Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu

Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu
Mantan Cinta Monyet


__ADS_3

30 menit setelah menyantap makan malam, Farah bersiap-siap untuk tidur. Ia meraih selimut untuk Diva dan untuknya, menyenderkan kursi nya agar lebih nyaman saat tidur nanti.


"Diva bobok ya, Nak!" perintah Farah lalu menyelimuti gadis kecilnya itu.


"Iya, Mommy!" balas Diva lalu mencium kedua pipi Farah.


Dari seberang Gio kembali membuka suaranya, ia kagum dengan Farah yang lihai dalam menguru anak.


"Sungguh ibu yang baik." ucap Gio tanpa menoleh kearah Farah.


Farah hanya diam, menarik selimutnya dan ikut memasuki alam bawah sadar bersama Diva.


Gio kembali mengulum senyum, sudah terbiasa dengan sikap cuek dan acuh Farah. Ia pun ikut memasuki peraduan, mungkin berharap memimpikan Farah malam ini.


***


Pukul satu dini hari Farah terbangun, mengikat tinggi rambutnya yang terurai panjang. Ia menyandar, menatap keluar jendela yang menyuguhkan pemandangan awan putih dan langit yang hitam pekat.


Aku merindukanmu! batin Farah dengan sesak didadanya.


Ia merindukan Leo. Bertemu dengan Gio membawanya kepada masa lalu yang kelam itu, karena Gio lah Farah dan Leo berpisah.


Bodohnya aku terpikat dengan lelaki semacam dia! Farah merutuki dirinya, menyesal dengan yang sudah terjadi.

__ADS_1


***


Disisi lain, Leo telah tiba di bandara Soekarno-Hatta. Ia kembali memesan tiket penerbangan menuju California, untuk menyusul Diva dan juga Farah.


Saat sedang berjalan menuju area pemeriksaan untuk mengecek tiket, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang juga sedang berjalan sambil asik dengan ponselnya. Rambutnya yang terurai panjang tersangkut dikancing jaket kulit Leo.


"Sorry. I'm so sorry!" sesal Leo lalu mencoba melepaskan rambut wanita yang tersangkut itu.


"Iya, saya yang minta maaf. Nggak lihat ada mas yang lagi jalan." balas wanita itu dengan wajah paniknya.


Setelah rambut itu terlepas, Leo memperkenalkan dirinya. Dan sekali lagi meminta maaf atas kejadian tadi.


Wanita itu kini mulai bersikap santai, lalu ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyodorkannya kepada Leo.


Nama yang tertulis dikartu nama itu, Leo membulatkan matanya. Lalu ia menatap wanita itu tanpa berkedip, merasa tidak enak dipandangi oleh Leo, Hana berpamitan.


"Maaf, saya harus segera check-in. Saya permisi! Dan terimakasih." ucap Hana lalu berlalu meninggalkan Leo.


"Tunggu! Anah, kau kah itu?" panggil Leo membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


"Leo?" gumam Hana mengerjapkan kedua matanya.


Leo menghampirinya, ia tak percaya dengan semua ini. Hana merupakan mantan cinta monyetnya saat masih duduk dikelas dua SMP di Paris.

__ADS_1


Ya, Hana juga merupakan kewarganegaraan Prancis. Namun, bisnis ayahnya yang mengharuskan ia dan keluarganya pindah ke negara tropis ini.


Leo mengajaknya untuk check-in bersama, dan berbincang sejenak.


"Mau kemana kamu, Han?" tanya Leo menatap Hana.


"California!" jawabnya singkat.


"Oh!Aku juga." balas Leo tanpa ditanya oleh Hana.


Mereka berjalan lagi menuju ruang tunggu, duduk berdampingan namun tanpa ada obrolan.


"Boleh aku tau, ada urusan apa kamu ke sana?" Leo mencoba mencairkan suasana.


"Aku ingin berkunjung ke tempat Kak Paul." jawab Hana menoleh kearah Leo.


"Oh! Begitu." balas Leo singkat "Lalu, bagaimana kabarmu, Han?" tanya Leo lagi.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja!" jawab Hana menorehkan senyum manisnya yang memperlihatkan garis cekung dipipinya.


"Hm, baiklah!" balas Leo membalas senyuman itu.


Mereka kembali diam, hanya terdengar suara berisik dari orang-orang sekitar dan panggilan-panggilan bagi para penumpang.

__ADS_1


__ADS_2