Sang Pembunuh Yang Mencintaiku

Sang Pembunuh Yang Mencintaiku
Episode 03— At start


__ADS_3

...Selamat membaca————....


...----------------...


...----------------...


Malam telah berganti pagi, suara suara dengungan serangga malam telah berganti menjadi melodi kicauan burung pagi, mata cantik dengan bulu mata panjang nan lentik itu mengerjab perlahan, sebelum menampilkan manik karamel madu nya


Lana menggeliat pelan, merenggangkan otot-otot badan nya sejenak, ia menoleh pada jam weker yang terletak di meja nakas.


06:00.


Dan jam kuliah nya di mulai saat jam 09:00, itu berarti ia masih memiliki waktu 3 jam lagi untuk melakukan aktivitas lain, termasuk sarapan dan sedikitnya bersantai.


Semua barang nya sudah tertata rapih di kamar yang baru ia tempati semalam ini, berterima kasihlah kepada Claire yang lagi-lagi membantu nya, gadis itu tetap memaksa untuk membantu Lana membereskan semua barang-barang nya, tetapi syukurlah Lana merasa terbantu


Si manis tersenyum saat sebuah ide terlintas di kepalanya, bagaimana jika ia menyambut pagi dengan memasak kan sarapan untuk yang lain ? Setidaknya hitung-hitung balasan atas keramahan mereka semua kemarin


" selamat pagi dunia, Ellana Evely saat nya memulai suasana baru ! ".


Tangan halus nya dengan terampil menyiapkan bahan-bahan yang setidaknya ia perlukan untuk memasak, sepertinya dirinya memutuskan untuk membuat Sandwich sosis telur untuk sarapan pagi ini, ia juga sedang ingin memakan nya.


Dengan tenang si manis mulai memasak dalam porsi sesuai dengan jumlah penghuni di sini, sesekali bibir mungil nya sibuk melantunkan syair lagu


" aku butuh beberapa piring lagi, um dimana yang bersih ya- oh ! " bibir itu sedikit melengkung kebawah, menyadari beberapa piring yang ia perlukan berada pada rak atas yang nampaknya tak sampai untuk tingginya, Lana bertanya-tanya dalam hati, memangnya sebegitu perlunya untuk membangun rak dengan setinggi itu ?


Ia memilih untuk mengambil kursi dan menaiki nya, dengan begitu setidaknya ia cukup sampai, dengan hati-hati ia mulai mengambil beberapa piring yang ia perlukan, namun sayang Lana sampai kurang memperhatikan pijakan nya, kursi yang ia taiki mendadak tidak seimbang, membuat dirinya oleng dan salah berpijak


Lana pikir dia mungkin sudah akan terjatuh ke bawah dengan piring yang mungkin sudah akan pecah, tapi tidak ia tidak merasakan apapun, baik sakit pada bokong nya, atau suara ribut dari pecahan piring


" aku yakin kau bisa meminta tolong jika tidak bisa " suara asing itu menyentak nya, mau tak mau membuat Lana membuka mata yang tadi terpejam erat, oh ternyata ia di peluk erat oleh seseorang, bahkan piring-piring tadi sudah berpindah tangan di tangan pemuda itu.


Lana ingat, dia pemuda yang kemarin berbicara dengan Ocean dan paman Samuel


Dan juga seseorang yang membuat dirinya begitu malu tadi malam.


Leonard.


Dengan hati-hati laki-laki tinggi itu menurunkan nya dari dekapan, lalu meletakan piring di tangan nya pada counter dapur


" aa— terimakasih, kak Leonard. . ." Leonard melirik pada si manis yang tertunduk sambil memainkan jemarinya, entah apa yang berada pada pikiran pemuda berusia 26 tahun itu


" lain kali berhati-hati lah, dan jangan lupa kau bisa meminta tolong jika kesulitan. "


" maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat untuk menyiapkan sarapan pagi ini. . ." Leonard mengangguk, tangan besarnya terangkat untuk menepuk pelan kepala si manis, yang mendadak hanya dapat terdiam mendapatkan tepukan itu.


" tidak masalah, lain kali hati-hati lah, aku pergi dulu ada urusan " Lana sampai tidak sadar, jika Leonard memang sudah rapih pagi-pagi begini, dalam hati ingin bertanya, tapi ia ragu, ia tidak seakrab itu, maksud nya belum, untuk berhak bertanya-tanya perihal urusan teman satu rumah nya itu.

__ADS_1


" Lana ? " si manis tersentak kecil, menoleh saat namanya terpanggil, mendapati Claire dan Crish yang berjalan memasuki dapur


" Claire! kak Crish. . ." keduanya tersenyum mendapat sapaan si manis


" apa yang kamu lakukan di sini ?" Claire bertanya, sempat ia melihat Leonard yang juga baru saja keluar dari arah dapur.


Si manis menepuk pelan kening nya.


" aku sedang memasak untuk sarapan hehe "


" lalu kenapa tadi ada Leonard ?"


" ah, kak Leonard tadi menolong ku, aku mencoba mengambil beberapa piring di atas rak tinggi itu, tapi tidak sampai, akhirnya aku menggunakan kursi, tapi keseimbangan ku payah tadi, jika kak Leonard tidak ada mungkin aku sudah jatuh ke lantai dengan beberapa piring yang pecah" itu jelasnya dan sukses membuat Claire segera mendekat padanya sambil memutar tubuh si manis, memastikan jika Lana tidak apa-apa, percayalah Claire benar-benar menjadi overprotective kepada Lana semenjak gadis muda itu datang, meski seumuran Claire bahkan sudah menganggap nya adik karena Lana begitu menggemaskan


" aku benar-benar tidak apa-apa Claire.... " ujarnya mencoba meyakinkan gadis yang lebih tinggi tujuh centi darinya itu


" kau seharusnya bertanya dulu Lana, tidak perlu di rak atas, di bagian laci dapur pojok kiri juga ada piring-piring " jelas Crish, Lana tersenyum kaku, ia jelas tidak begitu tau.


" maafkan aku hehe " ujarnya, ke duanya hanya mampu menghela nafas, setidaknya Lana tidak apa-apa.





" tidak Eric, Ocean sudah bilang padaku dia tidak masuk kelas hari ini karena ada urusan." Eric mengangguk paham, perihal urusan yang di maksud Ocean, sebenarnya Eric cukup mengetahui nya


Ingin mengantar, tapi universitas nya dengan universitas Lana tidak lah searah, dan dia juga harus pergi sekarang


mungkin Lana bisa saja dengan Aland tapi pemuda itu pun sudah berangkat sejak tadi


" oh Leonard! " Eric segera memanggil sosok Leonard yang baru saja datang dari arah pintu utama, mengundang tatapan bertanya dengan sebelah alis yang terangkat dari sosok pemuda itu


"kamu kembali lagi? "


"yah ada berkas yang tertinggal jadi aku kembali untuk mengambil nya"


"kalau begitu bagus, bukankah kamu akan bekerja sebagai Dosen di Harvard mulai hari ini? Lana akan berangkat tapi dirinya tidak memiliki teman untuk berangkat bersama, aku ingin mengantar tapi universitas ku beda arah, kamu pergilah bersamanya"


tepat setelah Eric mengatakan itu, tatapan mata tajam itu bergulir kepada sosok gadis yang hanya diam saja mendengarkan, Lana ingin menolak sebenarnya, jujur ia masih canggung akibat kejadian semalam maupun tadi


" tidak perlu, aku sungguh tidak ingin merepotkan" ujarnya dengan cepat, dengan kedua tangan yang ia kibas kibaskan di depan wajah nya


" tidak, cepatlah ambil barang mu, aku tidak menerima penolakan. " dan itu adalah ucapan Leonard yang seperti mantra mutlak yang tak terbantahkan


" selagi kita searah, dan satu tempat tujuan, itu bukan masalah, aku akan mengambil berkas ku yang tertinggal dulu" ujarnya lagi, sambil berlalu untuk pergi ke kamarnya mengambil berkas yang ia bilang tertinggal

__ADS_1


Eric hanya mengangkat bahunya acuh melihat hal itu, sebelum pamit pada Lana dan pergi dari sana.


Ke adaan di mobil begitu hening, hanya terdengar suara radio mobil yang mengisi keheningan mereka, tidak ada yang membuka suara, baik Leonard maupun Lana mereka membisu seolah terjebak pada dunia mereka sendiri-sendiri, kalau untuk Lana sebenarnya ia tengah gugup dan bingung, ingin membuka obrolan pun sosok Leonard sepertinya bukan orang yang suka berbasa-basi


" ku dengar kau anak jurusan Seni semester dua benar ?" pada akhirnya Leonard lah yang membuka percakapan, dengan pertanyaan yang terarah pada si manis, mau tak mau membuat Lana menoleh pada si pria blasteran itu.


" um iya benar, aku mengambil jurusan Seni di sana, dan baru memasuki semester dua "


Leonard menipis kan bibirnya mendengar jawaban Lana


" ku rasa kita akan sering bertemu, mungkin ?" kerenyitan samar tercetak pada dahi Lana, bukankah mereka wajar akan sering bertemu ? Maksudnya adalah, mereka tinggal di atap yang sama.


" maksud ku, aku akan mengajar fakultas Seni, ku rasa kau paham"


" ah ?! Kalau begitu mohon bantuan nya Dosen Leonard ! " Leonard terkekeh mendapat respon itu, tangan nya terangkat sejenak untuk mengusak surai madu milik Lana yang hanya dapat tersenyum malu


Mobil milik Leonard terhenti pada parkiran khusus dosen. keduanya kini melangkah keluar dari mobil itu.


" aku harus ke ruang Dosen, tapi ku rasa aku bisa mengantar mu ke kelas sejenak" Leonard menatap jam pada pergelangan tangan nya, lalu teralih kembali pada Lana yang setia menatapnya.


"ah sepertinya kamu sibuk, aku bisa pergi ke kelas sendiri".


" tidak apa, aku juga ingin melihat dimana kelas Seni untuk hari pertama ku mengajar hari ini, jadi ayo jalan " Lana hanya dapat mengangguk sebelum akhirnya mengikuti langkah Leonard yang sudah berjalan lebih dahulu.


" Ellana Evely aku bukan bodyguard mu, berjalan lah di samping ku, tidak perlu terlalu kaku begitu" lagi-lagi si manis merutuk dalam hati, kenapa ia jadi begitu ceroboh jika berhadapan dengan sosok Leonard, dan Leonard hanya dapat menggeleng pelan melihat respon itu


" jangan menunduk terus, kita sudah sampai di gedung fakultas mu. "


Lana mendongak, benar saja Leonard sudah menemaninya sampai gedung fakultas nya, ia menoleh pada Leonard yang menatap nya tanpa ekspresi, dirinya mencoba menarik senyum yang terlihat natural kepada Leonard.


" terimakasih kak Le— maksudku kak Dosen"


" kamu bisa memanggil ku Leo di saat hanya kita berdua atau waktu bersantai" Lana mengangguk paham, kembali memberi senyum nya dan berniat untuk memberikan ucapan terimakasih kembali, namun dalam sekejap Leonard sudah menarik tangan nya, hingga si manis sulit menyeimbangkan tubuh dan berakhir jatuh ke dalam pelukan tubuh tegap nan besar milik Leonard.


Tepat ketika sebuah vas bunga jatuh di tempat Lana berdiri barusan.


Leonard menatap datar vas yang sudah pecah tersebut, berbanding dengan Lana yang terkejut dan nampak memandangi vas bunga itu dengan seksama dan hati yang berdegup panik, jika saja Leonard tidak menariknya, sudah di pastikan vas itu jatuh menimpa kepalanya.


Lengan kekar pemuda blasteran itu semakin mengeratkan pelukan nya pada Lana, manik tajam nya bergulir pada lantai tiga gedung tersebut, dan Leonard amat yakin, ada seseorang yang baru saja meninggal kan tempat itu, hanya untuk menjatuhkan Vas bunga.


" gagal ".


......................


Terimakasih, mohon dukungan nya^^


see you next time.

__ADS_1


__ADS_2