
Farah melepaskan cumbuan mantan suaminya, ia meninggalkan Leo yang masih berdiri di tempat. Ia hanya tersenyum simpul melihat reaksi Farah.
Ia tau Farah masih sangat mencintainya, penolakan atas dirinya semata-mata hanya takut tidak di terima lagi oleh keluarga Timotty. Namun, Bernard dan keluarga sebenarnya masih mengharapkan kehadiran Farah, apalagi Diva. Gadis kecil yang selalu meramaikan suasana keluarga Timotty.
"Diva, kamu mau main sama daddy?" tanya Leo meraih tubuh Diva, membawa nya ke dalam gendongan.
"Mau banget, Daddy!" balas Diva senang.
Hans menuntun mereka berjalan menuju mobil, Farah yang sudah lama tidak bertemu dengan adik bungsunya itu memilih duduk di kursi depan sebelah kursi kemudi.
"Kakak duduk di belakang aja nggak apa-apa. Masa Kak Leo duduk di belakang sama Diva doang!" goda Hans. Membuat Farah memutar bola matanya.
"Dia kan udah ada gadis kecil kesayangannya, Diva juga kalo udah ada daddynya, mommy nya di lupain!" Farah menyebikkan bibirnya.
Leo, Diva dan Hans hanya terkekeh melihat Farah yang merajuk. Hans melajukan mobil menuju tempat tinggalnya, yang sangat dekat jaraknya dengan Disney Land.
Ketika melewati taman bermain yang luas itu, Diva merengek untuk segera masuk kesana. Namun, baik Farah maupun Leo tidak mengindahkan permintaan gadis kecil itu.
"Besok ya, Sayang! Hari ini kita istirahat, besok pagi kita ke sana. Oke!" bujuk Farah mengacungkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Mommy janji?" tanya Diva dengan wajahnya yang merengut.
"I promise!" balas Farah.
"Sama daddy dan uncle Hans juga, ya." balas Diva mendongak melihat wajah sang daddy.
"I will, Baby." ucap Leo mengecup kening anak gadisnya itu.
Mereka kini memasuki sebuah komplek elit, dengan rumahnya yang berbentuk minimalis namun sangat luas. Dengan halaman yang lebar di depan rumahnya dan tanpa pagar.
Di sini tidak perlu khawatir akan adanya maling, sebab di jaga ketat oleh penjaga. Dan juga pagar tinggi dengan kawat listri di puncaknya, mengitari komplek.
"Selamat datang Kak Farah, Diva dan.. " ujar Hans dan terdiam sejenak.
"Kak Leo." lanjutnya.
"Am i still your bro in law?" tanya Leo menahan pundak Hans.
"Sampai kapan pun, kau tetap lah ayah dari keponakanku." balas Hans dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Leo membalas senyuman mantan adik iparnya, ia mengerti akan perkataan Hans. Ya atau tidak dirinya sebagai abang ipar bagi Hans, ia tetaplah ayah dari Diva. Gadis kecil yang selalu memberi warna dalam hidup mereka.
Farah menuju kamar yang berada di lantai bawah bersama Diva, ia tidak mau tidur di kamar yang terletak di lantai atas. Ia memiliki traumatis pada salah satu di kamar atas, teman kuliah Hans hampir merenggut kewanitaanya saat Farah sedang berlibur masa itu, sebelum ia menikah dengan Leo.
Mereka kini berkumpul di ruang keluarga, setelah berbincang-bincang Leo berpamitan untuk pergi ke hotel yang telah ia pesan melalui aplikasi online. Namun, Diva melarangnya. Ia ingin berkumpul bersama orang tuanya.
"Jangan pergi, Daddy. Diva ingin bersama daddy dan juga mommy." papar gadis kecil itu dengan sendu dan mata berkaca-kaca.
"Daddy tidur di kamar atas saja, sebelah kamar Uncle Hans, ya." ungkapnya lagi.
Ia seperti tau akan keadaan perpisahan orang tuanya, ia meminta Leo untuk tetap tinggal.
"Tapi daddy udah pesan hotel, Nak. Sayang kan kalo nggak di tempatin. Daddy janji besok pagi-pagi udah ke sini." Leo beralasan, yang sebenarnya ia segan dengan Farah dan juga Hans.
"Turuti saja permintaan anakmu, jangan buat dia bersedih." ungkap Farah seraya berlalu menuju kamar.
Mendengar ucapan mantan istrinya itu, Leo merasa tak percaya. Ia menatap gadis kecilnya yang sedang duduk di pangkuannya itu.
"Tuh kan, mommy juga nyuruh daddy tidur di sini." cicit Diva kegirangan.
__ADS_1
Leo dengan wajah berbinar mengangkat tubuh gadis kecilnya, membawanya menuju kamar atas.