
Sejak dulu, Lana tumbuh menjadi anak yang periang dan menggemaskan serta sangat penurut. Jeffrey dan Charlotte sangat bangga melihat pertumbuhan anak mereka yang selalu membawa aura positif di sekitarnya. Kedua orang tua tersebut selalu berusaha menjadi orang tua yang baik bagi putrinya hingga dewasa.
Hari itu, sepasang kaki kecil melangkah menyusuri lorong rumah besar milik keluarga Lyxander. Lana mencari bibi kepala pelayan yang sering kali menemani bermain dengannya. Bibi Chloe berkata, jika Lana bisa menemukannya bersembunyi, maka bibi Chloe akan membuatkan cookies manis kesukaan Lana.
Lana dengan semangat mencari bibi Chloe dengan tangan yang menggenggam boneka kelinci abu-abu yang menggemaskan. Kakinya terus melangkah hingga gadis tersebut terhenti tepat pada sebuah ruangan di mana neneknya sering membaca buku di sana. Ada rasa penasaran ketika Lana mendengar suara sang nenek yang nampak marah namun juga tersendat-sendat.
Pada akhirnya Lana mendekati pada celah pintu yang terbuka. Ia berdiam diri terpaku menatap ke dalam dengan pupil mata yang terlihat membesar dan bergetar, serta kedua tangannya semakin menggenggam erat boneka kelinci pada pelukannya.
"Kau benar-benar serakah! Jangan berani menyentuh putraku dan keluarganya! Gilian Lyxander, dasar bajingan gila!" terdengar teriakan sang nenek yang nampak begitu marah
"Aku tidak bisa mengharapkan apa apa pada putra sialanmu itu! Dia dengan kurang ajar menentangku, menolak segala perintahku! Anak sialan itu tidak akan pernah bisa membawaku ke tingkat teratas dari sebuah kepemimpinan dan kekayaan!" balas Gilian dengan suara yang di tinggikan.
"Aku menyesal menikahimu, kau dasar iblis yang rakus akan harta, matilah dengan dosa yang akan mengutukmu!"
"Sayang sekali istriku, dirimu lah yang akan mati terlebih dahulu. Racun yang kamu minum dari teh mu akan menggerogoti jiwamu perlahan, hingga pada akhirnya dirimu lah yang akan terlebih dahulu pergi menuju neraka, dan orang akan sulit untuk mengetahui apakah penyebab kematianmu." Gilian tertawa dengan bengis.
Lana melihat bagaimana tubuh sang nenek mulai mengejang serta nafas yang tersendat-sendat. Bibir sang nenek mulai terlihat memucat seperti tubuh yang sudah tidak bernyawa. Cerbera odollam, salah satu tanaman beracun, dimasukkan secara sengaja ke dalam teh sang nenek.
Racun itu menyebar dengan cepat, melumpuhkan syaraf-syaraf dari Lizzy, wanita berusia 42 tahun itu merenggang nyawa dalam keadaan tubuh yang kaku, juga mata yang membelalak menampakkan tatapan rasa sakit serta ketidak terimaan dimana dirinya berakhir di tangan suaminya sendiri. Jemari kecil Lana semakin bergetar. Bagaimana bisa seorang anak berusia tujuh tahun harus menyaksikan sebuah adegan dimana neneknya sendiri merenggang nyawa karena sang kakek?
Lana tentu mengalami guncangan serta rasa takut yang menggerogoti dirinya, gadis kecil itu menangis pelan, dengan kaki yang perlahan melangkah mundur. Sampai sebuah tangan membekap mulutnya yang hampir saja mengeluarkan isak tangis, mata bulat yang nampak ketakutan itu menoleh untuk mendapatkan bibi Chloe yang ternyata membekap mulutnya.
Lana kecil hanya mampu terdiam dengan jemari yang meremas erat, saat melihat bibi Chloe yang mengarahkan jari telunjuknya pada mulut mengisyaratkan agar dirinya tidak bersuara, dan tanpa kata segera menggendong tubuh nona mudanya pergi secepat mungkin dari sana tepat ketika pintu ruangan terbuka menampilkan Gilian yang menatap tanpa ekspresi sebuah boneka kelinci abu-abu yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
......................
Mata cantik Lana terbuka dalam satu sentakan mendadak. Lana segera merubah posisinya menjadi terduduk, jemarinya meremas erat selimut yang menutupi tubuhnya. Nafasnya terlihat terengah juga bagaimana butir keringat yang nampak mengalir menuruni pelipis, menandakan bahwa gadis manis itu baru saja mengalami hal buruk di alam bawah sadarnya.
"Kamu baik-baik saja, Lana?" tanya Leonard yang mendekatinya dengan tatapan khawatir.
Lana segera memundurkan tubuhnya ketika Leonard mencoba menyentuh keningnya. Leonard hanya mampu menghela nafas pelan dan menarik kembali tangannya, berniat hanya ingin menatap sejenak Lana yang sedang tertidur. Siapa yang menyangka bahwa gadis itu malah terlihat ketakutan setelah terbangun.
"Minumlah," ucap Leonard dan memberikan segelas air putih. Lana menghabiskan air tersebut untuk mengaliri tenggorokannya yang terasa kering dan serak.
Mimpi semasa kecil yang begitu menghantui kembali hadir. Sekian tahun dia mengubur ingatan buruk itu tanpa ingin mengingat, membuat trauma masa kecilnya terus berlanjut hingga ia jatuh sakit dan diakhir akhirnya dilepas pergi ke Eropa oleh sang ayah.
Tidak, si manis sadar sekarang bahwa dia telah menyaksikan pembunuhan oleh orang terdekatnya terhadap neneknya sendiri. Kakeknya adalah orang yang jahat dan rakus akan kekuasaan maupun harta. Lana harus mengingat kembali semua hal yang ia ketahui di masa lampau. Ini membuat kepalanya berdenyut nyeri dan semakin membuat Leonard terlihat khawatir saat gadis muda itu memegang kepalanya diiringi ringisan rasa sakit.
"Lana, kamu terlihat tidak baik. Aku akan panggil dokter untuk memeriksamu," ujar Leonard yang berniat untuk bangkit. Namun tangannya sudah ditahan oleh Lana yang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan; cemas, takut, khawatir, dan marah bercampur jadi satu.
"Ada apa? Ku mohon bicaralah. Dirimu membuat aku dan yang lain khawatir saat tiba-tiba kamu jatuh pingsan setelah aku menjelaskan banyak hal tadi."
Jemari itu bergetar, dan Leonard menyadari hal itu. Ia kembali terduduk di sisi Lana yang manis dan membawanya ke dalam sebuah pelukan hangat. Rasa takut yang dirasakan Lana seolah-olah menguap hingga dirinya bisa merasakannya. Meski Leonard tidak tahu apa yang membuat Lana begitu kacau saat ini.
"K-kakek……"
"Kakek Xander yang membunuh Nenek Lizzy," kata Lana.
__ADS_1
Pelukan itu semakin erat ketika Isak menangis semakin keras dan Leonard terpaku pada ucapan yang tak pernah terduga dari Lana. Ia menoleh ke arah pintu untuk menatap kedua sosok yang juga terdiam dengan fakta yang mereka dengar. Chris dan David cukup tidak menyangka akan hal yang diketahui Lana.
Kasus dua belas tahun yang lalu memang tidak pernah selesai secara adil dan tuntas.
"Pada saat Jeffrey mengatakan bahwa dirinya tidak percaya bahwa Chloe yang telah meracuni Lizzy, baik aku maupun Samuel dan Volker percaya. Kepala pelayan itu tidak pernah bersalah dan hanya dijadikan kambing hitam untuk menutupi pembunuhan sebenarnya. Gillian Lyxander yang mengawasi otopsi tentang istrinya dan para polisi itu tanpa banyak kata hanya mengatakan jika Lizzy diracuni, Chloe menjadi tersangka hanya karena dirinya selalu membuatkan teh untuk Lizzy," jelas Clifton Dixon - ayah Leonard.
Leonard mendengarkan semua ucapan sang ayah dengan diam dan memperhatikan lukisan para dewa-dewi Yunani yang terpajang besar di ruangannya sebelum kembali memandang ayahnya.
"Apa yang terjadi pada kepala pelayan itu?" tanya Leonard.
"Dia dihukum mati dan digantung dengan tuduhan dan bukti yang menurutku tidak masuk akal," kata Clifton.
Leonard menghembuskan nafasnya berat, teringat pada ucapan Lana tentang Gillian Lyxander yang membunuh istrinya. Leonard hanya bisa bertanya-tanya, belum bisa membuka mulut untuk bertanya banyak hal karena gadis itu masih terlihat traumatis setelah mengatakan hal tersebut.
"Leonard, hati-hati juga terhadap putra Theodor Weaver. Putranya bernama Gilbert Weaver dan mungkin memiliki hubungan dengan NooblesStray," kata Clifton memberikan peringatan pada putranya.
Dahi sang anak mengerut ketika mendengar kata-kata ayahnya tentang Gilbert Weaver. Leonard memberikan tatapan bertanya seperti ingin meminta penjelasan lebih lanjut.
"Bajingan sialan itu, siapapun yang berhubungan dengan dia, orang yang tidak pantas bernafas dengan tenang," kata Clifton dengan amarah.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Bersambung...
Sampai jumpa di lain waktu.