
Imron berteriak sekencang mungkin untuk memanggil arwah Vega. Tak berselang lama, Vega datang.
"Ada apa, Sobat?" tanyanya.
"Gue mau mengakhiri semuanya, Ga," kata Imron. "Gue mau mati bareng lo, biar lo nggak gangguin temen\-temen kita lagi."
"Bagus, Imron." Vega terkekeh. "Ayo ikut gue."
Imron mengikuti langkah Vega keluar dari rumah. Sekarang, mereka sudah berada di tepi jurang yang tak jauh dari rumah Imron.
"Cepat lompat dari sini, dan lo akan ikut mati bareng gue."
Imron menyiapkan batinnya dan dia sudah memikirkan risiko yang akan dia terima. Imron sudah ikhlas jika dia harus mati demi keselamatan teman-temannya. Imron memejamkan mata dan sudah bersiap akan terjun dari tebing itu. Saat Imron hendak melompat, sebuah tangan menyeretnya ke belakang.
"Lo udah gila?" Suara yang berasal dari Rival.
"Lepasin gue, Val!" seru Imron. "Gue mau akhiri ini semua, supaya kalian nggak dihantui Vega lagi!"
"Ayo, Imron, cepat lompat!" perintah Vega dengan tegas.
__ADS_1
"Nak, kamu jangan seperti ini, Ibu sedih lihat kamu seperti ini," Ratu, ibu Vega tak kuasa menahan tangis saat melihat kejadian yang ada di hadapannya.
"Vega hanya ingin menjemput Imron saja, Bu, sehabis ini Vega akan tenang," ujar Vega kekeh dengan ucapannya.
"Jangan, Nak, Ibu mohon sama kamu," bujuk Ratu agar Vega tidak nekat dengan tindakannya.
"Maaf, Bu, kali ini keputusan Vega sudah bulat, "kata Vega pada Ibunya.
Tidak ada plihan lain, Imron segera melepaskan diri dari tangan Rival dan melompat ke tebing. Semua yang melihat peristiwa itu kaget bukan main.
"Imron!" teriak semua yang ada di sana.
Jian, ibu Imron tak kuasa menahan tangis saat melihat anaknya sudah tak bergerak di bawah tebing.
"Nak, jangan tinggalkan Ibu sendirian," ucapnya sambil menangis.
Akhirnya, warga yang diberitahu kejadian mengenaskan itu segera mengambil jasad Imron yang sudah tak bernyawa lagi ke dasar jurang.
Jian yang melihat jenazah anaknya tak kuasa menahan tangis. Wanita paruh baya itu masih tidak menyangka anaknya akan mati dengan cara tragis. Begitu pula dengan Rival dan Sakti. Mereka sangat menyayangkan keputusan Imron yang terlalu tergesa-gesa. Ada cara lain, pikirnya. Sayang, semuanya sudah terlambat. Kini Imrom sudah terbujur kaku di hadapan mereka semua.
__ADS_1
"Kenapa lo lakuin ini, Mron? " Sakti memeluk jasad temannya itu.
Rival juga sangat terpukul dengan kematian Imron. Dia juga menyesal tidak bisa membantu memutuskan janji semati itu.
"Maafin gue, Ron, gue nggak bisa bantu lo, " Rival meneteskan air mata.
"Sudah, kita harus mengikhlaskan kepergian Imron seperti saat mengikhlaskan kepergian Vega, Nak," ucap Jian.
Sakti dan Rival mengangguk. "Semoga Imron bisa tenang, Bu," jawabnya bersamaan.
***
Rival masih terpukul dengan kematian Imron yang tragis. Sesekali dia menerawang jauh mengingat pertemanan Imron yang memang kurang baik. Tiba\-tiba gorden di kamarnya terbuka sendiri. Rival berdiri dan menutup gorden itu. Saat berbalik arah, Rival terkejut saat melihat penampakan dua orang temannya bergandengan tangan.
"Gue dan Imron sudah bersatu sekarang, "ucap arwah Vega tersenyum.
Rival hanya mengangguk dan tersenyum. "Semoga kalian tenang di sana."
Vega dan Imron tersenyum dan menghilang dari hadapan Rival.
TAMAT
***
__ADS_1