
Ratu, ibu Vega mendatangi kediaman Imron untuk memberitahukan ancaman Vega tadi malam. Ratu mulai mengetuk pintu, sampai akhirnya pintu terbuka.
"Ada apa, Mbak"? tanya Jian, ibu Imron.
Ratu maju satu langkah. "Imron di rumah?"
Jian mengangguk dan mempersilakan Ratu masuk. Jian duduk di sebuah sofa dan berdekatan dengan Ratu. Wanita berusia empat puluh tujuh itu menatap Ratu yang sedari tadi gugup.
"Kamu nggak apa? tanyanya.
Tanpa basa-basi, Ratu menceritakan kejadian soal tadi malam. Tentang arwah Vega yang mendatangi dirinya. Mau tak mau Ratu juga menceritakan penyebab kematian Vega pada Jian. Jian kaget bukan main saat Ratu menceritakan itu semua. Jian langsung bangkit dan memanggil Imron yang berada di kamar.
"Nak, keluar sebentar, ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu."
Tak berselang lama, Imron membuka pintu. "Ada apa, Bu?"
"Ayo ke ruang tamu," ajak Jian pada Imron.
Jian dan Imron menuju ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya Imron saat melihat Ibu Vega berada di rumahnya. Rasa takut sudah menghantui Imron. Dia takut Ibu Vega sudah tahu kejadian yang sebenarnya.
Imron hanya bisa pasrah. Cowok itu langsung duduk di seberang Ratu.
"Ada apa, Tante?" tanya Imron sedikit gugup.
"Vega mau mengancam bunuh kamu dan teman\-temanmu, "jawab Ratu, membuat Imron bertambah kaget.
"Jadi, Tante sudah tahu kalau saya penyebab semuanya?"
Ratu mengangguk. "Tante tahu, Imron, tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Anggap saja itu takdir dari Allah, Nak."
Imron merasa tidak enak pada Ibu Vega. Saat sudah mengetahui semua, dia tidak marah sedikit pun. Dia masih berusaha tabah dan ikhlas menerima kematian anaknya yang tragis.
"Maafkan saya, Tante," Imron bangkit dan langsung bersimpu di kaki Ratu. "Saya nggak ada maksud buat Vega celaka sampai mati."
Imron meneteskan air mata, dia benar-benar bersalah.
"Sudahlah, Nak. Ratu menepuk\-nepuk bahu Imron. Tante nggak marah sama kamu."
"Tapi, Tante?"
"Nggak apa\-apa," Ratu tersenyum. "Yang penting kamu dan teman\-temanmu harus berhati\-hati. Vega tidak main\-main dengan ancamannya, padahal Tante sudah berusaha bicara sama dia. Tetap saja dia kokoh dengan pendiriannya."
"Semua ini gara\-gara saya, Tante. Semua teman Imron yang tidak bersalah jadi tersangkut ke masalah ini. "
"Pasti ada cara untuk mengembalikan Vega ke alamnya."
"Pasti ada, Mbak, sahut Jian. "
__ADS_1
"Nanti aku cari tahu, deh, Mbak."
Ratu lalu berpamitan pada Imron dan Jian. Ratu keluar dari rumah Imron dengan berjalan kaki, karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.
Sesampainya di rumah, Ratu menyenderkan bahu di sofa. Seketika angin berhembus sangat kencang. Ratu berdiri dan menyibakkan gorden. Aneh, di luar rumah angin berhembus tidak sekencang di dalam rumah. Ratu kembali menutup gorden dan menyederkan bahunya lagi. Baru saja, Ratu duduk sebentar, arwah anaknya kembali datang.
"Kenapa Ibu mengatakan semuanya pada Imron?" tanyanya.
Ratu yang kaget langsung menjelaskan pada Vega bahwa tujuan Ibunya baik kalau dia tidak ingin anaknya tidak tenang selama dendam itu masih ada. Vega malah tidak terima, cowok itu malah mengeluarkan kekuatan yang dimiliki. Seluruh benda-benda yang ada di rumah berterbangan ke atas, lalu jatuh secara bersamaan.
"Kenapa kamu lakukan ini, Nak?" tanya Ratu. Wanita itu tidak habis pikir kenapa Vega memberantaki rumahnya.
"Karena Ibu sudah mengacaukan semua rencanaku!" seru Vega.
Matanya melotot merah seperti darah.
"Ibu hanya mau kamu tenang, Nak," jawab Ratu, mencoba memberikan pengertian.
"Ibu nggak perlu ikut campur urusanku. Selama ada yang selalu melindungi Imron, aku akan selalu datang!" Vega tertawa licik. "Asal Ibu tahu, aku hanya mengincar Imron. Ya setelah Imron mati aku baru bisa tenang."
"Tapi, Nak?"
Vega menghilang begitu saja, tapi suaranya masih terdengar. "Aku akan kembali lagi untuk menjemput Imron, Bu!"
Ratu hanya bisa sedih mendengar pernyataan anaknya. Dia tidak tahu harus menyadarkan Vega dengan cara apalagi.
Imron.
Terdengar suara memanggil saat Imron sedang mencuci muka di wastafel kampus. Imron menatap kaca yang ada di depan. Tak ada apa-apa sama. Kembali Imron membasuh wajahnya dengan air. Saat air itu menyentuh mukanya, Imron merasa ada yang aneh. Kaget bukan main saat Imron melihat air itu berubah menjadi merah seperti darah. Bau air menjadi anyir dan berbau busuk.
"Bau apaan sih ini?" tanya Imron, mengedarkan seluruh pandangan.
Karena tak tahan dengan baunya, Imron berjalan keluar kamar mandi. Seketika di hadapan Imron arwah sahabatnya kembali datang.
Imron.
Imron mundur satu langkah. "Ngapain lo?"
"Gue mau lo mati, Ron. Kalau lo nggak mau ikut gue, gue bakalan celakain teman kita semua."
Vega tertawa licik. Kakinya berjalan terseok-seok menghampiri Imron.
"Lo udah gila?" Imron menggelengkan kepala tidak percaya.
"Janji tetaplah janji, Imron."
Jarak Vega dan Imron semakin dekat, tak ada ruang di antara mereka.
Tangan Vega maju ke depan bersiap akan mencekik Imron. Imron sudah tidak bisa berkutik lagi. Vega mulai mencekik Imron, Imron mulai kehabisan napas.
"Lepasin gue!" Imron berusaha melepaskan cekikan, tapi cekikan itu semakin kuat.
__ADS_1
"Lepasin dia!" teriak salah seorang yang ternyata Rival.
Vega melirik ke arah Rival. Ada pahlawan kesiangan rupanya. Vega tertawa licik dan menghampri Rival.
"Jangan sakiti Imron, Ga, dia kan sahabat lo!" Rival berusaha memberikan nasihat pada Vega supaya dia tidak terus\-terusan menganggu Imron.
"Masa bodoh! Dia udah janji sama gue mau hidup dan mati sama\-sama. Kalau lo lindungi dia, lo juga akan mati!" Tatapan Vega menjadi sangat tajam. Dia benar\-benar serius dengan perkataannya.
"Lo pergi aja Val, jangan peduliin gue!" perintah Imron. Cowok itu hanya tidak mau Rival ikutan celaka karena kesalahannya. Tetap Rival tidak mau pergi dari tempat itu, dia malah bersikeras akan membantu Imron.
"Pergi!" perintah Imron lagi.
"Gue nggak mau pergi, Ron."
"Pergi gue bilang!"
Vega melepaskan cekikannya pada leher Imron. Vega menghampiri Rival dan menatapnya tajam. Lo harus mati! Vega mengeluarkan kekuatannya. Dia mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan ke Rival. Seketika tubuh Rival terpental dan kepalanya terbentur tembok.
"Apa yang lo lakuin, Ga?" Imron yang melihat kejadian itu merasa iba pada Rival. Rival tidak ada hubungannya dengan kesalahan Imron.
"Itu akibatnya kalau ikut campur urusan gue," ucapnya.
" Imron semua keputusan ada di tangan lo. Kalau lo mau lihat semua teman kita celaka, silakan. "
"Oke gue bakal lakuin apa yang lo mau, Ga." Imron akhirmya pasrah dan merelakan nywanya demi keselamatan semuanya.
"Jangan Imron! Rival masih setengah sadar mengatakannya. Jangan ikuti kata iblis itu!"
"Diam!" teriak Vega tidak suka dengan perkataan Rival.
"Ron, gue mohon,"pinta Rival.
"Ini semua demi kalian semua." Imron tersenyum. Sudah saatnya dia berkorban untuk teman\-temannya, karena semua ini salahnya.
"Oke, Ron. Besok gue jemput nyawa lo, karena besok tepat empat puluh hari kematian gue." Setelah berkata, Vega menghilang.
Rival dan Imron beradu pandang. "Kenapa lo lakuin itu, Ron?" tanya Rival.
"Ini demi kalian."
__ADS_1