
Rival menceritakan kejadian semalam saat dia mendatangi dukun saat arwah Vega mendatanginya serta kalung pemberian dari dukun itu.
Sontak suasana kelas mendadak mencekam. Semua mata mendengarkan saat cowok berparas tampan itu bercerita kecuali Imron.
Cowok itu enggan mendengarkan cerita Rival. Menurutnya hal itu tidaklah penting. Baginya, semua orang tak perlu terus-terusan dan mencari tahu kematian Vega. Toh, sebenarnya penyebab kematian ada di hadapan mereka. Imron.
"Sampai kapan orang-orang bahas kematian Vega terus?" gumamnya pelan. Imron menghela napas panjang. Cowok itu menerawang jauh saat kecelakaan itu terjadi. Seolah kejadian itu kembali membayanginya. Jujur, kadang kala dia merasa bersalah. Gara-gara dirinya, semua temannya dihantui oleh Vega.
Imron menggeleng dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba badan Imron terasa lebih berat. Imron berusaha menengakkan badan, tetapi tetap berat. Perlahan, punggungnya sedikit membungkuk. Anehnya, badan Imron tak merasa keberatan seperti tadi.
"Lo nggak ikut nimbrung ngobrol, Ron?" tanya Irfan menghampiri Imron yang sedari terdiam.
"Nggak!" jawab Imron ketus.
"Kok lo ngomongnya ketus gitu, Ron? Lo kenapa? Cerita sama gue, lah." Irfan menepuk bahu Imron dari samping.
"Gue nggak kenapa-kenapa."
"Gue tahu, pasti lo nggak suka pada bahas Vega, kan?" Alis Irfan terangkat satu.
__ADS_1
"Iya. Nggak baik ngomongin orang yang udah meninggal. Bener,kan, kata gue?"
Irfan mengangguk dan menarik tangan Imron keluar dari kelas untuk menenangkan perasaan Imron.
"Kita ke kantin aja, Ron," ajak Irfan menuju kantin. Imron hanya seperti bebek yang menurut apa kata majikan. Sesampainya di sana, dia langsung duduk, sedangkan Irfan memesankan minuman. Tak berselang lama, cowok berambut pirang itu membawa minuman dan meletakkan di meja.
"Makasih, Fan," ucap Imron.
"Sama-sama, Sobat."
Imron segera menegak minuman itu hingga habis. Setelah keduanya menghabiskan minuman dan membayar, mereka kembali ke kelas.
Saat masuk kelas, suasana menjadi ramai. Teman satu kelas mereka berlarian ke sana ke mari. Imron dan Irfan bingung sendiri dengan apa yang sebenarnya terjadi. Irfan segera menghadang salah seorang temannya dan menanyakan apa yang terjadi.
Imron dan Irfan saling beradu pandang. Cowok berambut keriting itu nekat masuk kelas walaupun Irfan berusaha mencegahnya masuk.
Benar saja, Sakti kesurupan. Terlihat dari matanya yang putih dan tingkahnya yang tak seperti biasanya.
"Sadar, Sak!" Imron menepuk-nepuk bahu Sakti. Sakti tetap menjerit-jerit dan mengeluarkan suara cekikikan yang sangat menyeramkan dan memilu hati.
__ADS_1
Sakti mendatangi Imron dan berusaha mencekik Imron. "Lo harus mati bareng gue," ucapnya.
"Gue tahu lo bukan Sakti. Lo pasti Vega, kan?"
"Hmmm." Sakti terus mempererat cekikannya. Arwah Vega merasuki tubuh Sakti untuk menagih janjinya pada Imron.
"Lepasin gue, Ga!" perintah Imron masih berusaha melepaskan cekikan. Tetap saja cekikan itu tak dilepas, malah semakin erat.
"Katanya kita sahabat semati. Mana buktinya?"
"Gue belum siap mati, Ga. Plis, ngertiin gue."
"Janji tetaplah janji, Imron," kata arwah Vega yang merasuki tubuh Sakti.
Setelah berucap, Sakti tidak sadarkan diri. Imron memanggil beberapa temannya untuk membopong Sakti menuju ruang UKS. Sakti akhirnya dibawa di UKS. Imron takut bukan main, ternyata arwah sahabatnya itu masih menginginkan kematiannya dan menagih janjinya kala itu.
"Maafin gue, Ga," gumamnya lirih.
"Lo nggak apa, Ron?" tanya Irfan, memastikan.
__ADS_1
Imron menggeleng. "Gue nggak apa-apa. Santai, Bro."
"Bagus kalau lo nggak apa, gue khawatir."