Sang Pembunuh Yang Mencintaiku

Sang Pembunuh Yang Mencintaiku
Episode 12 — Awal balas dendam


__ADS_3

Selamat membaca ———!


...----------------...


...----------------...


Inggris Raya, Hospital.


Ocean melangkah menghampiri Leonard ketika dirinya baru saja memastikan bahwa Jeffrey sudah dalam kondisi aman di baringkan pada ranjang rawat VIP tertutup pada salah satu rumah sakit di Inggris tempat mereka mengamankan Jeffrey saat ini untuk perawatan


"May I check his condition first?"


Dokter Daniel, yang akan mengambil alih perawatan Jeffrey selama di London kini bertanya kepada dua pria tinggi yang kini menatap dari sudut ruangan


Leonard mengangguk pelan, membiarkan dokter kenalan Clifton ayahnya, kini mulai memeriksa kondisi tubuh Jeffrey saat ini, dengan dirinya dan Ocean yang tak melepas pandangan melihat pemeriksaan itu


"Sekarang yang dibutuhkan adalah kabar tentang menemukan alat rekaman tersembunyi yang ada pada boneka milik Lana, aku harap itu tidak di lenyapkan sebagai penghilang tanda bukti".


Leonard angkat bicara, mengundang fokus Ocean kini terarah kepada nya dengan sebuah anggukan setuju akan ucapan Leonard


"Jangan lupakan kita juga harus menangkap siapa saja yang terlibat dalam rencana pembunuhan ini, aku yakin Gilian tak berani untuk bergerak seorang diri begitu saja, juga para orang kotor di kementerian negara yang memang harus di singkirkan. "


Kanada, Mansion utama Lyxander.


David mengamati dalam keheningan seorang diri di atas atap sebuah gedung tua, yang terletak tidak jauh dari Mansion Xander berada, Mansion itu bukan terletak di tengah kota melainkan di pinggiran kota yang membuat David lebih leluasa untuk melakukan pengintaian, alat penglihatan jarak jauh tergenggam pada tangan David, memperhatikan setiap pergerakan penjaga yang berdiam tegak pada posisi mereka masing-masing, berjaga dengan penuh kewaspadaan, keamanan nya di sana cukup David akui bahwa begitu baik dan ketat


tak berseling lama dari itu, sebuah mobil berjenis BMW berwarna hitam yang dirinya yakini milik Gilian baru saja kembali entah dari mana laki-laki tua itu pergi, dan berakhir memunculkan sang pemilik mobil yang masih nampak sehat di usia nya yang tidak lagi muda ini meski dirinya sering kali membawa sebuah tongkat kayu pada genggaman nya.


"entah kenapa aku benci melihat wajah angkuhnya itu" David berdecih malas, dengan pergerakan mata yang masih mengawasi Gilian hingga tubuh itu hilang setelah memasuki Mansion tersebut.


"Harta membuatnya lupa diri, bahwa akhir dari manusia adalah di bawah tanah tanpa membawa apapun yang di miliki pada Dunia fana ini"


"kau tau bukan David bahwa tidak satu atau dua manusia yang bahkan sikapnya lebih busuk dari pada binatang buas" itu Aland yang berbicara melalui Earpiech nya, laki-laki bermarga Birkins itu memang menemani pengintaian David namun dalam jarak radius yang tersembunyi


"yeah, merasa bahwa mereka selalu berada di rantai puncak heriarki"


"sudahlah, apakah dirimu mendapatkan celah? "

__ADS_1


"aku mungkin bisa menyelinap ke dalam, tetapi kemungkinan berhasil keluar adalah lima puluh, aku akui sistem pengamanan di dalam cukup ketat dan menyusahkan"


"ini akan sedikit sulit, aku bisa meretas semua sistem itu, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk mencari letak boneka yang entah dimana itu"


"tetapi aku punya ide"


Aland melanjutkan dengan David yang mendengarkan nya dengan seksama ucapan dari rekan nya itu


"kita butuh Lana untuk masuk"


"What the ****, are you crazy Aland! . " berakhir David yang mengumpat atas saran mengejutkan yang Aland ucapkan.


...----------------...


"kamu yakin Lana? ini berbahaya jika kamu tertangkap datang untuk menyusup dan mencari rekaman itu aku khawatir Gilian bisa melakukan hal yang di luar batas kepadamu"


Claire memastikan sekali lagi kepada gadis manis di hadapannya kini, ide gila Aland benar-benar membuat nya terkejut, di tambah Eric yang menyetujui nya begitu saja, sama saja seperti mengirim Lana pada kandang singa, sial nya Leonard tak ada di sini untuk memperbaiki otak kedua teman nya itu, lalu Chris yang lebih normal pun kini sedang menjalankan hal lain yang cukup penting


Sedangkan David laki-laki itu tak bisa berbuat banyak ketika Lana menyetujui rencana gila Aland dan Eric


"aku yakin Claire, kamu tenang saja aku pasti berhasil, ini semua ku lakukan demi keluarga ku terutama ibu ku yang sudah mereka renggut dengan tidak manusiawi"


"baiklah aku mengerti, kamu pantas untuk membalaskan dendam mu, kami berempat akan melindungi dan mengawasi mu, tetapi kamu tetap harus berhati-hati di sana Lana, bagaimana pun Mansion itu adalah sarang ular yang licik dan berbisa"


Lana tersenyum lembut, ia mengerti rasa khawatir Claire, gadis baik itu benar-benar memperhatikan nya, dan Lana beruntung mengenal orang sebaik dan se perhatian Claire


"bagaimana apa Lana sudah siap? " Eric muncul pada ambang pintu, menatap kedua gadis itu dengan pandangan bertanya


"aku siap kapan pun itu"


"baiklah Lana, aku ingin kamu memakai ini" tangan itu terulur, menyelipkan sebuah alat perekam suara yang sangat kecil di balik tudung hoodie yang gadis itu kenakan


"alat itu akan terus membantu kami mendengarkan setiap percakapan mu dan orang-orang di sana nanti, dan satu lagi jangan pernah melepaskan gelang yang pernah Claire berikan padamu, itu adalah permintaan Leonard, dirinya tahu kamu kapan saja bisa dalam bahaya, dan dia segera meletakan alat pelacak dengan keamanan tingkat tinggi pada gelang yang kamu pakai"


Ujar Eric panjang lebar, membuat Lana mengelus perlahan gelang cantik yang terpasang pada pergelangan tangan nya ketika Eric berkata bahwa itu adalah pemberian Leonard


Ah laki-laki itu masih belum kembali dari London, masih sibuk memastikan keamanan sang ayah, dan entah kenapa Lana merasa rindu, rindu terhadap Leonard yang sudah lima hari ini tidak berada di sekitar nya, Lana selalu merasa aman jika laki-laki yang terpaut enam tahun lebih tua darinya itu terlihat dalam radius pandangan nya

__ADS_1


Tetapi Lana harus menyingkirkan semua perasaan itu, hal yang harus ia lakukan sekarang lebih penting, dan lagi Leonard pun ada jauh di benua Eropa demi keselamatan ayahnya, ia tidak boleh mengeluh seperti anak kecil


"kamu akan pergi menggunakan Taksi senatural mungkin seolah kamu memang berniat berkunjung kesana, jangan terlalu memaksa Lana, jika kamu tidak bisa menemukan boneka itu kamu bisa pergi secepatnya dari sana, keselamatan mu lebih penting dari apapun, apa kamu paham? " ujar Eric kembali, sejujurnya ia takut jika gadis baik ini akan celaka, tetapi jika Lana sendiri tidak terlibat akan sulit untuk menguak semua kejahatan dari keluarga konglomerat terkutuk itu, ia hanya dapat berdoa agar semua yang sudah ia rencana kan berjalan lancar, masalah jika dirinya akan di berikan pelajaran oleh Chris dan terutama Leonard bisa di pikirkan nanti, Eric dan Aland sudah siap menanggung konsekuensi nya


...----------------...


"maaf menganggu waktumu tuan.... "


Sapaan sang kepala pelayan yang datang secara mendadak di sela acara bersantai nya membuat Gilian segera menoleh, secangkir kopi ia sedap sejenak, sebelum memberikan gestur agar kepala pelayan itu menyampaikan apa yang mau dia katakan


"nona Ellana datang untuk berkunjung tuan"


Gilian terdiam sejenak sesaat mendengar hal itu, sebelum sebuah tawa dengan nada berat terdengar cukup keras


"menakjubkan, apa yang membuat cucu cantik ku itu berani kembali ke sini, aku masih ingat bahwa dia seperti kelinci kecil ketakutan jika berada di sarang hewan buas beberapa tahun belakangan, baiklah mari kita hampiri dirinya dan melihat akan ada hal menarik apa yang cucu ku bawa"


Ada sedikit nada sarkas disana, namun Gilian segera berdiri tak lupa dengan tongkat nya lalu berjalan dengan penuh menawan untuk menghampiri Lana yang sudah menunggu di ruang tamu, dengan kepala pelayan yang setia mengikuti di belakang kakek tua itu.


Jemari lentik itu saling memilin menunjukkan sikap penuh kegugupan dari sang pemilik jari, Lana duduk dengan sedikit tegang di sofa besar ruang tamu Mansion Lyxander itu, tidak banyak hal berubah di sini, arsitektur ala barat menawan yang selalu berhasil membuat mata terpukau masih lah sama seperti setahun lalu ketika terakhir kali dirinya ke sini hanya untuk mengenang kematian sang nenek


dan sekarang ketika dirinya kembali mengingat semua kenangan buruk itu ketika kecil, ada api membara akan amarah di dalam hati nya terhadap sang kakek maupun keluarga besar dari ayah nya itu


dirinya ingin menguak semua, menghancurkan mereka hingga tak tersisa, dan mungkin dengan begitu baik sang ibu maupun neneknya dapat tinggal dengan damai di alam sana


"Lana.... "


laki-laki tua itu tiba, dengan senyum manis yang justru membuat Lana muak, senyum palsu yang menggelikan, itu menurutnya saat ini, karena sang kakek tak lebih dari iblis yang harus akan kekayaan dan kekuasaan


"kakek, aku sedang ingin berkunjung apakah boleh? "


"tentu nak, tentu.... berkunjung lah sesukamu ke rumah laki-laki tua yang sudah rentan ini, pintu Mansion ini akan selalu terbuka untuk mu cucu cantik ku" Gilian berucap dengan nada yang terdengar gembira, dengan kedua tangan yang kini membawa Lana ke dalam rengkuhan nya di selingi tawa yang bahagia, Lana hanya membalasnya dengan senyuman, kedua tangan nya membalas pelukan sang kakek, memberikan tepukan-tepukan pada punggung renta itu, terlihat hangat, namun hanya orang yang memiliki kepekaan yang tinggi untuk menyadari bahwa Lana seolah menahan diri untuk tidak memberikan pukulan terhadap kakeknya sendiri


...----------------...


...----------------...


Bersambung. . . . .

__ADS_1


Sampai bertemu kembali di episode selanjutnya.


__ADS_2