Sahabat Semati

Sahabat Semati
Gangguan arwah Vega


__ADS_3

 Rival menghempaskan badannya di kasur. Sesekali cowok itu menghela napas kasar. Matanya menerawang ke langit kamar dan dia mulai memejamkan mata. Belum lama cowok itu memejamkan mata, jendela kamar terbuka dengan sendirinya.


Rival yang sadar segera turun dari tempat tidur lalu menutup jendela itu. Belum sampai di tempat tidur, jendela itu kembali terbuka. Rival semakin kesal dan merasa ada yang aneh, bagaimana jendela bisa  terbuka  dengan sendiri sedangkan tidak ada angin kencang sedikit pun. Terpaksa Rival membalikkan badan dan menutup jendela itu lagi. Saat Rival  hendak menuju ke kasur, tiba-tiba ada penampakan Vega di hadapannya. Napas Rival memburu dengan cepat dan berusaha memberanikan diri untuk menanyakan maksud Vega menemuinya.


  "Mau lo apa?" tanya Rival pada arwah Vega.


Arwah Vega tak menjawab, dia semakin melangkah maju dengan menyeret kakinya. Ditambah muka yang hancur, membuat bau anyir menyeruak ke seluruh ruangan.


 "Mau lo apa?" tanya Rival, mengulang perkataannya.


Lagi-lagi arwah Vega tidak menjawab dan langkahnya semakin dekat dengan Rival. Rival semakin mundur dan akhirnya tersungkur di dekat ranjang tempat tidurnya. Rival ingat kalau dia memakai kalung memberian dari seorang dukun. Akhirnya, cowok itu melepas kalung itu dan melemparkannya tepat pada tubuh arwah Vega. Arwah Vega kepanasan dan menghilang begitu saja.


   "Untung ada kalung itu, kalau nggak bisa mati gue," gumam Rival.

__ADS_1


Rival langsung mengambil ponsel dan menelepon Sakti. Tak ada jawaban.


  "Pasti udah molor itu bocah!" Rival menutup sambungan telepon.


Rival kembali ke tempat tidur dan meneruskan tidurnya yang terganggu karena arwah Vega.


     ***


"Tadi malam gue telepon lo, nggak lo angkat, Sak!" seru Rival saat berada di kelas.


Pandangan Sakti menuju ke bangku yang biasanya Imron tempati. Sakti tak menemukan Imron duduk di bangku itu.


  "Imron nggak kuliah? Tumben dia belum datang, Val," kata Sakti menyelidik.

__ADS_1


 "Ya gue nggak tahu, Sak. Ya, lo tahu sendiri kemarin kondisi dia kayak gimana. Mungkin aja dia masih kayak kemarin, jadi nggak berangkat kuliah."


"Bisa jadi, sih, Val," jawab Sakti.


 "Tadi malam gue diganggu sama Vega lagi, Sak," ucapan Rival terhenti. Ada hawa merinding saat Rival menyebutkan nama itu. Matanya was-was, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


 "Lo serius?" tanya Sakti, tak percaya.


 Rival mengangguk, "Iya, Sak, untung gue punya kalung jimat ini, jadi gue aman."


 Sakti mengangguk. "Jangan ngomongin dia, ntar dia denger terus datangin kita lagi. Gue heran kenapa dia ganggu kita, padahal kita semua nggak ada kaitannya sama kematian dia. Dasar hantu aneh," celetuk Sakti, kesal.


Rival mencerna perkataan Sakti. Ucapan Sakti benar adanya. Rival memutar otak untuk mencari alasan yang masih mengambang tentang teror arwah Vega yang terus menghantui teman satu kelasnya. Ya, hampir semua teman sekelasnya sering didatangi arwah Vega dengan wajah yang mengerikan dan kaki yang diseret, menambah kesan menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


 "Kita harus cari tahu." Rival menjentikkan jarinya. "Besok kita harus ke rumah Vega lagi, Sak."


Sakti manggut-manggut, pertanda menyetujui usulan Rival. "Gue setuju, gue nggak maj dihantuin dia mulu. Lama-lama gue masuk Rumah Sakit Jiwa."


__ADS_2