
Beberapa bulan telah berlalu setelah Konser di kota B itu.
"Bos ini berkas yang harus di tandatangani" Arif menyerahkan beberapa dokumen ke hadapan Arsen
"Bukannya papah yang harus tanda tangan ini ?" tanya Arsen setelah membuka berkas yang Arif serahkan
"Pak Bram berhalangan datang bos katanya , pergi ke perusahaan Adiprima! apa Pak Bram tidak bilang bos"
"Tidak ! papah gak ada bilang mau ke perusahaan Adiprima, baiklah aku akan tanda tangan. Kamu bisa keluar sekarang"ucap Arsen masih dengan sisa sisa kebingungan nya. Karna setau nya sudah lama papah nya tidak berhubungan dengan Perusahaan Adiprima.
"Baik bos "
Drt Drt Drt
Ponsel Arsen di atas meja bergetar
"Ya Lit "
"Sen kamu masih di kantor?"
"Ya kenapa ?"
"Tidak, kamu tidak lupa kan hari ini ada pertemuan dengan pak Broto ?"beritahu Lita
"Ya aku tidak lupa"
"Baiklah hanya itu"
Tut.
Arsen memijat kening nya, harinya sungguh melelah kan di sibukan dengan pekerjaan kantor juga jadwal manggung nya membuat pola hidup nya tudak teratur kalo bisa ia tidak ingin terjud ke dunia bisnis, ia hanya akar fokus pada karir yang menjadi cita cita nya. Musik adalah dunia nya.
Arsen mebuka pesan yang belum terbaca ternyata ada pesan dari mama nya.
"Sen nanti malam kamu pulang kerumah ya ada yang ingin kami bicarakan"
Arsen segera membalas pesan mama nya .
Masih 2 jam lagi jam kantor nya, ia harus bisa menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat agar semua pertemuan hari ini bisa ia hadiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Ya allah selamat kan putraku ya allah" kata itu terus terlontar dari bibir nya yang gemetar menahan sesak di hati nya.
"Faro pasti bisa selamat Ris kamu harus kuat."Ucap Mala
mengusap bahu Risha yang tertunduk menyandar pada dinding putih Rumah sakit.
"Ini salah aku La seharus nya aku gak pergi tadi La" Risha terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan terus menyalahkan diri kamu Ris, ini sudah takdir. Kamu harus yakin Faro pasti kuat."
"Kamu udah Telpon Ferdi?" tanya nya
Risha mengangguk
"Mas Ferdi udah di jalan kesini" jawab nya masih terisak
"Suster bagai mana keadaan anak saya sus?" tanya Risha saat melihat suster keluar dari ruangan putranya.
"Dokter sedang memeriksa nya bu, ibu tenang dulu ya ! saya permisi dulu, nanti Dokter yang akan menjelaskan" suster segera berlalu dengan tergesa
Risha kembali menangis menutup wajah nya sembari terus menggelngkan kepala nya . Kalau saja tadi ia tidak pergi keluar meninggalkan anak nya yang sedang tidur pasti anak nya sekarang sedang bermain, Risha tidak menyangka kepergian nya yang hanya akan sebentar untuk menemui Bu RT mengurus identitas nya ternyata sampai 35 menit , jarak dari kontrakan nya ke rumah Bu RT sekita 150 meter . Saat terbangung putranya pasti mencari nya keluar, mungkin terpeleset kedalam parit yang ada di depan pinggir jalan kontrakan Faro mengalami cedera pada kepala nya terbentur benda keras
Kejadian nya begitu cepat
ceklek
Pintu terbuka bersamaan dengan Dokter yang keluar
Risha langsung menghampiri dokter
"Dokter bagaimana anak saya Dok? anak saya baik baik aja kan Dok, Dokter saya mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok saya mohon"Dengan tangis juga suara yang gemetar panik Risha memohon
"Ibu yang tabah ya , semua sudah jadi kehendak Tuhan, saya sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi tuhan berkehendak lain , saya mohon maaf tidak bisa menyelamat kan putra ibu... Benturan yang di a.." belum selesai dokter melanjutkan kata kata nya karna Risha langsung teriak histeris
"ENGGA DOKTER ANAK SAYA ANAK KUAT DOKTER, ENGGAK MUNGKIN FARO MENINGGAL KAN SAYA DOKTER ,ENGGAK MUNGKIN...Enggak mungkin Dokter, enggak mungkin " Teriak nya yang semakin lama kata katanya semakin melemah.
"DEDE"
Teriak Risha saat terbangun dari tidur nya.
Tangan nya terulur seperti menggapai bayangan, nafas nya memburu menahan sesak.
__ADS_1
Kata kata dokter yang mengatakan Faro tidak bisa di selamat kan selalu menjadi mimpi terburuk nya.
Ini sudah sebulan setelah kepergian Faro ,Risha tak bisa berhenti menyalahkan dirinya atas meninggalnya putra nya.
Suami nya jangan ditanya , karna sama seperti dirinya Ferdi juga terus menyalah kan Risha yang menyebut nya tidak bisa menjaga putranya.
FLASHBACK ON
"Risha, kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi " Ferdi yang baru saja tiba di rumah sakit mendengar kabar bahwa putra nya meninggal dunia, jarak Kota K dan kota B memerlukan waktu sampai 3 jam dan 1 jam yang lalu putra nya di nyatakan meninggal saat ia masih di perjalanan.
Risha menceritakan kronologi nya pada suami nya
"Ya ampun Risha kamu menjaga 1 anak saja tidak becus , kamu tau secara gak langsung kamu sudah menelantarkan Faro sampe dia mengalami ini dan membuat di meninggal, kamu benar benar gak becus"Bukannya sama sama saling menguatkan Ferdi malah menyalahkan istri nya
"Aku gak tau kalau kejadian akan seperti ini mas "
"Udah udah ini rumah sakit tidak baik ribut di rumah sakit, gak enak sama yang lain , sekarang kita urus jenazah Faro, Ferdi kamu juga jangan terus menyalahkan Risha, ini murni kecelakan semua orang juga kehilangan" Suara Bu Ani ibu Risha menengahi perdebatan anak dan menantunya , ia sendiri merasa terpukul cucu nya yang baru menginjak usia 4 tahun harus meninggal dengan cara seperti ini.
FLASHBACK OFF
Sudah 2 minggu ia seorang diri di rumah kontrakan nya, Sesekali tetangganya menemani namun hanya sampai jam 9 malam begitu juga dengan Mala, ia setiap hari selalu datang sampai waktu nya tidur ia akan pulang.
Selama 2 minggu sejak kepergian Faro, ibu nya juga ibu mertuanya menemani nya di sini, sempat ibu nya juga ibu mertuanya menawarkan untuk tinggal bersama mereka sampai kondisi Risha benar berat membaik tapi Risha menolak , beralaskan ia baik baik saja.
Sementara suaminya Ferdi, sudah kembali bekerja 3 minggu yang lalu.
"Maafkan ibu De" Lirih nya disertai tangis nya yang getir
dilihat nya jam menunjukan pukul 2 dini hari.
Risha beranjak dari tidur . Ia akan melakukan solat malam supaya hatinya lebih tenang , saat berjalan ia melihat boneka kesayangan Faro yang berada di atas meja tv.
Risha mengambil boneka yang berbentuk mobil bis berwarna biru. Risha memeluk boneka itu menghirup aroma boneka itu serasa memluk putranya, air mata nya kembali meluncur di pipi mulus nya.
Disimpan kembali boneka itu pada tempat nya ia melanjutkan langkah nya ke kamar mandi untuk bersuci.
"Sayang tenang lah di syurga sana ya nak, ibu sudah ikhlas sayang walau semua ini sangat berat bagi ibu nak, seandai nya nyawa mu bisa di tukar dengan nyawa ibu, ibu akan dengan senang hati memberikan nyawa ini untukmu nak, tapi Allah ternya lebih menyayangimu nak.
Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hamba ikhlas kehilangan putra hamba ya Allah, hamba yakin putra hamba tengah berada di syurga di sisimu, *hamba yakin engkau lebih menyayangi putra hamba ya Allah, titip dia di sisi mu ya Allah. Pertemukan kembali hamba jika saat nya sudah tiba ."
Setelah menumpahkan isi hati nya Risha kembali ke tempat tidur. Risha mengusap bantal yang selalu di pakai putranya , kembali air mata nya lolos begitu saja, Risha memejamkan matanya tangan nya terus mengusap bantal lalu memeluk erat bantal itu.
__ADS_1
TBC*