Sang Idola

Sang Idola
12 Sebuah rencana


__ADS_3

Kesedihan yang mendalam membuat Risha menjadi orang⁵ yang tertutup dan bicara hanya seperlunya saja.


Kehilangan seorang putra satu satu nya adalah hal terburuk yang ia alami selama 25 tahun ini .


"Ris gue liat di sosmed , katanya Arsen mau manggung di xx, apa lo mau kesana" tanya Mala,


Mala berharap berita ini bisa sedikit menghibur sahabat nya walaupun memang tidak sebanding, Karna yang ia tahu Risha adalah Fans berat penyanyi itu, tapi sepertinya dugaan nya salah tak ada raut bahagia mendengar kabar yang ia sampaikan.


"Maaf gue gak ada maksud buat ngerusak ingatan lo tentang Faro, tapi gue yakin di sana Faro sudah bahagia di sisi NYA , gue yakin kalo lo terus terusan sedih, Faro juga akan sedih ngeliat lo kaya gini Ris"


"La gue gak bisa bahagia sekarang, gue gak bisa jaga anak gue La , seandainya..."Risha kembali terisak tanpa melanjutkan ucapan nya ia masih terua menyalahkan dirinya atas meninggalnya Faro


Mala yang mengerti arah pembicaraan Risha , langsung mengusap bahu sahabat nya. ia mengerti perasaan Risha, ini baru satu bulan semenjak Faro meninggal, sangat wajar kalo sebagai orang tua akan sangat terpuruk. Orang tua mana yang tak akan sedih di tinggal seorang anak yang sedang lucu lucu nya .


"Gak Ris lo gak salah, lo ibu terbaik buat Faro Ris. lo jangan menyalahkan diri lo seperti ini terus Ris" Mala terus berusaha menenangkan sahabat nya.


.......


Di sebuah apartemen.


Seorang wanita terlihat mondar mandir sambil menggigit jari nya .


"Lo ini kenapa sih Nga ?, dari tadi gelisah banget?" tanya Sofi, yang melihat Bunga dari semenjak pulang terlihat tidak tenang.


Bunga menoleh pada Sofi


"Gue tadi ketemu sama Yoga " ucap Bunga


"Terus."


"Yoga bilang kalo Arsen mau di jodohkan" ucap Bunga lesu


"WHAT" Sofi melotot tak percaya, pantas saja Bunga sangat gelisah. Kini ia tahu jawaban nya, lalu Bunga menceritakan pertemuan nya dengan yoga


Yoga adalah teman dekat yang seprofesi dengan Bunga, Yoga juga sepupuan dengan Agnes, perempuan yang akan di jodohkan dengan Arsen, jadi Yoga sangat tahu apa yang terjadi di kediaman keluarga Nugraha, ayah dari Agnes. Selain itu Yoga juga termasuk orang yang sangat dekat dengan Agnes, jadi apapun yang Agnes alami selalu Yoga orang pertama yang tahu.


Karna tahu Bunga menyukai Arsen, Yoga yang kebetulan bertemu di lokasi syuting, memberi tahu apa yang ia tahu.


"Sof lo tahu gue selama ini menyukai Arsen, dan gue selama ini mencoba buat dia bisa melirik ke arah gue, tapi dia cuma nganggap gue teman selama ini Sofi. Sekarang gue denger kabar kalo Arsen mau di jodohkan." Bunga menyembunyikan wajah nya di sela kaki nya.

__ADS_1


"Gue rasa lo harus ungkapin perasaan lo ke Arsen, mungkin tanoa lo tau dia juga punya perasaan yang sama ke elo." usul Sofi


Bunga menggeleng pelan


Mana mungkin ia berani mengutarakan perasaan nya, bisa jatuh harga dirinya sebagai perempuan, mending kalo berbalas kalau tidak, pikirnya. Tapi tentu saja Bunga tak akan terima kalau Arsen menjadi milik wanita lain.


......................


"Ma,, mama masak banyak banget memang ada apa sih ?" Tanya Arsen sejak tadi penasaran.


"Kamu lebih baik keatas dulu mandi pakai baju yang rapi, ok" sahut Yanisa dengan senyum mengembang, Arsen pun tak banyak bicara lagi langsung menuruti perintah ibunya.


Hari ini Yanisa yakin apa yang ia rencanakan pasti putranya akan senang.


"Mama ini senyum senyum terus papa lihatin dari tadi hm?" Sandy menghampiri istrinya lalu merangkul pinggang istrinya. Walaupun sudah berumur kemesraan mereka tetap terjaga.


"Nyonya tamu nya sudah datang" beritahu salah satu Art


"Baik kami kesana" sahut Sandi."Ayo ma kita sambut tamu kita"ucap Sandi membawa istri nya berjalan sambil terus merangkul istrinya.


Yanisa mengangguk, mereka berjalan beriringan, sebelumnya Yanisa menyuruh Art membawa jamuan ke ruang tamu.


....


"Apa kabar " Sandi dan Berri Atmaja saling memeluk ala laki laki


"Apa kabar San" tanya Yanisa pa da Sani istri dari Beri


"Baik Yan, bagai mana dengan mu ?" mereka cipika cipiki


"kabar ku juga sama San, " jawab Yanisa selepas cipika cipiki. Yanisa melirik pada gadis di belakang Sani " Pasti kamu Agnes ya sayang, tante pangling loh kamu makin cantik " yanisa mengelus pipi kiri Agnes.


"Iya tante, gimana kabar tante?" dengan senyum manis nya Agnes menyalimi Yanisa. " Om" beralih pada Sandi Agnes menyalimi.


"Ayo silahkan duduk." ucap Sandi


"Terima kasih, ngomong nomong dimana putramu Arsen?" jawab Beri di akhiri pertanyaan.


"Arsen sedang bersiap sebentar lagi turun" Yanisa menyahut perranyaan Beri.

__ADS_1


Terlihat Art menyiapkan minuman. Mereka mengobrol beberapa saat. Agnes terlihat sesekali melirik ke arah tangga, dan itu tak luput dari pandangan Yanisa. Yanisa yang mengerti segera beranjak dari duduk nya.


"Kalian semua jangan sungkan aku tinggal dulu ke atas sebentar" setelah itu Yanisa berlalu dari hadapan mereka .


.


"Sen apa kamu sudah siap nak tamu nya sudah datang loh" ucap yanisa sambil mengetuk pelan pintu kamar Arsen.


Tak lama pintu terbuka dengan Arsen yang sudah berpakaian rapi tak luma juga harum nya yang kalem, yanisa tersenyum ke arah putra .


"Kamu sangat tampan, persis papa mu waktu muda" ujar Yanisa


"Ya kalo gak mirip papa pasti mirip mama, yang bahaya tu kalo Arsen mirip tetangga " canda Arsen namun dengan wajah tanpa senyum.


"Aw." Keluh Arsen yang mendapat cubitan mamanya


"Ayo kita turun"


"Memang nya ada siapa sih mah , serius banget" Arsen berjalan berdampingan dengan ibu nya , namun pertanyaan nya bagai angin lalu yang tidak mendapat repon ibunya. Arsen menghela nafas .


Saat menapaki tangga Arsen dapat melihat keluarga Nugraha sedang mengobrol dengan papa nya , kening nya pu berkerut. Arsen memanh mengenal baik Beri sebagai partner kerja, namun Arsen yak begitu mengenal sosok gadis candik di samping tante Sani. Tapi kalo tidak salah gadis itu ada putri kedua Om Beri yang selama ini menetap di kota C bersama nenek nya . Arsen berjalan sampai ke ruang tamu, Agnes yang melihat siapa yang datang langsung tersenyum manis pada Arsen, dan di balas senyum tipis oleh Arsen. Arsen menyalimi tamu nya papa dan mama nya, kemudian duduk di salah satu sofa kosong.


"Oh ya lebih baik kita makan malam dulu , " ajak Yanisa.


"Ya lebih baik kita isis perut dulu " sambung Sandi.


Mereka pun semua bangun dari duduk nya mengikuti tuan rumah menuju meja makan.


Tersedia berbagai macam hidangan tersaji di atas meja makan mewah itu.


Mereka makan dengan tenang sesekali melempar canda di sela sela suapan nya terutama Sandi dan Berri yang memang sudah sejak lama bersahabat .


"Sayang,,, Agnes terutama kamu nak " Yanisa melirik Arsen dengan senyum yang tak pernah pudar "Kami sengaja berkumpul disini karna ada yang ingin kami bicarakan" lanjut Yanisa , Sandi, Berri juga Sani tersenyum mengangguk. Juga Agnes yang tersipu , karna ia sudah tau maksud perkataan Yanisa.


....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC ya gaes sorri telat up

__ADS_1


Author nya baru buka warung kecil kecilan jadi masih sibuk doain biar lancar ya gaes..


__ADS_2