Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu

Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu
Leonardo, Prancis


__ADS_3

Mentari mulai menampakkan dirinya, membiaskan cahaya kuning menembus jendela kamar seorang pria tampan nan gagah yang tengah berdiri didepan sebuah cermin.


Wajah tampannya terpantul sempurna di dalam cermin itu, ia terlihat semakin sempurna dengan balutan kemeja putih yang di lapisi dengan jas double breasted berwarna navy dan celana kain berwarna senada dengan jasnya serta sepatu pantofel hitam mengkilap membungkus kakinya.


Parfait! gumamnya dalam hati.


"Penampilanku memang perfect, tapi tidak dengan hidupku!" ucapnya datar, mengingat dirinya yang kini hidup sendiri.


Dia adalah Leonardo Edmond Timotty, seorang pria muda tampan dengan status duda dan juga papa hot.


Leo adalah pria berkebangsaan Prancis, namun semenjak kedekatannya dengan Farah dahulu dan juga neneknya yang orang Indonesia asli membuat ia harus bisa menguasai bahasa Indonesia juga.


Puas menikmati keindahan dirinya dalam cermin, Leo berjalan meninggalkan kamarnya menuju ruang makan untuk menyantap sarapan paginya.


Disebuah meja makan sudah tersaji sepiring Salad Nicoise. Yang didalamnya terdapat ikan tuna, kacang panjang, irisan tomat, telur rebus, potongan kentang, dan buah zaitun yang ditemani dengan segelas susu low fat.


"Bonjour, Monsieur!" sapa seorang pelayan wanita paruh baya dengan membungkuk hormat.


"Bonjour aussi!" balasnya sambil mendaratkan bokongnya dikursi dengan kerangka warna gold dan busa dudukan berwarna cream.


Leo menatap sejenak sarapannya, teringat kembali kenangan bersama mantan istrinya saat masih membina rumah tangga.


Farah sangat menyukai menu Salad Nicoise, karena didalamnya terdapat sayuran dan makanan segar. Sehingga membuat Leo juga ikut menyukai menu sarapan itu.


Ah sial, kenapa harus ini? apa tidak ada menu lain untuk sarapan! gerutunya dalam hati.


"Mere Orva! venez ici pendant une minute," Leo melambaikan tangannya memanggil pelayan itu.


"Désolé monsieur, vous avez besoin de quelque chose?" tanya pelayan wanita itu hati-hati.


"La prochaine fois, veuillez servir le petit déjeuner avec un autre menu," perintah Leo untuk menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang berbeda lain kali.


"je m'ennuie avec ce menu tous les matins." imbuhnya seraya bangkit dari sofa.


"Bien monsieur, pardonnez-moi. la prochaine fois, je servirai un autre menu." balas pelayan itu seraya membungkuk hormat.


"Hm," gumam Leo menganggukan kepalanya.


Leo berlalu meninggalkan sarapan paginya dengan alasan bosan dengan sarapan yang itu-itu saja, ia berjalan menuju garasi yang dihuni oleh beberapa mobil mewah.


Diva! ucapnya dalam hati ketika melihat mobil berwarna merah dengan brand mewah peugeot rcz yang terletak dibarisan paling pojok


Saking cintanya Leo kepada Diva dan Farah, ia membelikan hadiah ulang tahun sebuah mobil mewah untuk putri kecilnya sewaktu menginjak usia 2 tahun.


"Daddy rindu kamu nak!" ucap Leo seraya menahan tangisnya.


Kemudian Leo masuk ke dalam sebuah mobil mewah lainnya yang berwarna silver, hari ini ia ingin mengemudikan mobilnya sendiri tanpa seorang supir.


Leo merogoh saku dalam jasnya, meraih sebuah benda pipih yang di layarnya terdapat sebuah wallpaper bergambar seorang anak bayi yang cantik dan juga menggemaskan.


Leo mengusap perlahan layar ponselnya, dan tampaklah potret seorang wanita cantik tengah mengenakan dress selutut berwarna cream.


"Huft!" Leo menghela napasnya secara kasar.


"I love you, chéri!" ungkap Leo seraya menatap lekat foto wanita cantik itu.


Leo menghidupkan mesin mobilnya, pintu garasi pun sudah terbuka dengan lebar. Dengan lihai Leo melajukan mobil sportnya mengarah ke pintu gerbang yang mengelilingi rumah super mewahnya yang sudah terbuka lebar pula.

__ADS_1


Mobil sportpun melesat dengan kecepatan rata-rata, dengan hati-hati Leo mengemudikan mobilnya menuju perusahaan tempat ia bekerja.


30 menit pun berlalu, Leo telah sampai di lobby perusahaan terbesar di Prancis. Perusahaan milik sang kakek yang diwariskan untuknya, cucu kesayangan keluarga Timotty.


Leo menyerahkan kunci mobil miliknya kepada supir perusahaan kepercayaannya untuk memarkirkan mobilnya.


Leo memasuki gedung pencakar langit itu, semua pegawai yang melihat dan berpapasan membungkuk hormat kepadanya.


Pria tampan itu berjalan menuju lift khusus para petinggi di perusahaan itu, dan saat pintu lift terbuka tampak seorang lelaki paruh baya dengan mengenakan setelan jas rapi sama seperti dirinya. Dia adalah Bernard, kakek dari keluarga Timotty.


"Grand pere!" sapa Leo kepada pria paruh baya itu lalu membungkuk hormat.


"Leonard! Masuklah, apa kau ingin berdiri seperti itu terus, um?" balas sang kakek mengulurkan tangan kanannya.


"Baiklah kek!" Leo meraih uluran tangan sang kakek lalu melangkahkan kakinya memasuki lift itu.


Bernard Darrel Timotty, seorang pengusaha sukses di Prancis. Menikah dengan Shera seorang wanita yang berprofesi sebagai penari Bali kala itu, wanita asli Indonesia sama seperti Farah mantan istri Leo.


Seorang pelayan penjaga lift menekan tombol angka 15, lantai dimana ruangan Leo berada.


"Tumben kakek datang ke kantor," ucap Leo menoleh kearah Bernard.


"Kakek ingin bertemu dengan mu Leo!" balas Bernard dengan raut wajah serius.


"Ada perlu apa kek?" tanya Leo penasaran.


"Kita bicarakan ini di ruangan mu saja!" seru Bernard seraya mengarahkan manik matanya kearah penjaga lift.


"Ah baiklah kek!" balas Leo yang mengerti dengan arahan sang kakek.


Mereka pun telah mencapai lantai 15, pintu lift pun terbuka 'ting!' dengan langkah besar dua pria berkharisma itu berjalan menuju ruangan Leo.


"Bonjour messieurs!" sapanya dengan membungkuk hormat kepada dua pria sukses itu lalu membuka pintu untuk mereka.


"Bonjour!" balas Leo dan Bernard kompak lalu memasuki ruangan yang diikuti oleh Qian.


"Qian, bisa kau tunggu diluar sebentar!" ucap Bernard meminta Qian untuk menunggu diluar ruangan.


"Baik tuan, jika perlu sesuatu segera hubungi saya!" Qian menuruti perkataan Bernard.


"Baiklah," balas Bernard.


Qian pun meninggalkan ruangan Leo, berjalan menuju meja kerjanya yang berada di luar sisi kanan pintu ruangan Leo.


"Kunci pintunya!" titah Bernard. seraya mendaratkan tubuhnya disofa.


"Ada apa sebenarnya kek?" tanya Leo seraya menekan remote untuk mengunci pintu ruangannya.


"Leo cucuku! Kakek merindukan Diva, cicitku!" ungkap Bernard dengan sorot matanya yang kini memandang kearah luar jendela.


"Sudahlah kek, Diva sudah bahagia bersama ibunya! Jangan ganggu mereka lagi," sanggah Leo mencoba menghindari pembicaraan yang menyangkut tentang Farah.


Bukan ia tak rindu dengan Diva, hanya saja Leo tidak ingin mengikuti egonya untuk meminta Farah agar ia mau mengizinkan Diva tinggal bersamanya.


"Kakek menginginkan Diva, bukan Farah mantan istrimu!" seru Bernard dengan sedikit meninggikan suaranya.


Dengan kelakuan Farah yang mengkhianati cucunya, membuat Bernard yang dulu juga sangat menyayangi Farah kini berubah menjadi kecewa dan benci.

__ADS_1


"Aku dulu menyayanginya, karena dia memiliki tanah kelahiran yang sama seperti nenekmu!" kenang Bernard yang dulu sangat menyayangi Farah cucu menantu perempuan tertua dikeluarga Timotty.


"Tapi kelakuannya waktu itu membuat kakek muak dengannya!" sambungnya dengan raut wajah penuh kebencian.


Bagaimana tidak, Farah yang merupakan cucu menantu tertua dan perempuan satu-satunya dikeluarga Timotty. Membuat seluruh keluarga Timotty mencintai dan menyayanginya dengan penuh kasih.


Namun setelah perselingkuhannya dengan sahabat Leo terungkap, rasa sayang dan cinta dari keluarga Timotty pun sirna. Bahkan penyakit jantung Bernard sempat kambuh kala mendengar berita itu, ia sempat tidak mempercayainya namun setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri barulah ia percaya.


"Leo, kau masih mencintai wanita itu?" tanya Bernard dengan menatap pantulan Leo dijendela.


Leo hanya terpaku, tidak bisa menjawab pertanyaan sang kakek. Karena benar adanya dengan pertanyaan Bernard, ia masih menyimpan sedikit rasa cintanya pada Farah.


"Lupakan dia! Menikahlah dengan Vierra, anak teman kakek." perintah Bernard yang kini menoleh kearah Leo yang masih terpaku dikursi keagungannya.


"Akan aku pikirkan kek!" balas Leo singkat lalu memutar kursinya dan mulai menghidupkan komputernya.


"Baiklah, Kakek tunggu jawabanmu segera!" seru Bernard lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja Leo.


"Réfléchissez bien à votre décision, fils! Karena kakek yakin kau tidak akan membiarkannya begitu saja berlalu!" ucap Bernard memancing keputusan apa yang akan diambil oleh Leo, cucu kesayangannya itu.


"Kakek pulang dulu!" Bernard pun berlalu meninggalkan ruangan Leo.


Ia tau Leo pasti tidak akan mau memenuhi perintahnya, karena dalam hatinya masih terukir indah nama Farah. Dan Bernard pun sebenarnya mengharapkan itu, bagaimana pun Farah adalah wanita pertama yang dicintai oleh Leo. Karenanya lah Leo mau menikah, yang pada saat itu sudah menginjak usia 33 tahun.


>>>>>>>>>>


***Noted :


terjemahan,


*Parfait \= sempurna


Bonjour Monsieur \= selamat pagi tuan


Bonjour aussi \= selamat pagi juga


Mere \= ibu


venez ici pendant une minute \= bisa kesini sebentar


desole monsieur \= maaf tuan


vous avec besoin de quelque chose, \= apa tuan butuh sesuatu


la prochaine fois \= lain kali


veuille servir le petit dejeuner avec ub autre menu \= tolong sajikan sarapan dengan menu lain


je m'ennuie avec ce menu tous les matins \= saya bosan dengan menu ini setiap pagi


bien monsieur, pardonnez moi \= baik tuan, maafkan saya


je servirai un autre menu \= ssaya akan menyajikan menu lain


cheri \= sayang


grand pere \= kakek

__ADS_1


reflechissez bien a vetre dicision, fils! \= pikirkan baik-baik keputusanmu, nak**!


<<<<<<<<<<


__ADS_2