Sabinar Is Okay

Sabinar Is Okay
Bukan Musuh, Bukan Teman


__ADS_3

Gemerlap cahaya bintang-bintang di langit terlihat indah untuk menemani seseorang yang sedang berkisah kepada pujaan hatinya. Juga kerlap-kerlip lampu taman yang terkesan memiliki nilai estetika dengan beberapa orang-orang yang sedang berjalan ke sana kemari menjadi background mereka.


Seseorang yang sedang asyik bercerita, dan pujaan hatinya yang sedang mendengarkan dengan seksama.


Sabinar dan Hasbi.


"Dan gara-gara Ardan bilang kaya gitu lo jadi gagal move on gitu?" tanya Hasbi dengan raut wajah kesal.


"Ya bukan gitu... Tapi masalahnya tuh dia ngomong suka sama gue di depan orang tua gue. Dan gue jadi dibully sama om tante gue yang saat itu di rumah gue," jawab Binar pasrah.


"Tapi gue nggak suka ya kalau lo suka sama Ardan lagi. Dia cuma mau nyakitin lo, Sabinar Iswara..." ucap Hasbi gemas.


"Emang gue nggak suka."


"Tadi bilangnya gagal move on?"


Binar hanya menggelengkan kepalanya.


Lalu hening. Hanya hembusan angin malam yang melintasi kedua remaja itu.


"Lagian sebenarnya orang tua gue nggak setuju kalau gue pacaran sama Ardan," ucap Binar memecah keheningan.


"Bagus, dong! Karena orang tua lo tahu yang terbaik buat anaknya," jawab Hasbi senang.


"Terus emang Ardan nggak baik gitu?"


"Iya, dia nggak baik."


"Terus yang baik itu siapa?"


"Gue," jawab Hasbi serius.


Binar tak bisa berkata-kata lagi. Ia merasakan bahwa pipinya kini memanas. Dan rasanya ia ingin selalu tersenyum. Ia ingin terbang!


"Cie salting. Hahaha," ucap Hasbi sambil menyenggol lengan Binar.


"Apaan, sih?!"


---


Hari ini kelas Binar sedang rapat untuk membahas lomba-lomba di sekolahannya yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Semua orang yang berada pada kelas itu mendengarkan secara seksama dan penuh perhatian. Tetapi ada juga yang gaduh sendiri. Ada yang diam saja ketika ditunjuk menjadi peserta. Dan ada juga yang marah-marah ketika ditunjuk menjadi peserta.


"Gue nggak mau jadi peserta cipta puisi. 'Kan ada Lian, kenapa harus gue?" ucap Vera tak setuju ketika dirinya ditunjuk akan mewakili kelasnya mengikuti lomba cipta puisi.


"Kok gue, sih? Nggak mau, ah!"


"Ya 'kan seenggaknya lo itu pernah ikut lomba puisi. Jadi, ada pengalaman gitu loh..."


"Gue udah ikut cipta cerpen, Ver..."

__ADS_1


"Ya nggak papa, 'kan? Toh lomba cipta puisinya 'kan jam delapan pagi. Sedangkan cipta cerpennya jam satu siang. Seharusnya bisa."


"Ya itu namanya membebani orang..."


"Woy! Udah!" cegah Garda dengan nada suara yang ditinggikan. Sang Ketua Kelas.


Dan semuanya menjadi diam. Jika Garda sudah meninggikan suaranya artinya Garda sudah mulai marah.


"Nggak usah tunjuk-tunjuk. Siapapun yang mau ikut, ikut aja! Biar nggak ada yang merasa terbebani," ucap Garda kesal.


"Kenapa nggak lo aja, Nar? Lo 'kan sering buat puisi di blog lo itu," bisik Hasbi pada Binar yang berada tepat di sebelahnya.


Binar hanya menggeleng.


"Kenapa?"


"Nggak papa."


"Ini kesempatan, Nar."


"Dan gue ngasih kesempatan buat yang lain. Gue udah sering ikut lomba buat puisi. Ya walaupun nggak menang semua, sih."


"Ini waktunya nunjukin ke guru-guru kalau lo pantas untuk ikut lomba."


"Nggak mau, Bi..."


Hasbi menyerah untuk membujuk Binar.


---


Binar menoleh pada Hasbi, "Nggak, Bi. Lagi puasa."


"Tumben puasa. Biasanya maruk tuh di kantin."


"Hasbi, jangan buat mood gue tambah rusak, ya. Gue nggak mau pahala gue hilang gara-gara lo," ucap Binar mulai kesal.


"Kenapa? Ada masalah, ya?" tanya Hasbi sambil duduk di sebelah Binar.


Binar menggeleng. Sebenarnya daritadi ia sedang memikirkan kejadian tadi malam. Ardan mengungkapkan cintanya pada Binar lagi. Dan kali ini Binar bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia masih mencintai Hasbi. Tapi di sisi lain ia menjadi bimbang dengan rasanya pada Ardan.


"Oh... sekarang lo main rahasia sama gue?"


"Kok rahasia? Apaan sih, Bi? Nggak ada rahasia-rahasiaan. Udah sana ke kantin aja. Keburu masuk." jawab Binar sambil mendorong Hasbi menjauh darinya.


"Iya iya... Bawel lo!" Hasbi segera pergi dari kelas.


"Ardan... lo itu udah nggak ada ruang lagi di hati gue. Sekarang ruang itu udah ditempatin Hasbi," ucap Binar sangat lirih.


"Ck!" Binar mengacak rambutnya kesal.

__ADS_1


"Woy, Nar!" seseorang memegang pundak Binar agak keras.


Binar terkejut. Lalu ia menoleh ke arah orang yang memanggilnya itu. Ternyata Celline yang memanggilnya. Sang Bendahara Kelas yang agak galak.


"Bayar kas! Lo udah nggak bayar kas... empat kali?! Buset, dah! Lama amat lo nggak bayar kas. Jadi, sekarang bayar delapan ribu ke gue," Celline mengecek nama Binar di buku 'keramat' itu.


"Cel, gue puasa. Gue cuma bawa uang lima ribu. Itu juga buat pulang. Besok gue bayar," jawab Binar dengan wajah memelas.


"Besok-besok mulu... Minta Hasbi aja kenapa, sih? Cuma delapan ribu aja elah..."


"Kenapa jadinya Hasbi?" tanya Binar bingung.


"Kan lo pacarnya," jawab Celline santai.


"Idih! Nggak ada yang pacaran. Sok tahu, lo! Iya kali gue pacaran sama dia," Binar mengelak. Tetapi memang nyatanya mereka tidak pacaran.


"Awas aja kalau tiba-tiba ada berita mengehebohkan."


"Berita apaan?"


"Ehem... 'Selamat siang, Pemirsa! Berita eksklusif dari kelas XI MIPA 2. Ternyata wakil ketua kelas kita, Hasbi, telah berpacaran dengan Sabinar Iswara, satu-satunya murid yang susah sekali untuk membayar kas.' Gitu..." Celline memeragakan layaknya reporter yang sedang bekerja.


Binar hanya tertawa renyah. Tertawa dengan tingkah Celline tapi juga tertawa dengan isi berita konyol tersebut. Andai memang benar-benar terjadi.


"Lo cocok kok jadi reporter."


"Emang itu cita-cita gue."


"Ya udah kembangkanlah. Kembangkan buat menjadi reporter yang baik. Jangan narik kas mulu. Nanti malah jadi rentenir," ucap Binar sambil menahan tawa.


"Ih Binar lucu, deh. Jadi pingin mijitin mulutnya."


Bukan tentang apa yang kita impikan. Tetapi tentang bagaimana kita bermimpi. Apakah sesuai realita? Atau hanya sebuah ekspektasi yang tak akan tercapai?


---


Sebenarnya Hasbi tidak benar-benar ke kantin. Ia hanya melewati kantin lalu pergi ke taman belakang untuk menemui seseorang. Ardan. Iya, yang akan ia temui adalah Ardan. Sebenarnya dulu mereka berteman ketika SMP karena mereka dulu satu organisasi. Tetapi ketika awal SMA, hubungan mereka menjadi renggang karena seseorang. Kayla. Karena Kayla. Dulu Ardan sempat dekat dengan Kayla. Namun, Kayla malah pacaran dengan Hasbi. Semenjak itu, Ardan mulai tak suka dengan Hasbi. Lalu ia mulai mendekati Binar karena Ardan tahu bahwa Binar adalah salah satu orang yang sangat Hasbi lindungi. Dan Ardan berpikir bahwa dengan cara ia mendekati Binar lalu mempermainkannya, itu cukup membuat Hasbi tertekan. Hasbi tak suka melihat Binar bersedih. Sangat tidak suka.


"Kenapa ngajak gue ke sini?" tanya Hasbi dengan muka datarnya.


"Masih mau balikan sama Kayla? Kalau jawabannya iya, gue akan terus deketin Binar. Kalau jawabannya nggak, lo harus kasih kepastian ke Binar," jawab Ardan tanpa menoleh ke arah Hasbi sama sekali.


"Ck! Kenapa harus Binar?"


"Karena Binar itu salah satu yang harus lo lindungi. Binar itu sumber kekuatan lo! Lo tanpa Binar nggak akan bisa setegar ini, bro. Gue kasihan sama dia. Lo selalu memperlakukan Binar dengan sebaik-baiknya. Bahkan mungkin Binar berpikir bahwa lo itu punya rasa sama dia. Lo nggak kasihan sama Binar? Anak orang lo gantungin aja. Dikira jemuran kali!" ucap Ardan sambil menahan emosi.


"Lo bilang kaya gini tuh tujuannya buat apa? Lo minta gue jauh-jauh dari Kayla atau lo emang mulai jatuh cinta sama Binar?"


Ardan sedikit terkejut dengan pertanyaan Hasbi yang agak 'menantangnya'. Tetapi Ardan pandai untuk menyembunyikan keterkejutannya itu.

__ADS_1


"Ok gue akan jawab itu nanti. Sekarang gue yang harus tanya ke lo. Lo memperlakukan Binar kaya gitu tujuannya buat apa? Lo emang suka sama Binar? Atau pengalihan rasa aja dari Kayla ke Binar karena sebenarnya lo belum bisa move on dari Kayla?"


__ADS_2