapnya. Kayla salah satu anak yang famous di sekolahnya. Ia juga salah satu teman Binar di ekstra teater. Apalagi Kayla dan Binar juga dekat. Hasbi dan Kayla berpacaran ketika awal semester 2 di kelas 10. Di saat itu pula Binar merasa rasanya pada Hasbi bukan sekedar rasa kagum biasa.
Terkadang Binar bingung, bagaimana ceritanya Hasbi dan Kayla bisa dekat lalu berpacaran? Padahal kelas mereka berbeda, tidak pernah satu organisasi, tidak pernah satu ekstrakurikuler. Bahkan Binar juga tak menyangka ketika Hasbi memberi kabar bahwa ia sudah berpacaran dengan Kayla. Saat itu, Binar berusaha untuk menjauh dari Hasbi dan juga Kayla. Tapi tidak bisa. Karena pasti ia akan selalu bertemu dengan keduanya.
"Eh, eh! Ada mantan lo tuh tadi. Diem-diem aja," ucap Binar sambil menyolek lengan atas Hasbi.
__ADS_1
"Ah, udah mantan!" jawab Hasbi sambil mencari tempat duduk di kantin yang lumayan rame ini.
"Tuh duduk di meja yang dekatnya Kak Gerald aja. Jangan yang sebelahnya Ardan! Nanti lo dijahatin lagi," Hasbi menunjuk ke salah satu meja yang berada di tengah-tengah antara gerombolannya Kak Gerald -ketua OSIS saat ini- dan gerombolannya Ardan.
"Ok. Es jeruk satu sama mie gorengnya nggak pedes satu. Makasih, Hasbi!" ucap Binar sambil berjalan menuju meja yang Hasbi maksud.
"Nar, sendirian?" tanya Ardan tiba-tiba yang sudah duduk di sebelah Binar dan membuat Binar terkejut.
"Nggak," jawab Binar seadanya.
"Kok cuma sendirian? Sama siapa? Setan?"
"Garing, ah!"
Tiba-tiba Hasbi datang dan segera duduk di depan Binar. Lalu menatap Ardan dan Binar bergantian.
"Oh... sama pangerannya?" Ardan menatap Hasbi balik.
"Ngapain lo di sini?"
"Jagain Sang Putri biar nggak sakit hati karena pangerannya belum bisa move on dari putri-putri yang sebelumnya," jawab Ardan mantap.
"Diem, lo!"
"Ardan, mending lo ngumpul sama temen-temen lo lagi. Gue mau bicara sama Hasbi," Binar mendorong pelan bahu Ardan untuk kembali bersama teman-temannya.
"Makasih udah didoain! Nanti gue undang. Tenang. Dapat jatah makanan gratis, kok," jawab Hasbi sambil melempar tisu ke arah Ardan.
"Apaan, sih!" Binar menatap Hasbi sebal.
"Aamiin..."
"Ih....!"
---
07.15 PM
Binar sedang duduk di depan meja rias sederhana miliknya. Ia mengambil liptintnya dan mengoleskannya di bibirnya yang indah. Setelah itu ia berdiri di depan standing mirrornya yang terletak di samping pintu kamarnya.
Dengan kaos lengan panjang putih aesthetic yang ia pakai, lalu celana jeansnya yang terlihat santai, jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya, dan rambut sebahu yang tergerai indah. Tidak lupa dengan riasan make up yang sederhana. Membuat Binar terlihat cantik malam ini.
"Nar, itu Hasbi udah nunggu di depan. Kasihan dia," ucap ibunya Binar di depan pintu kamar Binar yang terkunci.
__ADS_1
"Iya," jawab Binar sambil mengambil slingbag hitamnya yang terletak di ranjangnya.
Binar segera lari ke lantai satu dan menuju ruang tamu. Ia melihat ayahnya sedang berbicara dengan Hasbi. Hasbi tertegun melihat Binar malam ini. Sederhana dan cantik, pikirnya.
"Itu Binarnya udah ada, Om. Kami pergi dulu, ya?" Hasbi menyalami ayahnya Binar.
"Iya. Hati-hati," jawab ayahnya Binar.
"Binar pergi dulu, Yah. Bilangin ke Ibu. Ibu kayaknya masih ngurusin Anna tuh. Anna rewel," ucap Binar sambil menyalami ayahnya.
Fyi, Anna adalah adik kandung Binar yang masih kelas 2 SD.
"Iya. Pokoknya hati-hati. Binar kamu jangan bikin susah Hasbi. Terus Hasbi, jagain Binar, ya?"
Hasbi mengangguk sambil tersenyum.
Lalu mereka keluar dari rumah Binar dan segera pergi ke tempat tujuan.
"Nar, sebelum ke taman, gue mau ke toko buku dulu, ya? Mau cari komik-komik."
"Oke."
---
"Lo nyari komik apa?" tanya Binar sambil mengekori Hasbi yang sedang mondar-mandir mencari komik.
"Apa aja yang penting judulnya bagus, gue beli!"
"Sultan banget elah.."
"Sabinar," panggil Hasbi kepada Binar yang sedang melihat-lihat novel-novel yang ada di toko buku itu.
Binar berjalan mendekat, "Kenapa?"
"Barusan gue nggak sengaja lihat novel ini. Judulnya itu adalah dua kata yang ingin gue ucapkan malam ini buat lo. Coba baca judulnya," jawab Hasbi sambil menyerahkan novel yang ia maksud kepada Binar.
Binar menngambil novel itu dan membaca judulnya perlahan, "Kamu can... tik?"
Binar menatap Hasbi bingung.
"Iya. Sabinar, kamu cantik."
Binar menjadi salah tingkah sendiri dan berpura-pura sibuk membaca isi novel tadi.
__ADS_1
"Cie salting," Hasbi mencubit hidung Binar dengan gemas.
Aku tidak tahu bagaimana ending dari kisah cintaku ini. Setidaknya ada scene dimana aku dan ia bersama dan berbahagia walau hanya sekejap. Karena Sang Penulis tahu bagaimana rasanya terbang bersama pujaan hati.