Sang Pembunuh Yang Mencintaiku

Sang Pembunuh Yang Mencintaiku
Episode 05 — The great master Lyxander


__ADS_3

Selamat membaca————


...----------------...


...----------------...


"apa jadwal kelas mu padat hari ini ? " Aland bertanya pada Lana yang kini tengah terduduk tenang tepat di kursi samping pengemudi


Yap benar sekali, pagi ini Aland memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri, dan dengan tak keberatan ia mau mengantar kan Lana, dengan alibi bahwa ia tidak ada kelas hari ini dan berniat pergi ke arah yang sama


"tidak banyak belajar hari ini, hanya kelas tambahan untuk olimpiade seni tingkat nasional minggu depan " Aland sedikit terkejut mendengar hal itu, ia menoleh sejenak ke arah Lana, ada tatapan terpukau terpancar pada mata pemuda itu


" kamu ikut olimpiade ? "


pemilik manik hazel cantik itu mengangguk mengiyakan pertanyaannya


" hum mewakili Harvard, aku benar-benar senang bisa terpilih sebagai perwakilan "


" itu hebat, kamu benar-benar Mengagumkan!" Lana terkekeh kecil, sedikit tersipu malu karena pujian Aland yang terdengar begitu spontan dan antusias


" terimakasih "


Sedangkan pemuda yang lebih muda darinya setahun itu terkekeh kecil menanggapi nya


Mobil milik Aland terhenti tepat di daerah parkiran, Lana kembali memakai tas nya, kemudian menoleh ke arah Aland dengan senyuman, sebelah tangan nya sudah terulur ke arah kenop pintu untuk membuka pintu mobil.


" terimakasih sudah repot mengantar " ujarnya, baru saja pintu mobil sedikit terbuka, Aland menahan pergelangan tangan si manis, membuat Lana menoleh kembali dengan tatapan bertanya-tanya


Namun sorot mata Aland yang memancarkan keseriusan membuat nya urung untuk bertanya terlebih dahulu


" saat sedang istirahat, ataupun pulang nanti, jangan pernah jauh dari kak Leonard ya, Lana"


" kenapa ? "


" kau hanya perlu ikuti perkataan ku Lana, aku mohon padamu"


Lana sungguh tidak mengerti, tapi memilih mengiyakan saja apa yang Aland katakan kepadanya, saat si manis sudah berjalan menjauhi mobilnya, Aland masihlah di sana mengamati dari balik kaca mobil, memastikan jika Lana masuk dalam ke adaan aman.


Aland menghela nafas, pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada kursi pengemudi, lalu tangan kanannya terulur ke arah telinga, menekan sebuah alat komunikasi yang ternyata tersembunyi di balik daun telinganya dengan begitu rapih


" baju hitam di arah jam 12, singkirkan tanpa jejak ".

__ADS_1





Ocean kini menatap bingung kepada sang ayah, mengapa tiba-tiba memanggil nya ke ruang kerja tertutup yang terletak di salah satu bagian tersembunyi di kediaman keluarga Volker yang hanya di ketahui beberapa orang tertentu.


" ada apa ayah ? " ia bertanya terlebih dahulu, sedangkan tuan Volker tengah berdiri memunggunginya menghadap pada aquarium besar di sana


Terdengar suara helaan nafas yang cukup berat, ayah nya itu berbalik, lalu menyerahkan sebuah surat undangan berstampel resmi, dari salah satu keluarga kolomrat besar di benua Amerika


" Gilian Lyxander ? Kakek Xander ? Atas dasar apa dia mengirimkan undangan ini ?"


Ocean kembali bertanya, setelah mengambil undangan itu dirinya seger membaca isi dari surat yang di sampaikan, membuat dirinya menampilkan raut wajah tak senang sekaligus penasaran.


" kau ingat apa investasi besar yang tengah di bangun di kawasan Santa Monika ? "


Fokus Ocean kembali terarah pada sang ayah, tentu dia amat tau apa yang di maksud sang ayah.


" Venus Palace, rumah apartemen mewah yang memiliki seratus lantai, dengan semua rancangan mewah yang menakjubkan, tentu aku ingat ayah, paman Jeffrey membangun itu dengan biaya yang tak ternilai, namun juga akan memberikan pendapatan yang luar biasa , jika banyak orang terkemuka yang memilih tinggal di sana dan memberikan investasi mereka pada Venus Palace Group, aku yakin itu bisa menjadi tempat tinggal termewah di dunia"


Nelson Volker, mengangguk mendengar kata-kata sang anak, ia kini mendudukkan dirinya pada kursi di ruang kerja nya itu, dengan kedua tangan yang menyangga di depan wajahnya.


penjabaran panjang sang ayah membuat Ocean diam dengan wajah nya yang nampak tengah serius berfikir, otak cerdas nya tengah memikirkan segala macam kemungkinan, dalam hati membenarkan, ia cukup tau bahwa keluarga besar Lyxander memusuhi Jeffrey sendiri, akibat pertentangan dan memilih memisahkan diri, lalu untuk apa sekarang Gilian Lyxander mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan putranya itu, bahkan setiap bisnis yang terdiri tidak memakai nama Lyxander di belakang nya, tetapi malainkan memakai marga dari sang istri ya itu Roxanne, Charlotte Roxanne


Apakah ada sesuatu di balik acara ini ?, Media bahkan sudah ramai menyebarkan pesta mengenai keberhasilan Jeffrey, yang di adakan oleh ayahnya Gilian Lyxander yang bisa di bilang sebagai salah satu orang berkuasa dalam bisnis di benua Amerika


" apa yang ayah ingin aku lakukan ?"


" beritahu Samuel, dan aku yakin dia tau apa yang harus di lakukan selanjutnya ".





" Lana, boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu ?" Leonard membuka suara terlebih dahulu, di tengah kesunyian yang melanda keduanya di dalam mobil milik Leonard saat ini


Mereka tengah dalam perjalanan kembali ke rumah, setelah Leonard benar-benar memastikan Lana aman selama kelas tambahan tadi hingga selesai.

__ADS_1


Menurut Lana, Leonard yang terkenal dingin dan tak perduli akan sekitar ternyata tidak seburuk itu, Leonard yang ada di sisinya ini tenyata jauh lebih ramah, bahkan tak segan berperilaku cukup perhatian kepadanya, meski Lana akui waktu pertama mereka bertemu dengan aura dominan Leonard yang menekan nya saat itu memang menakutkan, tapi setelahnya pria itu cukup asik sebagai teman bicara.


" ingin bertanya apa ?"


Lampu merah menyalah, membuat Leonard menghentikan laju mobil nya, dan kini tatapannya jatuh pada gadis di sebelah nya yang juga tengah menatapnya


" apa kau sering bertemu dengan keluarga besar mu ?"


Dahi itu nampak berkerut sebentar untuk berfikir


" keluarga besar ayah ku atau ibu ku ?"


" ayah mu, keluarga besar Lyxander "


Si manis mengedip pelan, pandangan nya teralih ke arah depan, memilih memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan sebrang yang tengah berlampu hijau


" semenjak usia ku tujuh tahun aku tidak pernah sering menemui keluarga besar dari Ayah, entahlah ibu dan ayah sendiri pun yang mengatakan padaku agar tidak terlalu terhubung dengan mereka, ayah tidak mengatakan alasan nya, tapi aku hanya menurut saja, lagipula aku juga kurang nyaman jika datang ke sana"


" apa, mereka baik pada mu ?"


Lana mengangguk sejenak, ingatan kecilnya kembali terulang saat sang kakek dan nenek dari ayah nya dulu amat sering menemaninya bermain


Mencurahkan begitu banyak kasih sayang kepadanya ketika kecil dulu.


"yah meski kurang nyaman, mereka cukup baik kepada ku dulu, terutama kakek dan nenek Xander, kakek dulu sering menemani ku bermain, dan banyak mengajari hal baru, tapi semenjak nenek meninggal saat itu, kakek jarang memperhatikan ku, ah aku jadi merindukan mereka, kakek pasti saat itu sangat sedih karena kehilangan nenek, saat sehari sebelum nenek meninggal aku di kirim oleh ayah menuju London, tinggal sementara bersama nenek dari ibu ku "


Leonard diam mendengarkan cerita demi cerita yang Lana curahkan, ia tak menyangka jika si manis akan cukup terbuka menceritakan hal ini kepada nya, ia tersenyum kecil, mengusap lembut surai halus panjang milik gadis itu, hingga Lana kembali menatap ke arahnya dan berkedip bingung


" nenek Xander pasti amat senang memiliki cucu yang manis seperti mu, jangan bersedih kau masih kecil saat itu untuk tau bahwa kau akan kehilangan nenek mu kan ?"


Lana memberikan senyumnya, lalu mengangguk pelan, sebelum fokus Leonard kembali terarah pada jalan, dimana lampu sudah berubah menjadi hijau membiarkan perjalanan mereka di isi oleh celoteh Lana tentang keluarga nya baik keluarga Xander maupun Roxanne


Leonard sebenarnya tengah berfikir, memikirkan segala rangkaian yang ada, jika dalam ingatan Lana keluarga Xander cukup baik, mengapa semua berubah semenjak kematian sang nyonya besar dari keluarga itu? apa semua kebaikan itu hanya sandiwara, jika iya, untuk apa? apa yang keluarga licik itu cari hingga membuat Jeffrey begitu waspada bahkan sampai memisahkan keluarga kecilnya dengan keluarga ayah nya sendiri.


sejenak ia melirik kepada Lana yang sekarang kini tengah tertidur, nampaknya gadis itu kelelahan setelah bercerita cukup banyak kepadanya tadi


seandainya Lana mengetahui fakta bahwa sang ayah dan kakek nya sendiri bisa saling membunuh, atau bahkan nyatanya bagaimana jika keluarga Xander hanya berisi iblis iblis mengerikan bagaimana gadis lugu itu akan menghadapi segala nya nanti?.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Bersambung. . . .


__ADS_2