
Selamat membaca———
...----------------...
...----------------...
Matahari kini menampakkan cahaya nya di sela sela awan yang menutupi langit dengan tebal, seolah memberikan teduh di mana hari pemakaman Charlotte di laksanakan hari ini
"Lana.... Mau melihat ibumu sebelum di makamkan?"
Aria bertanya dengan lembut, mengusap kasih dan ketenangan pada bahu gadis manis itu, yang kini terlihat begitu rapuh seolah jiwanya tidak berada pada tempatnya, menuntun Lana untuk berdiri dan mendekat ke arah dimana peti mati Charlotte berada, ibunya cantik sekali bahkan dengan wajah pucat nya yang terpejam damai, memakai gaun putih seperti seorang pengantin baru, pantas ayahnya begitu mencintai sang ibu, sebisa mungkin si manis menarik sudut bibirnya membentuk senyuman
Jemari lentiknya terangkat untuk mengusap penuh kasih pipi dingin sang ibu yang sudah tidak merona
"ibuku cantik sekali, sangat cantik seperti bidadari surga, itu sebabnya ayah juga sangat mencintai ibu dengan begitu besar, tetapi Lana mohon untuk ibu jangan mengajak ayah ya, nanti Lana sendirian jika ayah tidak ada...."
Hal terberat bagi seorang anak adalah melihat kematian ibunya sendiri dan menemaninya hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Aria menghembuskan nafasnya, menghapus setitik air mata yang jatuh di sudut matanya, Charlotte adalah teman baiknya, wanita itu begitu baik dan mulia, Aria sudah di anggap seperti adik oleh Charlotte dan kini ia merasa benar-benar kehilangan sosok kakak, Samuel menarik bahu sang istri kedalam pelukan, dan memberikan usapan lembut semua orang tengah berduka saat ini, Nelson menepuk pelan bahu tegap putranya, Ocean hanya dapat tersenyum kecil menatap ayahnya, hatinya ikut patah melihat orang yang ia sayang kini terlihat begitu menyedihkan, Ocean benar-benar akan berusaha untuk mengusut semuanya dan memberikan hukuman setimpal dengan rasa sakit Lana
Dan juga kini termasuk ke lima pemuda dan seorang gadis yang sejak tadi diam menatap iba pada Lana yang kini tengah memeluk Charlotte dan masih mengelus lembut pipi dingin Charlotte
"Patah hati terberat seorang anak adalah kehilangan orang tuanya, kau akan merasa seperti jalan hidup mu hilang dalam sekejap mata" Eric berujar lirih, dirinya tau bagaimana rasanya kehilangan sosok orang yang merawat nya sejak kecil, begitu pun para rekan nya yang lain kini, bahkan Chris tak pernah mengenal sosok ibunya dengan baik ibunya pergi ke surga tepat setelah melahirkan nya, ataupun Claire yang di terlantar di panti asuhan tanpa tau menau tentang keluarga, apa itu ayah, ibu? Bahkan sekedar perbincangan hangat perihal di tanyakan bagaimana hari mu, Claire tidak tau, tetapi dirinya beruntung karena Samuel dan Aria mau merawat nya, mereka berdua menemukan dirinya yang saat itu tengah di ganggu oleh preman, dan dengan baik hati pasangan itu mau memberikan nya rumah serta kasih yang tidak pernah ia dapat.
Aland bahkan tak kalah menyedihkan, seorang ayah mana yang tega menjual anak nya sendiri hanya demi uang, saat itu Aland beruntung karena ayah dari Leonard melakukan penangkapan pada pasar gelap hingga dirinya bisa berhasil bebas tepat sebelum ia akan di lelang menjadi budak
David menghela nafas pelan, ingatan nya kembali terngiang pada masa lalu, dimana dirinya pun juga menyaksikan kematian sang ibu tepat di hadapan matanya, dan semua itu karena sang ayah yang begitu egois hanya selalu mementingkan diri sendiri, dan membiarkan David dan sang ibu hanya saling menguatkan bersama, namun setelah itu semua, sang ayah justru melenyapkan cahaya hidup Davis satu-satunya.
Leonard berjalan maju, melepaskan jas yang ia pakai lalu memakai kan nya pada bahu Lana yang bergetar pelan akibat menangis, membawa tubuh bergetar itu menjauhi peti mati Charlotte yang akan di tutup dan siap di kuburkan dalam damai pada tanah
__ADS_1
"Jangan menangis lagi Lana, ibu mu pasti kini tengah tersenyum melihat mu, melihat anak kuatnya, kamu harus tetap baik untuk menjaga ayah mu hmm. . . . kamu tidak sendiri masih ada aku, kami, juga paman Samuel dan bibi Aria" Leonard berbisik lembut tepat di samping telinga Lana yang hanya dapat menunduk sendu, membisikkan kata-kata penenang yang membuat Lana merasa lebih baik, dan kini pandangan nya hanya terfokus pada orang-orang yang perlahan mulai menurunkan peti Charlotte, lalu setelahnya mulai menutupnya dengan tanah, mengubur raga dingin sang ibu yang tidak akan ia lihat lagi.
"Tuan Kim, Tuan Gilian Lyxander datang ke sini" pelayan pribadi Samuel datang mendekat, memberikan kabar yang membuat Samuel memasang wajah tidak bersahabat, tetapi dirinya tetap mempersilahkan keluarga Xander itu untuk masuk.
Gilian melangkah dengan langkah angkuh, sebelum memasang sebuah senyum penuh iba, mendekat pada Lana yang kini hanya menatap nya dalam diam
"Cucuku, kakek turut berduka atas kejadian yang menimpah ibu dan ayah mu, Charlotte pasti sudah tenang di surga, kakek juga membawakan bunga belasungkawa, ada di depan rumah duka ini, maaf karena ibumu datang ke acara yang kakek adakan, malah terjadi hal mengerikan seperti ini"
gadis manis itu hanya diam, bahkan ketika dirinya di tarik dalam pelukan sang kakek, ia tidak membalas, justru ada tatapan yang sulit di artikan dari pandangan Lana
David berdecih pelan, ia tidak percaya bahwa kakek tua itu masih bisa memainkan dramanya di situasi seperti ini, sedang Leonard hanya menatap dingin ke arah kakek tua itu
"Dirimu masih muda sayang, rumah keluarga Xander akan senang hati menerima mu untuk tinggal di sana, ah ya, apa kakek boleh tahu dimana ayah mu di rawat saat ini?"
Gilian memasang senyum hangatnya, menatap penuh pada cucu nya itu menantikan jawaban
"Dia aman tuan Xander, sangat aman, jauh dari jangkauan ular bertopeng angsa" itu bukan Lana, melainkan Samuel yang angkat bicara, menatap Gilian dengan pandangan memperingati dan senyum palsu yang membuat Gilian menggeram kesal di dalam hatinya, Samuel Kim adalah orang yang selalu membuatnya jengkel.
•
•
•
Lana menoleh sejenak, menatap Leonard yang kini berjalan mendekat ke arah nya, lalu mendudukan dirinya tepat di samping Lana
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Menyulam, ibu sangat suka menyulam, ia senang saat menbuat syal, baju hangat atau hal lain untuk ku dan ayah ketika memasuki musim dingin" Lana kini telah berhasil menyulam dengan baik setelah belajar secara serius setiap memiliki waktu senggang di sela kesibukan nya
Leonard tersenyum maklum, melihat Lana yang tidak mengurung diri dan murung membuat nya sedikit bersyukur, entah juga mengapa melihat gadis itu tengah sendirian membuat Leonard ingin datang menghampiri nya
__ADS_1
"Bibi Charlotte sangat baik, aku pernah bertemu dengan nya saat acara perusahaan saat itu, beliau begitu cantik seperti mu, ia ramah, bahkan ia juga menyapa ku dan mengajak ku berbincang dengan hangat, padahal saat itu aku hanya memilih menghindar dari kerumunan, tetapi dia dengan baik hati justru menemani ku agar tidak canggung"
Lana tertawa kecil mendengar nya, ibunya memang orang selembut itu, bahkan banyak orang yang mengakui bagaimana baik hatinya Charlotte, Lana bahagia memiliki ibu seperti Charlotte
"kak Leo, bagaimana tentang dirimu? Tentang ibumu?"
Leonard terdiam sejenak seolah berfikir, sebelum sebuah garis senyum ia terbitkan, ia menggelengkan kepala nya pelan, lalu menatap si manis yang juga kini menatap nya
"Aku besar dengan ayah ku saja Lana, ibu ku pergi karena memilih keluarga lain"
Seorang ibu memang lah seorang terkasih dan cinta abadi anaknya, tetapi ada pula seorang ibu maupun ayah, yang menjadi patah hati pertama anak nya.
"Tetapi aku beruntung mengenal bibi Aria, beliau berperan penting menggantikan posisi ibuku selama ini"
Lana mengangguk, ia sudah lama juga mengenal Aria, sosok hangat yang selalu ada baginya, seperti sosok kedua seorang ibu, Charlotte memang akan tetap menjadi malaikat nya, tetapi Aria adalah orang baik dan berharga juga dalam hidupnya.
Lana terdiam sejenak, awal dirinya mengenal Leonard ia pikir pemuda itu adalah orang yang dingin dan menyeramkan, tapi siapa sangka Leonard adalah orang yang cukup perhatian dan hangat
"kak Leo..."
Pemuda tinggi itu kembali menatap si gadis manis yang berada di sisi nya, yang kini terlihat mengalihkan pandangannya pada langit malam dengan hamparan bintang di sana
"jangan mempercayai keluarga besar ayahku, aku pikir mereka tidak lah benar-benar sebaik itu"
Leonard terdiam setelah Lana mengatakan hal itu, ia hanya memandangi gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan
namun yang cukup Leonard tahu, adalah bahwa Lana sendiri pun juga menaruh curiga atas insiden yang merenggut nyawa ibunya
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Bersambung. . . .
See you next chapter.