
Imron sudah tidak tahan lagi gangguan arwah Vega. Cowok itu harus mencari cara untuk memutuskan janji dengan sahabatnya itu. Imron menghela napas dan memanggil arwah Vega.
"Vega, gue mau ngomong sama lo," teriak Imron lantang. Dia sudah memikirkan cara untuk memutuskan janji sematinya itu.
Tiba-tiba kamar Imron menjadi mencekam. Barang-barang di kamarnya berterbangan. Tak lama kemudian, muncul arwah Vega dengan wajah yang tambah menyeramkan. Wajah Vega bertambah busuk dan bau anyir menyeruak di hidung Imron.
"Ada apa, Sahabatku?" tanyanya.
Perlahan tapi pasti, Imron mengutarkan maksudnya. Dengan mata terpejam dan lantang, cowok itu berucap. "Gue mau mutusin janji sama lo!"
Arwah Vega merasa tak terima dengan ucapan Imron. Matanya menyorot berwarna merah. Vega benar-benar marah dan tidak terima. Dia terbang dan langsung menyerang Imron, dia tidak bisa berbuat banyak, karena Vega mencekiknya dengan kencang sampai-sampai Imron hampir kehabisan napas.
"Lepasin gue, Ga!" seru Imron terbata-bata.
Sayang, Vega tidak peduli dengan ucapan sahabatnya itu. Dia tetap mencekik Imron tanpa ampun.
"Lo harus mati bareng gue, Ron!" Vega semakin memperkuat cekikan di leher Imron, membuat Imron bingung harus berbuat apa. Imron sudah pasrah jika dia akan mati di tangan sahabatnya
__ADS_1
sendiri.
Imron sadar, semua ini salahnya, dan dia pantas mendapatkan balasan atas kelakuan yang diperbuat. Imron pasrah sambil meneteskan air mata.
Seketika pintu terbuka. Arwah Vega melepas cekikan pada leher Imron dan menengok ke belakang.
"Lepasin dia, Ga," kata Rival dengan lantang.
"Bukan urusan lo!" Vega merasa tidak senang ada yang mencampuri urusan antara dia dan Imron.
"Dia itu sahabat lo. Masak lo tega matiin sahabat lo sendiri," sahut Sakti.
"Maksud lo apa nunjuk Imron sebagai penyebab kematian lo?" Sakti bingung dengan maksud perkataan Vega yang tiba-tiba berbicara seperti itu.
Vega kembali tertawa sambil menghampiri Imron. "Janji tetaplah janji, Imron!"
Setelah berkata, Vega menghilang begitu saja. Imron merasa lega karena Vega sudah pergi. Akhirnya, Sakti dan Rival menghampiri Imron, lalu menuntun ke tempat tidur.
__ADS_1
"Maksud perkataan Vega apa kalau lo penyebabnya?" tanya Sakti tiba-tiba.
Imron bingung harus menjawab apa. Cowok itu hanya terdiam, dan enggan menjawab.
"Kenapa lo nggak jawab?" Sakti bertanya kembali.
Rival menepuk bahu Sakti dan menggelengkan kepala. Bukan waktu yang tepat Rival rasa untuk menanyakan pada Imron setelah apa yang baru saja terjadi.
Sakti paham dan menganggukkan kepala. "Oke, Ron, tapi lo janji harus cerita ke kita supaya semua permasalahan ini selesai."
Imron hanya mengangguk.
"Kalau gitu, gue sama Sakti balik dulu, ya, Ron? Kalau ada apa-apa hubungi kita."
Rival dan Sakti keluar kamar Imron. Imron meringkuk ketakutan. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Hawa di kamar Imron mendadak dingin. Imron memegangi tengkuknya. Imron merasakan ada yang ganjil. Mata Imron mengedar ke segala arah.
__ADS_1
Tiba-tiba, arwah Vega datang lagi, dan Imron hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya.