
Sakti memperhatikan sikap Imron yang sedari tadi hanya terdiam saja. Penasaran dengan perubahan temannya itu. Cowok bertubuh pendek dan berambut kriting itu menghampiri Imron.
"Ron, lo nggak apa, kan?" tanya Sakti sambil menepuk bahu Imron.
Imron hanya menggelengkan kepala.
"Lo serius? Gue lihat muka lo pucet, Ron." Sakti memandang lekat-lekat wajah temannya itu. Terlihat wajah Imron sangat pucat, tak seperti biasanya.
"Pergi!" seru Imron.
"Lo kenapa, sih?" Sakti mengernyitkan dahi, masih memegangi pundak temannya itu. Sakti masih bingung dengan sikap Imron yang aneh hari ini. Ditambah badan Imron yang semakin hari semakin membungkuk seperti ada orang yang mengendong di belakang.
"Gue bilang pergi!" seru Imron lagi.
Sakti tak menyerah, cowok itu terus mengajak Imron berbicara meskipun beberapa kali mengusirnya. Sampai-sampai Imron mendorong tubuh Sakti membuat badan cowok itu terjerembab di lantai. Sakti menghela napas, dia sama sekali tidak marah dengan perlakuan Imron terhadapnya. Sakti curiga ada sesuatu pada diri Imron yang membuat sikap Imron berubah. Tatapan Imron juga kosong, seperti mayat hidup.
"Oke, gue pergi, Ron," ucap Sakti pada akhirnya. Cowok itu bangkit dan menuju ke bangku Rival. Rival yang menyadari kedatangan Sakti langsung mengangkat sebelah alis.
"Ada apa, Sak?" tanya Rival.
"Imron kenapa ya, aneh gitu?" Sakti menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aneh kenapa?"
"Lo lihat aja."
Rival menghadap belakang. Terlihat Imron hanya terdiam dengan tatapan kosong. Leher Rival tercekat, benar apa yang dilontarkan Sakti baru saja.
"Bener kata lo. Dia kenapa, ya?"
Rival memang bermusuhan dengan Imron, tetapi cowok itu masih peduli dengan temannya itu.
"Gue juga nggak tahu, Val. Jangan-jangan hantunya Vega nempel ke dia lagi?" tebak Sakti.
Rival membenarkan apa yang dikatakan Sakti. Jujur, semenjak dia memakai kalung dari dukun itu, Rival tidak pernah lagi diganggu oleh sosok arwah Vega lagi. Tetapi, Rival tak tahu menahu apakah teman yang lain masih diganggu oleh Vega atau tidak.
__ADS_1
"Lo kan kemarin habis dirasuki sama Vega, tuh? Dia masih ganggu lo nggak?" tanya Rival menyelidik.
"Nggak untuk sementara ini. Pasti ada sesuatu antara Imron dan Vega sebelum si Vega meninggal. Lo mikir sampai situ, nggak?"
Rival memijit kepalanya sambil berpikir mencerna perkataan Sakti. "Bisa jadi, sih. Tapi apa hubungannya?" Rival menjentikkan jari. "Kita harus cari tahu, sebelum kita dan Imron kenapa-kenapa."
"Gue setuju, Val," kata Sakti. "Kita harus segera cari tahu lewat orang tua Vega, siapa tahu ada informasi penting. Ya, nggak?"
Rival mengangguk. "Bener, Sak. Besok kita ke rumah Alm. Vega, ya?"
Sakti mengangguk.
***
Sakti dan Rival mendatangi rumah Alm Vega. Setelah sampai, Sakti mengetuk pintu dan tak berselang lama, Ratu--Ibu Vega membukakan pintu.
"Kalian siapa, ya?" tanyanya ramah.
"Saya teman kuliah Alm. Vega, Bu," jawab Sakti ramah.
Sakti dan Rival masuk dan langsung duduk di sebuah sofa panjang depan televisi.
"Silakan diminum tehnya," ujar Ratu sembari meletakkan teh di atas meja.
Sakti dan Rival langsung meninum teh itu sampai habis. Akhirnya, Rival membicarakan maksud kedatangannya dengan Sakti.
"Bu, saya boleh nanya sesuatu?" tanya Rival dengan muka serius.
Ada hawa aneh saat cowok itu berada di rumah Alm. Vega, seperti ada yang mengawasi di setiap sudut ruangan.
"Silakan, Nak, mau tanya apa?" Ratu tersenyum, dan tak merasa keberatan dengan pertanyaan yang akan dilontrakan teman anaknya itu.
"Maaf, sebelumnya, Bu," ucap Rival hati-hati, takut menyinggung perasaan keluarga Vega jika dia menyinggung masalah kematian anaknya. Rival mengatur napasnya. "Penyebab kematian Vega sebenernya apa, Bu?"
"Jadi waktu Vega sama Imron mau berangkat ke kampus itu kan sehabis hujan dan jalanan licin. Nah, mereka tergelincir dan tiba-tiba ada truk yang lewat dengan kecepatan tinggi, dari situ kecelakaan maut itu terjadi, Nak. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Nggak apa, Bu, kami cuma bertanya saja dan maaf kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan Ibu dan keluarga."
"Ah, tidak sama sekali, Nak, tetapi kadang saya suka sedih, Nak," ucap Ratu terhenti membuat Rival dan Sakti beradu pandang.
"Saya paham pasti ibu sangat kehilangan Vega, ibu yang sabar, ya." Rival tersenyum ke arah Ratu.
"Bukan itu masalahnya, Nak, kadang saya suka bingung kenapa arwah anak saya belum tenang, padahal penabrak anak saya sudah ditangkap dan dihukum seberat-beratnya."
Perkataan Ratu sontak membuat Rival dan Sakti mengangguk. Benar kecurigaannya selama ini kalau ada masalah yang belum selesai, sampai-sampai arwah Vega belum tenang di alamnya.
"Ibu sering didatangi Vega?" Kini Sakti yang angkat bicara.
"Iya, Nak. Vega selalu datang setiap malam dan selalu berkata pembunuh harus mati, di situ saya bingung maksud Vega apa, lagipula penabraknya sudah dipenjara."
Sakti dan Rival menggelengkan kepala. Keduanya bingung sebenarnya apa yang terjadi.
"Tidak cuma ibu saja, teman satu kelas juga sering didatangi Vega, Bu."
"Saya juga jadi bingung, Nak, sebenarnya ada apa?" Ratu memungut gelas yang ada di meja dan kembali beberapa saat untuk meneruskan obrolannya.
"Bu, kalau Vega sama Imron itu hubungan pertemanan mereka erat banget, ya?" Sakti mengajukan pertanyaan dengan detail.
Ratu menarawang jauh ke depan. "Akrab sekali, mereka berteman sejak kecil."
Dirasa cukup, akhirnya mereka berpamitan dan menjabat tangan Ratu.
"Kalau kapan-kapan saya main ke sini, boleh, kan, Bu?" tanya Rival dan Sakti kompak.
Ratu mengangguk sambil tersenyum.
Rival dan Sakti melangkah keluar dari rumah Vega dengan berjalan kaki. Sengaja mereka menitipkan sepeda motornya di tempat penitipan motor karena akses jalan ke rumah Vega lumayan terjal.
"Kayaknya ada yang belum kita ketahui, Sak," kata Rival.
"Kita harus cari tahu." Sakti merangkul bahu Rival. Ya, mereka akan mencari tahu supaya arwah Vega tidak menganggu mereka dan teman mereka lagi.
__ADS_1