Sahabat Semati

Sahabat Semati
Semakin aneh


__ADS_3

 Kondisi Imron tambah memperihatinkan. Orang tuanya terpaksa mengikatnya di tempat tidur, karena Imron terus-terusan meronta-ronta tidak karuan. Orang tuanya sangat sedih dengan tingkah anaknya yang semakin hari semakin aneh. Tertawa sendiri dan sering berbicara sendiri, padahal tidak ada siapa pun.


 "Pak, anak kita mau diobatin ke mana lagi, Pak?" tanya Jian pada Hasan--suaminya.


 "Bapak juga bingung, Bu." Hasan hanya bisa memandangi kondisi anaknya dari luar kamar. "Coba besok kita panggil Pak Yukri, Bu, siapa tahu bisa mengobati anak kita. Ibu tahu sendiri,  kan,  Pak Yukri sudah banyak mengobati orang dengan cara rukiyah."


Jian hanya bisa mengangguk, menyetujui saran dari suaminya. "Semoga aja, Pak. Ibu nggak tega lihat Imron diikat tali kayak gitu."


Hasan hanya bisa menghela napas panjang. Jujur sebenarnya dia juga tak tega melihat anaknya diikat seperti itu. Hasan melakukannya karena Imron suka mengamuk secara tiba-tiba.


 Pernah suatu malam, Imron  membenturkan kepalanya sendiri di tembok. Untung orang tuanya segera tahu dan berusaha menenangkan Imron yang terus meronta-ronta tidak karuan.


  "Ibu mau ngambil makan buat Imron dulu, Pak," kata Jian menuju dapur dan beberapa saat kembali membawa piring dan segelas air minum. Jian langsung menuju kamar Imron dan menyuapi anaknya itu.

__ADS_1


  "Nak, makan, ya?" tanya Jian.


Imron menatap mata Ibunya tajam dan langsung menampik piring itu hingga terjatuh ke lantai. Jian menggelengkan kepala dan memungut piring yang berisi lauk dan nasi. Jian tidak menyerah, ibu berusia empat puluh lima tahun itu menawari anaknya minum. "Nak, minum, ya?"


Imron mengacungkan jarinya dan berkata, "Pergi!"


Jian tidak menyerah. Dia malah memeluk anaknya dengan erat, walaupun Imron terus berusaha melepaskan pelukan ibunya.


 "Pergi!" ulang Imron sekali lagi.


 "Ibu?" Tiba-tiba Imron berbicara normal.


"Kamu sudah sadar, Nak?"

__ADS_1


"Aku kenapa, Bu?" tanya Imron, bingung. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi,kenapa sampai-sampai Imron diikat tali di tempat tidur.


Jian menjelaskan yang terjadi pada Imron. Saat Jian menceritakan, Imron tidak percaya apa yang dialaminya. Seingatnya, dia hanya di kamar dan tidur. Tidak mengingat apa pun. Apalagi yang ibunya katakan kalau beberapa hari ini dia bersikap aneh dan berbicara sendiri.


 "Apa itu yang sebenarnya terjadi padaku, Bu?" tanya Imron, lagi.


Jian hanya menganggukkan kepala. "Kamu sudah nggak apa, Nak? Ibu akan melepaskan tali yang mengikatmu, Ibu nggak tega lihat kamu." Jian melepaskan tali yang ada pada tangan dan kaki Imron.


 Imron merasa ada yang aneh dengannya akhir-akhir ini. Setiap hari dia merasa badannya semakin membungkuk dan bertambah berat. Imron sangat yakin,  kalau itu adalah ulah Vega yang terus-terusan menghantuinya.


  Sampai kapan lo gangguin gue terus, Ga?


Jian kembali memeluk Imron sejenak dan berlalu meninggalkan kamar Imron.

__ADS_1


Imron bingung, dia sangat yakin sikapnya yang aneh ini karena pengaruh gangguan dari arwah Vega.


  "Gue harus cari cara buat ngelepasin janji semati itu," gumam Imron, mantap.


__ADS_2