Sahabat Semati

Sahabat Semati
Bertamu ke rumah Imron


__ADS_3

 Semalam Sakti sudah merencanakan akan ke rumah Imron bersama Rival. Sekarang ini kedua cowok itu sudah sampai di depan rumah Imron. Aura negatif semakin terasa saat keduanya tepat berada di depan pintu. Rival akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tak berselang lama, Jian membuka pintu.


 "Temannya Imron, ya?" tanyanya ramah.


Sakti mengangguk. "Benar, Bu. Imronnya ada?"


"Imron sudah dari kemarin nggak mau keluar kamar, Nak," kata Jian. "Silakan masuk."


Sakti dan Rival masuk ke dalam rumah Imron. Pengelihatan Rival tertuju pada foto yang dipajang di dinding lemari. Foto kebersamaan Imron dan Vega. Merasa ingin tahu, Rival menanyakan tentang pertemanan Imron dan Vega pada Jian--Ibu Imron.


 "Bu, pertemanan Vega sama Imron dekat sekali, ya?" tanya Rival tiba-tiba. Sakti yang mendengar perkataan Rival langsung menyengol bahu temannya itu. Rival hanya mengedikkan bahu acuh.


 "Dekat sekali, Nak. Mereka sudah berteman sejak kecil."


 "Oh, gitu ya, Bu," jawab Rival apa adanya. "Semenjak kematian Vega, Imron tambah aneh nggak menurut Ibu?"


Lama-lama Sakti tambah kesal dengan perkataan  Rival. Sakti menginjak kaki Rival dan sedikit merintih kesakitan.


 "Lo kalau nanya yang bener aja, nyinggung tahu nggak?" bisik Sakti.


 "Ya, kan gue nanya doang, Sak."

__ADS_1


Jian yang melihat keduanya hanya tersenyum. "Nggak apa, tanya aja, Nak," kata Jian sambil tertawa. "Ya, akhir-akhir ini Imron jadi aneh, dia suka bicara sendiri."


Kalimat yang baru saja membuat Rival dan Sakti beradu pandang. Keingin tahuan mereka semakin bertambah.


 "Bu, saya boleh lihat Imron?" Kini Sakti yang berbicara.


Jian mengangguk. "Silakan, Nak. Kamarnya nggak dikunci, kok."


Sakti dan Rival langsung berjalan menuju kamar Imron. Tanpa mengucap kata permisi, keduanya langsung duduk di samping Imron.


  "Ron, lo nggak apa?" tanya Sakti yang perihatin dengan keadaan Imron. Keadaan yang sangat memperihatinkan. Rambut acak-acakan, pikiran kosong dan tawa yang tak jelas.


 "Ron, lo kenapa, hah?" Rival menguncang-nguncangkan bahu Imron. Imron langsung menatap Rival tajam dan menusuk. Spontan Imron langsung mencekik leher Rival. Sakti kaget bukan main dengan tingkah Imron. Segera dia berusaha melepaskan cekikan dari leher Rival yang mulai kehabisan napas.


 "Ron, lepasin!" perintah Rival berusaha menarik tubuh Imron menjauh darinya. Semakin Rival berusaha melepaskan cekikan Imron, semakin kencang cekikan yang Imron berikan.


 "Cekik dia lagi, Imron," perintah arwah Vega. Imron menurut perintah Vega dan mencekik dengan kekuatan yang sangat besar.


 Rival hampir putus asa. Cowok itu sudah kehabisan ide untuk melepaskan diri dari jeratan Imron. Sakti juga masih berusaha melepaskan cekikan itu. Sakti akhirnya  keluar kamar dan berteriak kencang.


 "Bu, Imron cekik si Rival!" Sakti panik bukan main, begitu pula dengan Jian. Jian segera memanggil suaminya dan tak berselang lama Hasan, Jian dan Sakti sudah berada di kamar Imron.

__ADS_1


Orangtua Imron sangat perihatin dengan keadaan anaknya. Hasan akhirnya ikut mencoba melepaskan cekikan itu dari leher Rival. Setelah berhasil, Hasan terpaksa menali tangan dan kaki Imron di tempat tidur. Hasan dan Jian terpaksa melakukannya karena Imron semakin meronta-ronta seperti orang kesurupan.


 "Maafkan Bapak, Nak," ucap Hasan, tak tega.


Rival yang sudah bebas dari cekikan Imron bisa bernapas lega. Tak mau menambah masalah, akhirnya Rival dan Sakti pamitan pulang. Sebelum itu, orang tua Imron minta maaf dengan apa yang terjadi.


"Hampir aja gue ****** dicekik sama dia!" pekik Rival, kesal.


"Sabar, Val, kayaknya dia emang nggak beres, deh."


Rival mengangguk. "Kayaknya dia kerasukan setannya Vega tuh. Masih aja dia dendam sama gue, padahal gue  udah pakai kalung pemberian dukun sakti," jawab Rival sambil mengangkat kalungnya.


 "Gue rasa juga gitu, Val," kata Sakti. "Kita harus cari tahu rahasia mereka berdua, bisa jadi rahasia itu ada di rumah Vega. Lo berani nggak ke sana lagi?


 "Gue berani, Sak."


"Atur aja, gue ngikut."


"Siap. Pokoknya kita harus segera pecahin masalah ini."


***

__ADS_1


__ADS_2