
Selamat membaca ———
...----------------...
...----------------...
"Ayah pernah memberitahukan sesuatu hal yang tersembunyi, boneka beruang yang menjadi teman main ketika aku kecil, di pasangkan sebuah alat perekam di sana, jika boneka itu masih baik-baik saja di satu tempat di Mansion utama keluarga Lyxander, aku yakin alat itu masih berfungsi hingga sekarang, dan hari itu rekaman nya aku nyalahkan, tapi sayang bonekanya tidak pernah aku lihat lagi semenjak hari dimana aku melihat kakek yang menghabisi nenek"
Ucapan Ellana ketika mereka tengah berkumpul bersama saat ketika Lana telah berhasil mengingat memori masa kecilnya yang sempat hilang akibat trauma itu terasa terputar terus dalam ingatan Leonard, Claire pun termasuk yang lain tengah berjaga-jaga jika saja menemukan boneka yang Lana maksudkan, berharap bahwa rekaman pada boneka itu dapat menjadi bukti penting untuk kehancuran Gilian
Dan kini Claire tengah berjalan dengan santai tanpa kecurigaan sedikitpun dari orang-orang yang berlalu lalang, dengan mendorong troli berisi gelas-gelas kopi juga alat pembersih untuk para karyawan termasuk Gilian yang akan mengadakan rapat sebentar lagi.
Lebih tepatnya bekerja untuk menyusup, dengan memilih melamar pekerjaan sebagai petugas cleaning service dengan data yang sudah di palsukan dengan baik oleh Aland hingga membuat Claire tidak terlihat mencurigakan sedikit pun untuk di terima pada Xan'Coprs, perusahaan ternama dalam bidang arsitektur yang di kelola oleh Gilian yang kini tengah tersaingi oleh perusahaan yang berkembang pesat milik anaknya sendiri.
Claire sampai, ia mendorong pintu ruangan rapat yang masih kosong di sana, sebelum kembali menutup nya rapat-rapat, sejenak dirinya memandangi jam yang melingkar manis pada pergelangan tangan, sepuluh menit tersisa untuk melakukan hal yang seharusnya ia lakukan
gadis itu menyingkap kain yang menutupi bagian bawah troli, mengambil sebuah kamera kecil lengkap dengan alat perekam suara, menatap waspada kepada sekitarnya, perihal CCTV yang terpasang pada ruangan itu telah dirinya urus bersama dengan bantuan Aland, yang menyadap sejenak keamanan untuk menghilangkan jejak Claire yang akan melakukan tugasnya hari ini
Dengan segera memasang salah satu kamera kecil itu pada sudut ruangan yang akan jarang di perhatikan, serta meletakkan alat perekam suara tepat di bawah meja yang ia yakini adalah milik Gilian duduk nanti, ia menghela nafasnya setelah meletakkan alat-alat itu dengan baik, tepat ketika pintu ruang rapat terbuka menampilkan Gilian yang seketika menatapnya penuh intimidasi
"Siapa kamu?" gadis muda itu membungkuk hormat, dengan kepala yang masih tertunduk ia berbicara
"Saya Andrea, karyawan kebersihan baru di sini tuan, saya di minta untuk mengantarkan kopi ke sini untuk mengisi rapat yang akan di lakukan" Claire berujar dengan lancar, sampai Gilian kini sudah tidak menaruh curiga kepadanya, pria tua itu hanya mengangguk, lalu meminta Claire untuk menyingkir sebelum beberapa karyawan lain ikut memasuki ruangan menyusul Gilian, dan Claire yang dengan lugas mulai menyeduh kopi lalu meletakkan cangkir kopi itu pada masing masing sisi meja rapat itu, sekiranya ada tujuh orang yang kini sudah terduduk dengan wajah angkuh mereka yang terlihat tidak memperdulikan sosok Claire
"Aku turut senang dirimu mau ikut bertemu hari ini..... Gilbert"
Sejenak pergerakan yang tengah Claire lakukan terhenti, manik coklat nya melirik sekilas pada seseorang yang terduduk tenang bersebrangan dengan Gilian
Itu Gilbert Weaver, putra dari Theodor Weaver, apa yang di lakukan oleh Gilbert di pertemuan ini?, Dengan hati-hati Claire meletakkan cangkir kopi pada hadapan Gilbert yang hanya melirik dalam diam ke arahnya
__ADS_1
"Claire......"
Claire yang kini sedang terfokus pada berkas-berkas pada tangannya menoleh, mendapati Lana yang kini berdiri ragu pada ambang pintu kamarnya, setelah itu dirinya memberikan isyarat agar Lana tak sungkan untuk masuk ke dalam kamarnya
Si manis melangkah masuk, lalu terduduk tepat di sisi Claire yang segera meletakkan kertas kertas itu, jemari Lana terangkat untuk menggenggam tangan Claire yang kini menatapnya penuh kebingungan
"Kita sudah membahas ini, semenjak ingatan masa kecil paska traumaku telah kembali, aku sudah memutuskan untuk membantu kalian menguak kejahatan yang telah terjadi selama bertahun-tahun ini, boleh aku meminta satu hal nanti?"
gadis yang ahli dalam komputer dan bertarung itu terdiam sejenak sebelum mengangguk mengiyakan, membuat genggaman pada tangan nya mengerat
"Tolong beritahu aku, jika dalam menjalankan rencana mu nanti, kamu bertemu dengan seseorang yang memiliki tato bunga mawar pada leher bagian kirinya, waspadai dia"
Claire memilih untuk tidak banyak bertanya, dirinya hanya mengangguk sekenan nya dan memberikan usapan lembut pada punggung tangan Lana yang terasa dingin, sejenak melirik ke arah pintu untuk mendapati Leonard yang bersandar dalam diam di sana, mengangguk kecil membalas arti tatapan Claire kepadanya.
kilasan ingatan yang mendadak membuat dirinya membeku sesaat, ketika Claire menyadari sebuah ukiran tato berbentuk mawar yang terukir pada leher bagian kiri milik tuan muda Weaver itu, terlihat jelas ketika Gilbert menegakkan duduknya, membuat rambut kecoklatan yang sedikit panjang itu kini sedikit bergerak, memperlihatkan bagian leher nya.
"Andrea, tugas mu sudah selesai? Kau bisa pergi sekarang." Claire mengangguk dengan sopan ketika Gilian berbicara kepadanya, meletakkan nampan kopi pada troli, lalu segera mendorong troli itu untuk keluar dari sana, meninggalkan mereka yang sepertinya akan melakukan pembicaraan penting
"Itu bukan hal fatal, bahu dan kaki ku sudah jauh lebih dari baik"
Claire masih lah mendengar ucapan itu ketika ia akan berjalan menjauhi pintu ruang rapat, dan setelahnya segera pergi menjauh dari sana untuk mencari tempat sunyi untuk segera melepaskan topeng latex nya lalu menekan sebuah alat kecil yang tersembunyi dengan baik di balik daun telinganya
"Minta kepada Aland dan David, untuk memata matai pergerakan Theodor Weaver, serta sang anak yang juga harus di waspadai Gilbert Weaver"
•
•
•
__ADS_1
"Paman Samuel sedang berada di luar kota bersama paman Volker mengurus beberapa hal, untuk urusan Venus palace kini di pegang atas nama paman Samuel, selaku orang terkait yang memiliki ikut andil dalam perancangan"
"Bagaimana dengan ayah ku?" Si manis bertanya dengan lirih, dengan jemari yang mengusap lembut tangan sang ayah yang masih terbaring damai dalam komanya seperti enggan terbangun, Leonard tersenyum tipis, tangannya terangkat untuk mengusap lembut pipi bulat milik Lana
"Aku dan Ocean sudah merencanakan perpindahan perawatan paman Jeffrey ke Inggris" itu adalah jawaban yang Leonard berikan kepada si manis, lalu di angguki oleh Ocean yang memang ada di ruangan Jeffrey di rawat kini, hanya orang-orang tertentu yang dapat dengan bebas menemui Jeffrey yang masih terbaring tak sadarkan diri
Dan Ocean juga Leonard memilih untuk merencanakan perpindahan perawatan Jeffrey secara diam-diam mengirim nya pada rumah sakit yang di percayai di Inggris atas persetujuan Samuel, Volker maupun Clifton, demi keselamatan Jeffrey agar tidak ada dari pihak Gilian yang dapat menemukan nya
"Tenang saja Lana, dokter yang akan menangani ayah mu di sana adalah kenalan dekat dengan ayah ku, beliau juga pernah bekerja sama dengan ayah ku, paman Jeffrey akan aman" Ocean menimpali dengan memberikan senyuman menenangkan kepada sahabatnya terkasih nya itu
Lana hanya dapat mengangguk pelan, dirinya kini hanya bisa mempercayai orang-orang kepercayaan paman Samuel, Ocean serta paman Volker, dan Clifton tentang keselamatan sang ayah, selebihnya bahkan Lana tidak bisa mempercayai keluarga dari ayah nya sendiri, terlebih lagi juga karena semua ingatan masa kecilnya telah kembali, keluarga sang ibu? Nenek Eleanor yang merawat nya saat di Inggris telah berpulang ke maha kuasa saat usianya tujuh belas tahun, dan Charlotte tidak memiliki siapa-siapa lagi karena wanita itu pun tidak memiliki keluarga yang begitu baik itu sebabnya Eleanor lah seorang yang di percayakan oleh neneknya untuk mengurus semua harta dan perusahaan milik keluarga Leanor, itu sebabnya ayah nya maupun dirinya sendiri sangat menyayangi Charlotte, hingga Charlotte pun bisa menjadi orang yang begitu sukses berkat dukungan suami dan anaknya, sayang sang ibu terlalu baik untuk tetap ada di dunia yang penuh dengan kekejaman ini.
"Tuan Leo"
Seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian jas juga alat komunikasi yang terpakai pada telinga nya datang memasuki ruang rawat dan membungkuk hormat pada Leonard, membuat Leonard kini melepaskan tangan nya dari pipi berisi milik Lana dan menatap bawahan nya itu
"Kami sudah menyiapkan penerbangan tertutup dengan jet pribadi milik tuan Clifton, nanti malam pukul sembilan, kita bisa membawa tuan Jeffrey secara aman menuju bandara internasional John F. Kennedy malam ini" laporan yang di berikan oleh bawahan nya di tanggapi oleh anggukan dari Leonard, lalu menitah sang bawahan untuk kembali memeriksa keamanan.
"Aku dan Ocean akan tetap di sini sampai rencana pemindahan paman Jeffrey di laksanakan, Aland akan menjemput mu sebentar lagi, ingat jangan pergi kemanapun tanpa pengawasan Aland, David atau penghuni rumah sewa yang lain, soal kuliah mu tenang saja, Ocean sudah mengurus hal itu, karena bagaimanapun paman Jeffrey memiliki kuasa di sana" Lana mengangguk paham, berdoa di dalam hati semoga sang ayah serta Leonard maupun Ocean dapat sampai di Inggris dengan selamat dan aman
"Kakek, jika benar dirimu adalah dalang dari penyerangan malam itu, serta melibatkan ibu ku yang juga harus meregang nyawa, maaf saja, aku tidak akan sudi untuk mengakui mu lagi atau memaafkan mu."
Lana berjanji dalam hatinya, siapapun yang berani menyakiti keluarga nya lagi tak akan pernah dirinya ampuni
...----------------...
...----------------...
Bersambung......
__ADS_1
sampai bertemu lagi di episode selanjutnya—!