Sahabat Semati

Sahabat Semati
Bicara sendirian


__ADS_3

Jian mengetuk pintu kamar anaknya--Imrron. Ya, dari tadi malam anak itu tidak mau keluar kamar sama sekali. Jian takut terjadi dengan anaknya.


"Imron, buka pintunya, Sayang!" Jian mengetuk pintu sampai tiga kali, tetap tidak ada jawaban sama sekali.


Jian mendekatkan telinga ke pintu. Terdengar Imron tertawa-tawa sendiri seperti orang gila. Jian heran karena di kamar Imron tidak ada siapa-siapa. Tak menyerah, Jian kembali mengetuk pintu.


"Nak, buka pintunya," pintanya lagi.


Tetap tidak ada jawaban.


Jian menghela napas dan berbalik menuju ruang tamu untuk menemui suaminya.


"Pak, dobrakin pintunya!" seru Jian sesampainya di ruang tamu.


"Imron kenapa, Bu?"


"Dari kemarin nggak mau keluar kamar, Pak. Cepetan dobrak pintunya."


Hasan mengangguk dan berjalan menuju kamar Imron. Didobraknya pintu itu dengan paksa. Hasan lalu masuk ke dalam kamar Imron.


"Ron, kenapa dari kemarin kamu nggak keluar kamar? Ibumu khawatir sama kamu, Nak." Hasan menghampiri Imron yang tengah duduk di atas tempat tidur. Matanya kosong dan tatapannya lurus ke depan.

__ADS_1


Imron hanya terdiam, tak menjawab perkataan Bapaknya. Imron hanya fokus dengan tawanya dan cowok itu terus-terusan berbicara sendiri.


"Ron?" panggil Hasan lagi.


Tak ada sahutan.


Hasan menarik napas panjang dan mulai menegur anaknya itu dengan nada tinggi. "Kalau diajak orangtua bicara itu dijawab, bukan dicuekin!"


Imron memutar kepalanya. Menatap wajah Bapaknya dengan tatapan tajam dan menusuk. "Pergi kamu dari sini!" usir Imron.


Hasan menggeleng pasrah dan membiarkan anaknya itu tetap di kamar. Toh, anak itu malah berbalik membentaknya. Hasan merasa ada yang aneh dengan Imron. Tidak biasanya Imron berani membentak Hasan seperti itu. Akhirnya, Hasan keluar dari kamar Imron dan langsung menemui Jian.


Jian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap sayu wajah suaminya itu. "Aku juga nggak tahu dia kenapa, Pak. Ibu jadi khawatir sama Imron, tadi Ibu juga denger dia ketawa-ketawa sendiri e."


"Sama. Bapak tadi juga denger dia berbicara sendiri padahal nggak ada siapa-siapa."


Sikap Imron membuat orangtua Imron semakin heran. Ditambah perubahan punggung Imron yang semakin hari semakin membungkuk.


"Ya udah, Pak, biarkan saja dulu, mungkin Imron baru ada masalah. Nanti Ibu bujuk lagi buat keluar kamar."


****

__ADS_1


"Imron, kamu akan jadi sahabatku selamanya, kan?" tanya Vega. Ya, semenjak itu Vega selalu mengikuti Imron ke mana pun dia pergi dengan cara mengelendot tubuh Imron.


"Pasti, Sahabatku," jawab Imron tegas.


"Kamu sudah siap mati bersamaku?" Vega menatap Imron yang dihadapannya dengan tatapan sadis.


"Siap, Vega, asal jangan sekarang, ya."


"Kapan kamu akan menyusul bersamaku?" tanya Vega lagi.


"Tepat di hari ulang tahunku, Sahabatku."


Vega menyunggingkan senyum dan memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Sebentar lagi kita akan mati bersama, Imron." Vega terkekeh licik.


"Pasti."


Setiap malam, Vega selalu menempatkan diri di atas lemari yang ada di kamar Imron dan setiap malam juga Vega selalu mendatangi Ibunya dalam mimpi ataupun dalam kehidupan nyata. Arwah Vega belum tenang jika dia belum mengajak sahabatnya itu mati bersamanya. Bagi Vega, janji tetaplah janji yang harus ditepati.


"Setelah Imron mati, aku bisa tenang di alamku, Ibu," rintih Vega setelah Imron tertidur pulas.


***

__ADS_1


__ADS_2