Sahabat Semati

Sahabat Semati
Kamu harus mati!


__ADS_3

 Imron terlelap dalam tidurnya. Sampai dia tidak sadar, ada Vega yang selalu menemani tidurnya selama ini. Vega menatap punggung Imron yang membelakanginya.


 Mata Vega memerah, dia sudah tidak sabar lagi mencabut nyawa sahabat karibnya itu. Tak ada waktu lagi, seminggu  lagi tepat empat puluh hari kematian dirinya. Tandanya, arwah Vega akan kembali ke asalnya.


   "Gue akan mempercepat kematianmu, Imron!" Vega mencekik leher Imron.


  Imron yang sadar ada yang mencekiknya berusaha melepaskan cekikan itu. Leher Imron tercekat, tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Imron tak menyerah, cowok itu masih berusaha melepaskan cekikan yang menempel pada lehernya.


   "Lepasin gue, Ga!" seru Imron.


  "Lo harus mati sekarang, Imron!" Vega mencekik Imron lebih erat, membuat Imron hampir kehabisan napas.


  "Lo udah janji sama gue kalau lo bakal jemput gue pas di hari ulang tahun gue!" Imron mulai merasa kesal dengan Vega yang berusaha mengingkari janjinya beberapa waktu lalu.  Bukankah Vega yang menyetujui kalau dia akan menjemput Imron ketika hari ulang tahunnya? Kenapa sekarang Vega mengingkari janjinya sendiri.


 "Seminggu lagi empat puluh hari kematian gue. Tandanya gue bakal balik ke alam gue. Sebelum itu, gue harus bawa lo mati sama gue, Imron!" Vega terus mempererat cekikan.


 Imron mulai putus asa. Tak ada pilihan lain selain menyerahkan nyawanya pada temannya itu dan ikut ke alam Vega. Imron sadar semua yang terjadi atas kesalahannya. Vega mati juga karenanya. Tanpa Imron sadari, dia sudah membunuh sahabatnya sendiri.


  Imron menitihkan air mata. Dia sudah benar-benar pasrah akan takdir yang sudah di depan mata. Sebentar lagi pasti dia akan mati. Imron mulai membayangkan wajah ayah dan ibunya yang selama ini sudah susah payah memebesarkan dan memberikan kasih sayang yang lebih. Imron  memejamkan mata lebih dalam lagi. Nyawanya seperti akan dicabut malaikat pencabut nyawa. Imron sudah benar-benar ikhlas kalau dia memang harua mati dalam kondisi yang tak seharusnya. Kondisi mati di tangan areah sahabatnya.

__ADS_1


 Gubrak


Imron terjatuh dari tempat tidur dan kepalanya terkantuk ujung ranjang tempat tidur. Imron menatap ke langit kamar dan meraba-raba tubuhnya.


   "Gue masih hidup?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Masih tak percaya, Imron menampar pipinya sendiri. "Berarti tadi itu mimpi? Kok serem, ya?"


Imron menarik napas lega. Ternyata yang dialaminya barusan adalah mimpi. Imron tidak tahu,  kalau mimpi itu pertanda buruk yang sebentar lagi akan mengintai dirinya. Hanya tinggal menunggu waktu. Sesosok wajah hancur berdiri di belakang,  mengincar kematiannya.


Imron lalu kembali ke tempat tidur dan meneruskan tidur yang terganggu karena mimpi buruk yang barusan dialaminya.


***


Imron mengangguk. "Nggak cuma itu aja, dia bilang kalau dia mau ngajak gue mati."


Perkataan Imron membuat mata Irfan melotot tajam. "Eh, lo ada janji sama dia, ya?" tanya Irfan menyelidik.


Mau tidak mau, Imron mengakui yang sebenarnya. Imron mulai bercerita tentang kejadian yang sebenarnya. Irfan yang mendengarkan cerita Imron sesekali bergidik ngeri. Bagaimana tidak, Imron bercerita kalau selama ini arwah Vega selalu menemaninya tidur, kalau tidak arwah Vega selalu duduk di lemari kamar Imron.

__ADS_1


"Mending lo usir dia, Ron." Irfan mencoba memberikan saran.


"Dia bukan Vega, Ron," sahut Sakti tiba-tiba.


Imron mengangkat alis. Cowok itu tidak paham apa yang dimaksud Sakti. "Maksud lo?"


"Dia cuma menyerupai Vega, Ron. Percaya sama gue," Sakti menepuk bahu Imron dan memberikan pengertian.


"Maksud lo dia jin yang menyerupai?" kini Irfan yang angkat bicara.


Irfan mengangguk. Irfan mulai menjelaskan tipu muslihat iblis yang bisa menyamar apapun, termasuk menyerupai  siapa pun yang masih hidup ataupun sudah meninggal.


  "Awalnya gue pikir itu Vega, tapi setelah gue nanya ke Ustadz katanya itu hanya iblis atau setan yang menyerupai, Ron," jelas Sakti. "Orang yang sudah meninggal udah beda alam sama kita, kecuali orang yang bunuh diri, arwahnya tetap ngantung sampai kiamat."


"Terus gue harus gimana, Sak?" Imron mulai ketakutan. Tanpa dia sadari, dia sudah membuat perjanjian dengan setan yang menyerupai Vega.


"Kita pasti bisa nemukan caranya, Ron," Irfan mencoba menenangkan Imron yang mulai panik.


"Tapi gue udah ada janji semati sama dia, Fan." Imron mengacak rambutnya frustrasi.

__ADS_1


"Kita bakal nemu solusinya, Ron." Sakti merangkul bahu Imron erat. "Pokoknya kalau ada apa-apa bilang sama gue."


Imron hanya mengangguk.


__ADS_2