Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu

Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu
Keinginan Grand-Pere


__ADS_3

Pukul 10 pagi, Bernard baru saja kembali dari lapangan. Jogging bersama teman-teman kompleknya.


"Antar aku kerumah Leo!" titah Bernard kepada supir pribadinya.


"Baik Tuan!" sahut Ferdo supir pribadi Bernard sambil membukakan pintu mobil.


Mobil mewah itu melesat menuju rumah Leo yang lumayan jauh dari rumah Bernard. Dengan menempuh waktu 1 jam, barulah mereka tiba dirumah Leo.


Bernard segera turun dan masuk kerumah cucu kesayangannya itu. Namun, tidak ada tanda-tanda Leo disana.


"où est ma petite-fille?" tanya Bernard kepada Ibu Orva, kepala pelayan dirumah Leo.


"Gran-pere," sapanya membungkuk hormat "Monsieur Leo est sorti depuis le matin," imbuhnya.


Kemana dia? pagi-pagi sudah pergi, gumam Bernard dalam hatinya.


"D'accord, je vais attendre dans le bureau." ucap Bernard lalu menaiki anak tangga menuju ruang kerja Leo.


"Oui, Monsieur Bernard." balas kepala pelayan.


30 menit menunggu Leo, yang bersangkutan pun tiba dengan raut wajah sendunya. Ia segera menuju ruang kerjanya, kepala pelayan sudah memberitahukan kepadanya.


"Kakek," sapa Leo membungkuk hormat lalu mendaratkan tubuhnya disofa.


"Dari mana saja kau, Nak?" tanya Bernard "Ada apa?" sambungnya melihat raut wajah Leo.


"Hari ini, ulang tahun Diva." jawab Leo datar.


"Jemput mereka!" perintah Bernard.


Leo terdiam sejenak. Apa maksudnya jemput mereka, Diva dan Farah? Bukankah keluarga Timotty sudah membenci Farah.


"Maksud kakek?" tanya Leo meminta penjelasan.


"Apakah kurang jelas, um?" Bernard balik bertanya "Bawa mereka kesini!" ucap Bernard mengulangi kata-katanya.


"Setelah kau bawa mereka kesini, bawa Diva kepada kakek!" imbuhnya lagi.


"Lalu, bagaimana dengan Farah?" tanya Leo bingung.


Bernard mengalihkan pandangannya, mengulum senyum ketika mendengar nama Farah.


"Terserah mau kau apakan dia, yang terpenting adalah cucuku!" ucap Bernard lalu bangkit dan meninggalkan Leo.


Untuk apa kakek meminta menjemput mereka, jika yang kakek inginkan hanyalah Diva? gumam Leo dalam batinnya


Leo memejamkan matanya, berpikir keras bagaimana caranya meminta Farah agar mau membawa Diva kepadanya.


Satu jam pun berlalu, ia tak juga menemukan cara yang menurutnya baik untuk meminta Farah membawa Diva kepadanya.


Leo meraih ponselnya, memasuki sebuah aplikasi tiket online untuk membeli tiket pesawat. Ia pun mendapat tiket dengan jadwal paling awal besok pagi.


♡♡♡♡♡


Kediaman Zein

__ADS_1


Saat Diva sedang sibuk membuka kado-kado miliknya, Farah menyusun baju-baju Diva dan memasukkannya ke dalam koper.


Ia berencana mengajak Diva untuk berlibur ke California, negara tempat adik bungsu Farah menimba ilmu. Ia ingin membawa putri kecilnya itu ke sebuah taman bermain yang terkenal disana.


"Mommy, kenapa baju Diva dimasukin ke koper?" tanya Diva saat menoleh kearah Farah.


"Mommy mau ajak Diva liburan, Nak." ujar Farah sambil tersenyum.


"Wah, mau Mommy!" cicit Diva kegirangan lalu memeluk Farah.


"Ya udah Diva lanjutin buka kadonya, mommy lanjutin beresin baju-baju Diva ya, Nak." tutur Farah melanjutkan membenahi baju-baju Diva.


"Iya mommy," sahut Diva kembali ketumpukan kado-kadonya.


♡♡♡♡♡


Leo mengirimkan pesan melalui surel kepada Farah, berharap mendapat respon baik dari mantan istrinya itu.


"Hello, Farah." tulis Leo membuka percakapan dengan Farah disurelnya.


Farah yang sedang sibuk membenahi barang-barang keperluan dirinya dan Diva, tidak sempat melihat ponselnya.


Lalu setelah 30 menit barulah ia membuka ponselnya. Ia mendapati satu surel dari Leo, laki-laki yang sangat ia cintai.


Ada perasaan hangat ketika mendapat pesan dari Leo, terlihat binaran dimata indah Farah.


"Hai, Leo." balas Farah.


Karena terlalu lama menanti jawaban dari Farah, laki-laki itu tertidur dan tidak menyadari adanya balasan surel dari Farah.


Ternyata dia membalasnya, gumam Leo dengan menarik garis indah disudut bibirnya.


"Apa kabar? Aku harap kalian baik-baik saja, akupun disini dalam keadaan baik-baik saja. Besok aku akan berangkat kesana, ada urusan bisnis. Aku juga sangat merindukan putri kecil kita, Diva. Boleh aku bertemu dengannya?" balas Leo panjang lebar.


Leo lupa bahwasannya mereka kini sudah berbeda negara, berbeda waktu pula. Setelah membalas surel itu, Leo bangkit dari tidurnya dan membereskan baju-baju miliknya.


Ia terus menanti balasan dari Farah, sampai pada akhirnya dia menyadari perbedaan waktu yang mereka miliki.


"Sial! Aku terus menanti balasannya, disana pasti sudah larut malam!" gerutu Leo kesal.


♡♡♡♡♡


Tepat pukul satu dini hari, Farah terbangun ingin ke kamar mandi. Dilihatnya Diva sudah sangat pulas, wajahnya begitu tenang. Lalu dikecupnya lembut kening putri kecilnya itu.


Setelah keluar dari kamar mandi, Farah kembali menuju ranjangnya. Ia meraih benda pipihnya yang berwarna silver itu, membuka kembali surelnya.


Betapa bahagianya dia membaca balasan dari Leo. Terbayang lagi olehnya, ketika berbulan madu dengan laki-laki yang sudah memberikan putri cantik untuknya.


Flashback on


Mereka mengunjungi sebuah kota di negara Spanyol. Mereka sedang duduk menanti pesanan sarapan mereka dihamparan outdoor sebuah cafe.


Tiba-tiba tidak jauh dari cafe itu terdengar merdu alunan sebuah gitar, yang sedang dimainkan oleh seorang pengamen jalanan.


Dua anak manusia itu seakan terhipnotis, terhanyut dalam alunan melody itu.Terasa romantis dan juga terasa menyayat hati.

__ADS_1


Leo pun bangkit dari duduknya, berjalan menuju pengamen itu dan menaruh beberapa lembar uang euro kedalam tempat gitar milik pengamen tersebut.


Ia pun kembali kemejanya, untuk menikmati sarapan bersama sang istri tercinta.


Usai menikmati sarapan, mereka mulai berkeliling kota itu. Kota yang terkenal dengan destinasi Istananya.


Mereka menikmati kebersamaan itu, seakan dunia hanya milik berdua. Hingga Diva pun made in Spanyol.


Flashback off


Bulir-bulir bening kembali mengalir dari pelupuk mata indah Farah. Menyesali perbuatannya, mengkhianati suaminya dulu. Entah siluman mana yang merasukinya masa itu, hingga tega bermain api dengan sahabat suaminya sendiri.


"Ya, kabar kami disini baik-baik saja. Tapi maaf, bukannya tidak mau mempertemukan kalian. Besok aku akan berangkat ke California bersama Diva." balas Farah.


Tidak lama kemudian, Leo membalasnya kembali.


"Ada urusan apa kalian kesana? kalian ke tempat Hans?" tanya Leo.


"Ya." balas Farah singkat.


Mereka pun saling berbalas pesan. Tak terasa waktu terus berjalan, hingga pukul tiga dini hari barulah mereka selesai berbalas pesan.


Usai membalas pesan dari Leo, ia kembali merebahkan tubuhnya disamping Diva. Memeluk erat putri kecilnya itu, lalu mencoba memejamkan kembali matanya.


Sebenarnya ia tidak bisa tidur lagi setelah mendapat balasan dari Leo. Namun, ia tidak ingin menyakiti perasaannya sendiri.


Ia ingin terlihat senang dan bahagia di hadapan Diva.


Maafkan aku, Leo. gumam Farah dalam hatinya dengan sesak didadanya.


*****


Kicauan burung terdengar merdu pagi ini, semilir angin fajar membelai lembut dikulit mulus Farah yang sedang duduk dikursi berbahan Jati di balkon kamarnya.


Semalaman ia tidak bisa tidur kembali, warna hitam mengelilingi matanya. Setelah berbalas pesan dengan Leo, dan terpaut pada pesan yang berisikan keinginan Bernard.


Ia membicarakan hal tersebut dengan Hans, adik bungsunya di California. Sang adik pun memberikan masukan yang membuat perasaannya berkecamuk.


Bagaimana bisa ia melepaskan Diva begitu saja, walaupun kepada kakeknya sendiri. Farah tidak sanggup bila harus berpisah dengan Diva, putri kecil yang selalu menemani hari-harinya setelah berpisah dengan Leo.


"Aku tidak akan memberikan Diva kepada kalian!" gumam Farah mengepalkan tangannya.


Farah kembali masuk ke kamarnya, lalu berjalan menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Tak lupa membangunkan Diva dan segera mempersiapkannya.


Usai bersiap-siap, mereka turun untuk sarapan. Hanya butuh waktu 10 menit, mereka sudah selesai. Lalu menuju bandara dengan mobil mewahnya disupiri oleh Pak Hadi, supir pribadi Farah.


>>>>>>>>>>


note :


*où est ma petite-fille : dimana cucuku


Monsieur Leo est sorti depuis le matin : tuan Leo sudah pergi sejak pagi.


D'accord, je vais attendre dans le bureau : baiklah, saya akan menunggu di ruang kerjanya*.

__ADS_1


__ADS_2