
Binar membuka matanya perlahan. Sinar lampu menyilaukan matanya yang tepat berada di atasnya. Aroma minyak kayu putih memasuki area indra penciumannya. Ketika matanya telah terbuka penuh, ia melirik ke kanan dan ia melihat... Hasbi?
"Udah bangun?" tanya Hasbi sambil berjalan mendekati Binar. "Masih pusing, ya?"
Binar tak menjawab. Ia masih pusing dan lemas. Seakan bibirnya saja malas untuk bergerak.
"Lo masih pucat aja. Tapi nggak separah tadi, sih. Lagian lo kenapa tiba-tiba pingsan? Biasanya nggak pernah. Baru kali ini."
Binar mengedarkan pandangannya. Ia tampak asing dengan tempat ini.
"Lo di UKS sekolah. Ketahuan 'kan kalau lo belum pernah ke sini?" seakan tahu apa yang Binar pikirkan, Hasbi menjawab sekenanya.
Binar bukan anak yang sering sakit atau pingsan sewaktu upacara. Jadi, ini baru pertama kalinya ia ada di UKS sekolah.
"Gue udah nyuruh petugas PMR-nya buat beli makanan. Pokoknya harus dimakan. Gue mau ada rapat sama OSIS sebentar. Jadi, tadi gue udah contact Ghea buat jagain lo di sini. Sorry ya gue harus ninggalin lo. Nggak papa 'kan? Oh, iya! Ayah lo ke sini. Kayaknya mau bawa lo ke rumah sakit, deh. Eh, tapi nggak tahu juga! Ya udah gue tinggal dulu, ya? Bye..."
Lalu Hasbi keluar dari UKS. Di ambang pintu, ia tersenyum manis kepada Binar. Sebenarnya Binar agak terkejut, tetapi ia mencoba membalas senyumnya dengan tulus.
Terkadang sikap Hasbi kepadanya itu membuatnya salah paham. Mengapa ia bersikap baik dan perduli padanya? Apakah karena Binar adalah sahabatnya? Atau seperti yang Ghea ucapkan bahwa Hasbi menyukai Binar? Binar segera mengusir pikiran halu itu dari pikirannya.
Tak lama kemudian, Ghea datang sambil membawa tas Binar. Dan ternyata ada ayahnya Binar di belakang Ghea yang sedang menatap anaknya khawatir.
"Kamu kenapa, Nar? Kok tiba-tiba pingsan?" ucap Sang Ayah sambil mengecek suhu tubuh Binar. Dari dahi, pipi, leher, sampai kaki pun dicek.
"Kaki kamu dingin. Tapi dahi dan leher kamu panas. Kamu masih pusing, ya?"
Binar mengangguk pelan.
"Om, tadi Binar pucat banget. Lebih parah dari ini. Tadi juga panas banget badannya. Terus matanya agak merah gitu. Kenapa ya, Om?" tanya Ghea sambil menatap Binar dan ayahnya bergantian.
"Kayaknya gejala tipes dia kambuh."
"Ooo.. Bisa jadi, Om. Soalnya kemarin emang dia pulang sekolah sampai mau maghrib gitu. Habis ada ekstra teater. Emang lama, sih. Karena sebentar lagi teaternya mau disewa dimana gitu, lupa. Kemarin juga ada olahraga, Om. Waktu lari aja Binar sampai istirahat dulu di pinggir lapangan. Terus ngeluh katanya pusing," Ghea mencoba menceritakan hal-hal yang ia tahu sampai sedetail itu.
"Iya. Kemarin Binar pulang ke rumah juga udah lumayan pucat wajahnya. Oh, iya! Tadi yang bawa Binar ke sini Hasbi, ya? Sekarang Hasbinya dimana?"
"Hasbi lagi ada rapat sama OSIS sebentar, Om. Mungkin nanti kalau udah selesai mau ke sini lagi."
__ADS_1
"Oh.. Ya udah. Makasih Ghea. Ini Binarnya mau dibawa ke rumah sakit dulu. Nanti kalau mau jenguk Binar, Hasbinya sekalian diajak," ucap ayahnya sambil membantu Binar untuk duduk.
"Iya," Ghea sedang sibuk merapikan barang-barang Binar seperti dasi yang tadi sengaja dilepas, sepatu dan kaos kaki, dan juga ikat pinggang.
---
"Dia di kamar mana?" tanya Hasbi setelah sampai di rumah sakit.
Hasbi, Ghea, Radja, Iqbal, dan Karin sudah tiba di rumah sakit untuk menjenguk Binar. Sebenarnya teman-teman sekelasnya juga ingin ikut menjenguk. Tapi menurut Hasbi, lebih baik perwakilan saja. Dan mereka baru bisa menjenguk Binar di waktu malam. Takutnya, nanti malah merepotkan keluarga Binar.
"Lah? Lo 'kan yang deket sama keluarga Binar malah nggak tahu?"
"Gue lupa nanya."
"Ya udah tanya di dalem aja. Di tempat informasi," usul Karin.
Semuanya setuju. Lalu mereka berjalan ke tempat informasi. Mereka menanyakan kamar Binar ada dimana. Dan petugas menjawab bahwa kamar Binar di Kamar Teratai B12.
"Itu di sebelah mana, Mbak?" tanya Iqbal kepada petugasnya.
"Di lantai 4, Dek. Deretan Kamar Teratai ada di sebelah mushola."
"Ada lift khusus pengunjung, Dek."
"Oh... Hehe... Nggak tahu, Mbak..." ucap Iqbal cengengesan menahan malu.
"Nggak usah malu-maluin aku, deh!" Karin mencubit lengan Iqbal. Fyi, Iqbal dan Karin itu sepasang kekasih yang baru menjalaninya 4 bulan yang lalu.
Lalu mereka pergi meninggalkan tempat informasi itu.
"Naik lift-nya dimana, sih?" tanya Iqbal sambil mencari-cari lift.
"Di sana," jawab Hasbi menunjuk ke tempat lift berada.
"Eh, ngomong-ngomong tentang lift, gue ada kejadian ngeri waktu gue naik lift di rumah sakit mana tuh gue lupa," ucap Radja tiba-tiba.
"Apaan?" tanya Iqbal mulai penasaran.
__ADS_1
"Jadi ceritanya gue tuh mau jenguk saudara gue di rumah sakit, terus naik lift, di lift juga ada orang. Bapak-bapak gitu. Terus gue masuklah. Awalnya sih biasa-biasa aja. Nah, kebetulan tali sepatu gue lepas, akhirnya gue jongkok dulu benerin tali sepatu. Selesai benerin tali sepatu, gue berdiri dong. Waktu gue berdiri, gue nggak lihat bapak-bapak itu lagi. Padahal gue yakin banget pintu lift nggak kebuka sama sekali selama gue benerin tali sepatu," Radja bercerita asyik.
Yang lain mendengarkan. Lalu mereka memasuki lift.
"Kalau gue jadi lo gue langsung keluar dari lift saat itu juga. Ngerilah," ucap Karin menanggapi.
"Gue aja langsung lemes, Rin!"
"Kalau gue dulu waktu naik lift pertama kali, gue malah ngelepas sandal di depan pintu lift. Terus gue sadar waktu gue mau keluar. Gue bingung dong, 'Kok sandal gue nggak ada?' Goblok banget nggak?" ucap Hasbi bercerita.
"Bwahahaha..." Mereka semua tertawa mendengar cerita Hasbi.
Pintu lift terbuka. Sudah sampai di lantai 4. Lalu mereka mencari deretan Kamar Teratai yang ada di dekat mushola.
"Teratai B12 'kan?" tanya Hasbi memastikan.
Semuanya mengangguk.
Hasbi mengetuk pintu kamar yang dimaksud. Lalu mengucapkan salam. Ibunya Binar, membukakan pintu dan menyuruh mereka masuk.
Binar terkejut ketika Hasbi dan teman-temannya yang lain datang. Tak apa sebenarnya. Hanya saja, momennya tidak tepat. Karena ada Ardan juga di sini. Hubungan pertemanan Ardan dan Hasbi tidak baik. Hasbi jadi membenci Ardan karena Ardan menyukai Binar. Tetapi ia sering menyakiti Binar. Dan itu membuat Hasbi tak suka dengan Ardan.
Hasbi segera menyalami semua yang ada di sana. Hasbi juga menyalami Ardan. Lalu Hasbi segera duduk menjauh dari Ardan. Ia memilih duduk di sebelah ibunya Binar. Karena ia juga sudah dekat dengan ibunya Binar.
"Ya Allah, Binar... Maaf ya gue waktu itu nggak bisa nolongin lo soalnya gue nggak ada di kelas," kata Karin sambil memegang tangan Binar.
"Nggak papa, kok."
Di sisi lain, Hasbi dan ibunya Binar sedang berbisik. Sepertinya mereka sedang membicarakan topik serius. Sesekali Binar melirik ke arah ibunya dan Hasbi.
"Sama Binar sekarang gimana?" tanya ibunya Binar lirih.
"Ya gitu, Tante."
"Jangan buat anak Tante sakit hati, ya? Kalau kamu mau serius, ya kejar. Kalau nggak, jangan buat dia berharap."
Hasbi tersenyum, "Iya, Tante."
__ADS_1
Samar-samar Binar mendengar percakapan mereka. Ia bingung apa yang mereka maksud. Dan ternyata Hasbi sedang tersenyum kepada Binar. Binar segera mengalihkan pandangannya ke teman-temannya yang lain. Ia menyembunyikan kegugupannya.
Akankah benar semua haluku? Jikalau pun iya, aku tak perduli kapan akan terjadi. Jikalau pun tidak, bagaimana caranya aku menyirnakan lara-lara?