Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu

Salahku Yang (Terlalu) Mencintaimu
Hadiah Dari Daddy Leo


__ADS_3

Usai saling menyuapi, Farah dan Diva bergegas turun ke bawah untuk menyantap sarapan mereka. Terlihat sudah tersaji dua piring berisikan roti panggang dengan isi selai stroberi, dengan dua gelas susu putih sebagai temannya.


Usai menikmati sarapan, mereka kembali menaiki tangga dan masuk ke kamar Farah. Sang mommy memandikan putri kecilnya itu, lalu memakaikan baju setelan overall berbahan jeans yang ringan dengan dalaman kaos berwarna kuning motif garis-garis.


"Um..cantik banget anak mommy!" puji Farah sambil mengoleskan baby powder dipipi gembil Diva.


"Diva kan anak mommy!" cicit Diva menangkup kedua pipi mommy nya.


"Em..tapi Diva lebih cantik dari mommy nak!" balas Farah yang kini sedang menyisir rambut cokelat anak gadisnya.


"Mommy, kita mau kemana?" tanya Diva menengadahkan kepalanya menatap Farah.


"Mommy punya kejutan untuk Diva nak!" jawab Farah tersenyum.


"Waww asyik!" cicitt Diva kegirangan.


Farah tersenyum dengan perasaan bahagianya. Walaupun tanpa kehadiran daddy nya, Diva masih bisa merasakan kebahagiaan.


"Udah selesai! Diva tunggu mommy ya, mommy mau ganti baju." ujar Farah setelah selesai memakaikan sepatu sneakers dengan warna senada baju kaosnya.


"Iya mommy," sahut Diva yang sedang duduk ditepian ranjang Farah dengan menggoyang-goyangkan kedua kakinya.


Usai berpakaian, Farah dan Diva kembali menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang tamu.


"Mobil sudah siap nyonya!" ucap mas Hasri supir keluarga Zain.


Farah yang sedang menggandeng Diva segera masuk ke dalam mobil, mobil mewah itupun melaju ke sebuah mall di kota Jakarta.


Setelah sampai di mall yang dimaksud, Farah dan Diva berjalan menuju playground yang berada di tengah mall itu. Senang? pastinya Diva sangat senang sekali, mendapat hadiah bermain sepuasnya disana.


Farah dan Diva disambut dengan hangat oleh petugas playground itu, Diva dan Farah dipakaikan gelang sebagai tanda sebelum memasuki area bermain.


"Selamat datang nona Diva dan nyonya Farah!" sapa petugas itu dengan sopan dan ramah.


Saat memasuki area playground, Diva dan juga Farah dikejutkan dengan adanya pesta didalamnya. Terdapat susunan bangku-bangku dan juga tulisan ulang tahun Diva.


Siapa yang membuat ini? batin Farah membaca tulisan 'Happy Birthday Diva' yang terpampang disebuah dinding.


Silahkan nyonya dan nona!" seorang petugas mengajak mereka untuk ikut kedalam pesta itu.


"Ah iya," sahut Farah lalu mengikutinya.


Tampak Lucy bersama anak dan juga suaminya sedang duduk di barisan paling depan, tak lama banyak anak-anak kecil berdatangan yang Farah pun tidak tau anak siapa mereka.


"Lucy! Farah!" sapa mereka bersamaan.

__ADS_1


"Kamu yang nyiapin ini Luc?!" tanya Farah.


"Bukan..bukan, ini bukan aku yang nyiapain." sanggah Lucy.


"Lantas siapa dong?" tanya Farah heran, karena bukan Lucy yang menyiapkan ini.


Lucy hanya diam, dia juga mendapat undangan ulang tahun Diva di playground itu.


"Loh, aku pikir kamu yang bikin ini Far. Tapi aku heran bukan kamu yang undang," jawab Lucy.


Farah menerka-nerka, siapakah yang membuat kejutan ini untuk Diva. Lalu terlintas satu nama yang sangat ia segani, Bernard Timotty.


"Apa Grand Pere yang menyiapkan ini untuk Diva?" gumamnya masih bertanya-tanya.


Saat Farah masih berpikir keras siapa pemberi kejutan itu, sang MC dengan lantang memanggil nama putrinya dan juga namanya untuk naik keatas panggung mini.


"Kepada nona Diva dan juga nyonya Farah, dipersilahkan untuk naik ke atas panggung!" ucap MC itu.


"Mommy ayo! kita dipanggil tuh sama om itu," ujar Diva seraya menunjuk kearah sang MC.


"Iya..iya nak," sahut Farah yang kemudian berjalan menaiki panggung meninggalkan Lucy.


Acara berlangsung dengan sangat meriah, banyak permainan menyenangkan dan juga kuis untuk para mama yang menemani anak-anaknya.


Diva juga mendapat banyak hadiah dan juga ucapan dari mereka, ada pula yang mengajaknya untuk berselfie ria.


"Ayo nak kita foto sama mereka!" ajak Farah lalu menggandeng Diva berjalan menuju Lucy.


"1..2..3..cekrek!" seorang petugas mengabadikan potret mereka.


Lalu bergantian Lucy mengambil gambar Diva dan Albert anak laki-laki Lucy. Dengan satu tangan Diva merangkul pundak Albert, dan tangan Albert merangkul pinggang kecil Diva.


"Ihh...lucu banget, ya ampun! Semoga aja mereka udah besar nanti berjodoh ya!" ungkap Lucy dengan wajah sumringah.


"Hehehe..iya ya, kan sama-sama anak bule tuh. Entar cucu kita bule juga, ya kan!" jawab Farah setuju.


"Nah..sekarang gantian kamu sama Diva sini aku fotoin!" ujar Lucy.


"Oh iya, sekalian nih pakai hp aku juga!" balas Farah memberikan ponselnya pada Lucy.


♡♡♡♡♡


Pukul 7 pagi Leo sudah usai dari ritual paginya dikamar mandi, setelah semalaman tidak tidur memikirkan perkataan Bernard.


Leo memakai kaos Polo V Neck berwarna hitam polos dan juga celana pendek jeansnya, tak lupa mengoles pomade pada rambut cokelatnya.

__ADS_1


Usai berpakaian, Leo menuruni anak tangga bersiap untuk sarapan. Kali ini sudah tersedia sepiring Pain au Chocolat dan secangkir kopi.


"Hm, ini lebih baik!" gumam Leo menatap sarapannya.


Leo menikmati sarapannya dengan santai, tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya. Setelah menghabiskan sarapannya, Leo berjalan menuju garasi dan masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang dihadiahkannya untuk Diva dan Farah dulu.


Leo merogoh kantong celananya, meraih ponselnya lalu menatap foto Diva yang saat itu masih berusia 2 tahun, "Happy Birthday nak! daddy pastikan kamu sedang bersenang-senang sekarang." ungkap Leo.


Leo menghidupkan mesin mobil itu, lalu melajukannya keluar rumah. Leo mengelilingi kota Paris dengan mobil milik Diva, dengan ditemani sebuah boneka beruang berukuran besar yang diberikan oleh Bernard untuk Diva.


Ponsel Leo pun berbunyi 'Ting!Ting!Ting!' menandakan adanya pesan masuk beruntun, Leo dengan segera menepikan mobilnya tepat didepan menara Eiffel.


"Ini foto Farah dan Diva!" sebuah pesan tertulis disana.



Sungguh manis potret ibu dan anak itu, membuat Leo ingin sekali mendekap dua orang yang dicintainya itu.


"*A*cara berjalan dengan sempurna dan lancar, sesuai instruksimu!" sang informan memberikan informasi acara ulang tahun Diva.


"Semoga rindumu terobati!" tulis seseorang di dalam pesan itu.


"Semoga kau dan Farah serta Diva segera berkumpul kembali!" tulisnya lagi.


"Merci, mon ami! Aku berhutang budi padamu," ungkap Leo lalu mengirimkannya pada pengirim.


"Tu es le bienvenu mon ami! Senang bisa membantumu," balas sang informan.


Leo menaruh kembali ponselnya disebelah kursi kemudi, dan melayanhkan pikirannya tentang Diva dan juga Farah.


"Apakah bisa aku dengan dia kembali seperti dulu?" gumam Leo sendu.


"Andai saja," imbuhnya.


Leo menoleh kesebelah kiri, dan tampaklah Eiffel tower tempat dimana dulu ia melamar Farah pujaan hatinya.


Dadanya terasa sesak mengingat kembali masa itu, masa-masa paling berharga dalam hidupnya. Dimana Leo untuk pertama kali merasakan jatuh cinta yang begitu hebatnya, dan mau menjalani hubungan yang serius dengan seorang wanita yaitu Farah.


Namun kandas ditengah jalan disebabkan oleh sahabatnya sendiri.


>>>>>>>>>>


noted :


*Merci, mon ami \= terimakasih kawan.

__ADS_1


Tu es le bienvenu mon ami \= sama-sama kawan*


__ADS_2