Sahabat Semati

Sahabat Semati
Dia harus mati, Ibu!


__ADS_3

  Ratu, ibu Vega sedang membereskan rumah yang berantakan. Semenjak kematian Vega, Ratu lebih menyibukkan diri supaya dia tidak teringat mendiang anaknya. Selesai membersihkan rumah, Ratu duduk di sofa depan tv. Ratu menyenderkan punggungnya di sofa. Bayangan Vega kembali terbayang dalam otak Ratu.


 Bagaimana pun Vega adalah anak satu-satunya yang dia besarkan dengan susah payah.


   "Ibu."


Suara terdengar di telinga Ratu. Ratu mempertajam pendengarannya. Salah dengar, pikirnya.


 "Ibu."


Kembali suara itu terdengar. Ratu semakin bingung. Bulu kuduknya mulai merinding. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu memegangi tengkuknya.


  "Kok suara itu ada lagi?" tanyanya pada diri sendiri.


Tiba-tiba, televisi menyala sendiri. Ratu semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ratu berdiri dan menuju ke televisi. Saat Ratu hendak mematikan televisi,  Ratu dikagetkan dengan penampakan sosok bermuka hancur pada layar televisi.


Perlahan, Ratu mundur dan berlari menuju kamarnya. Ratu sangat ketakutan dengan penampakan itu. Ditambah sekarang dia sedang di rumah sendiri, suaminya sedang bekerja.


Tak sampai di situ saja, barang-barang di kamar Ratu berterbangan, membuat Ratu semakin takut. Akhirnya,  Ratu membungkus dirinya dengan selimut. Dia benar-benar takut setengah mati.


   "Ibu."


Suara itu kembali terdengar jelas. Ratu hanya bisa memejamkan mata sembari menutup kedua telinga. Entah apa yang terjadi, selimut yang dipakai Ratu untuk menutupi badan terbang sendiri.


  "Tolong jangan ganggu saya!" seru Ratu.

__ADS_1


  "Ibu, ini Vega," kata Vega. Kini dia berdiri di hadapan ibunya yang ketakutan.


Ratu mengejapkan mata. Dia tak percaya jika itu Vega. Vega sudah mati, dan tak mungkin kembali.


  "Kamu bukan anak saya!" serunya lagi. "Pergi kamu, dan jangan ganggu saya."


 "Aku Vega, Bu."  Vega menatap ibunya sendu. Dia merasa rindu pada ibu kesayangannya itu. "Ibu, Vega rindu Ibu."


 "Cukup saya bilang!"


  "Tapi ini benar Vega, Bu," jawab Vega.


 "Vega belum bisa tenang,Bu." Suara Vega terdengar seperti mau menangis.


  "Ibu ingat waktu Vega berusia lima belas tahun, Ibu kasih Vega hadiah bola basket, karena Ibu tahu Vega suka basket."


Ucapan itu membuat Ratu semakin yakin kalau itu benar-benar Vega. Ratu mulai meneteskan air mata, tak kuasa melihat arwah Vega yang masih gentayangan. "Kenapa kamu masih di dunia ini, Nak? Seharusnya kamu sudah tenang, karena yang menabrak kamu sudah ditangkap."


 "Ada urusan di dunia ini yang belum Vega selesaikan, Bu." Tatapan Vega menjadi menyeramkan.


 "Apa itu, Nak?" tanya Ratu.


 "Mengajak sahabat Vega mati."


Ratu tidak mengerti maksud perkataan Vega, lantas dia menjawab, "Siapa?"

__ADS_1


 "Imron, Bu. Dia udah janji mau sehidup semati sama Vega."


Ratu menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir Vega membawa janji persahabatannya dengan Imron sampai mati.


  "Itu janji di dunia, Nak," jawab Ratu. "Kamu nggak bisa mengajak Imron mati, dia itu sahabat kamu." Ratu berusaha memberikan pengertian pada Vega supaya mengurungkan niatnya mengajak Imron mati bersamanya.


  "Janji tetaplah janji!" Vega tertawa licik. "Dia harus tetap mati, Ibu!"


 Ratu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menasihati Vega yang keras kepala. Akhirnya, Ratu terdiam sejenak.


  "Nak, dengarkan kata Ibu," ucapan Ratu terhenti. "Kalau kamu masih sepertu itu, sampai kapan pun arwah kamu nggak akan tenang."


 "Aku nggak peduli, Bu. Dia harus mati!" seru Vega. "Dia penyebab Vega mati, Bu!"


Perkataan Vega membuat Ratu terkaget-kaget. Rahasia yang cukup lama rapat-rapat akhirnya terbongkar. "Coba ceritakan kejadiannya, Nak."


Vega memegang tangan Ratu. Saat Vega memegang tangan Ratu, Ratu melihat kejadian kecelakaan tragis yang menimpa Vega. Setelah gambaran kecelakaan itu selesai, Vega melepaskan tangannya dari Ibunya.


 "Nak, semua itu sudah takdir dari Allah, kamu harus ikhlas. Satu lagi, jangan ganggu Imron dan temanmu yang lain. Ibu mohon," ujar Ratu memohon.


 "Tidak! Vega akan merampas nyawa yang melindungi Imron!"


Setelah berkata, Vega menghilang begitu saja.


Ratu semakin panik dengan ancaman anaknya itu. Besok pagi Ratu akan ke rumah Imron untuk memberitahukan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2