
Imron dan Vega merupakan sahabat dari kecil. Mereka selalu bersama-sama sejak mulai dari SD hingga kuliah pun tetap bersama.
Esok itu seperti biasa, mereka sedang duduk di depan kelas sembari menunggu dosen masuk.
"Udah jam segini, dosen belum masuk aja," gerutu Imron.
"Dosen bebas, Bosku," balas Vega, terkekeh.
Melihat mereka teralihkan saat melihat musuh mereka Saingan. Ya, sudah sejak awal kuliah, Vega dan Imron selalu memusuhi Rival sebab Rival mencari gara-gara duluan. Waktu itu, Rival sengaja melontarkan kata pedas pada Vega dan Imron. Semenjak itu mereka bermusuhan sampai detik ini. Vega langsung menghadang Saingan. "Musuh kita datang," ucapnya.
"Lo mau ngajak berantem, hah?" Vega menaikkan satu alisnya, siapkan menggenggam dengan menggepalkan tangan.
"Ayo kalau lo berjuang." Vega maju dan menarik kerah Rival . Tapi, dosen tiba-tiba datang dan melerai keduanya.
"Kalian ini mau kuliah atau mau jadi berandalan?" Dosen bernama Jimah menegur Vega dan Rival yang sedang baku hantam. "Udah masuk kelas!" Jimah melangkah masuk kelas.
Akhirnya mereka melangkah ke kelas. Sebelum melangkah ke kelas, Rival berkata. "Urusan kita belum selesai!"
Dengan tatapan tajam, Vega menyunggingkan bibir. Cowok itu masih ingin menghajar Rival sepulang kuliah nanti.
__ADS_1
"Gue pengin hajar si Rival!" seru Vega di tengah-tengah dosen menerangkan.
"Udah, biarin aja, Ga," jawab Imron.
"Itu anak kalau didiemin makin jadi, Ron!"
"Sampai kapan lo musuhan sama dia? Oke, gue dulu juga musuhin dia, tapi gue pikir itu nggak ada gunanya. Ingat, kita di sini buat cari ilmu, bukan buat berkelahi!" Imron menasihati. Imron hanya tak mau Vega selalu memendam dendam pada siapa saja. Dendam tak akan pernah menyelesaikan masalah.
"Itu mau gue."
Terserah lo, sih," jawab Imron.
***
"Lo sekarang kerja apa?" tanya salah satu teman Vega dan Imron.
"Gue kuliah, udah semester 6," jawab Imron.
"Wah, anak kuliahan. Masa depan terjamin dong." Teman Imron dan Vega itu bernama Sandi. Sandi merupakan teman akrab Imron dan Vega sejak jaman SMP. Walaupun sekarang mereka jarang bertemu, mereka tetap akrab.
__ADS_1
"Masa depan orang nggak ada yang tahu." Kini Vega yang berbicara.
"Bisa aja lo, Bro." Sandi merangkul erat bahu Vega erat.
Tanpa terasa, acara selesai. Imron dan Vega langsung melesat pulang. Di tengah perjalanan, Vega berucap. "Ron, kita udah temenan lama, nih. Kalau semisal gue mati duluan, lo mau nggak ngikut sama gue?"
Imron kaget saat Vega berkata seperti itu. Cowok itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba Vega berkata ngelantur.
"Lo apaan bilang gitu, Ga?" Imron tetap fokus dengan mengendarai motornya.
"Bukan apa-apa, sih."
Tidak terasa mereka sudah sampai depan rumah Vega. Imron masih memikirkan perkataan Imron.
"Lo jangan bilang kayak tadi lagi, ya, Ga?" Imron melepas helm.
"Takdir kematian orang nggak ada yang tahu," kata Vega. "Tapi, kalau gue mati duluan, gue bakal ngajak lo mati juga. Biar kita sama-sama, Ron."
Perkataan Vega semakin membuat Imron bergidik ngeri, kemudian Imron hanya mengangguk. "Kalau lo mati, gue juga mati."
__ADS_1
Vega melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking jari Imron. "Janji, sehidup semati!"
Imron mengangguk. "Janji, sehidup semati!" ulang Imron mengikuti perkataan Vega.