Sang Pembunuh Yang Mencintaiku

Sang Pembunuh Yang Mencintaiku
Episode 04 — Imminent danger


__ADS_3

Selamat membaca ——————


......................


......................


Tok ! Tok !


" permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda "


Kepala keluarga Lyxander yang tengah sibuk menandatangani kertas-kertas berisi hal penting itu mendongak, saat sekertaris nya menyampaikan perihal tersebut dari arah pintu


" siapa ? "


" tuan Kim, tuan. "


Jeffrey Lyxander mengangguk sebagai tanda menyetujui kedatangan tamu itu, dan membiarkan sang sekertaris mempersilahkan sang tamu untuk masuk.


hingga tak lama dari itu sosok laki-laki jangkung berjalan memasuki ruangan itu dengan senyum yang terpoles pada bibirnya


" lama kamu tidak mengunjungi ku, Samuel. "


Pria itu, Samuel Kim terkekeh kecil, sebelum mendudukan dirinya pada sofa setelah sang pemilik ruangan mengijinkan nya.


" apa tuan Lyxander begitu sibuk hari ini ?"


" tidak hanya harus menandatangani beberapa berkas, ah ya, dan jangan formal begitu padaku. "


Lagi-lagi si pria Kim terkekeh, namun dalam sekejap raut wajah nya berubah menjadi serius.


" ada hal penting yang ingin aku bahas dengan mu kak. "


Jeffrey termenung mendengar hal itu, tangan nya yang tadi sibuk membulak-balik dokumen otomatis terhenti begitu saja, di tambah raut serius dari sosok yang biasa nya terkenal jenaka tersebut, Samuel hanya akan memanggilnya dengan kakak jika dalam ke adaan serius, atau membicarakan sesuatu hal yang penting.


" perihal apa ? "


" ini tentang departemen negara dan tuan besar Xander"





Ellana Evely terduduk diam pada salah satu kursi di kafetaria universitas nya.


Tangannya hanya sibuk mengaduk-aduk bento makan siang nya, yang memang telah ia bawa dari rumah tadi pagi, Lana memang tidak terlalu suka jajan atau membeli makanan di luar jika tidak terlalu ingin


Tubuh si manis memang berada di sana, tapi terlihat sekali bahwa pikiran nya melayang entah kemana, ah lebih tepatnya Lana tengah kembali mengingat kejadian pot pagi tadi yang nyaris melukainya


Masih teringat jelas, bagaimana Leonard yang dalam sekejap menariknya ke dalam pelukan yang mendadak tadi, membuat nya benar-benar terkejut, Lama yakin sedetik saja Leonard terlambat, pot itu sudah mengenai kepalanya.


Sudut hatinya merasa ada yang salah, ia merasa bahwa pot itu jatuh bukan karena kesalahan, tapi ada seseorang yang mendorong nya dengan sengaja dan ingin melukainya, meski Lana sendiri tidak begitu yakin.


Ia memang anak lugu yang polos, tapi Lana cukup baik menebak raut wajah seseorang atau gerak-gerik seseorang, termasuk wajah waspada dan menegang Leonard saat menatap ke arah asal di mana pot itu jatuh.


" Lana. " panggilan dari suara berat itu menyentaknya, gadis manis itu menoleh dan mendapati Leonard sudah berdiri di sisinya, dengan raut wajah datar andalan nya, ah baru saja Lana memikirkan soal Leonard perihal kejadian tadi pagi.

__ADS_1


" kenapa melamun ? "


" ah tidak kak Leo." si manis menjawab dengan nada yang masih agak terkejut, sebelum berhasil mengendalikan raut wajahnya, dan kembali mengalihkan fokusnya pada Bento yang hanya di aduk aduk nya saja itu


" mata mu berbohong " ujar Leonard yang entah mengapa mencoba dekat dengan nya sekarang, padahal pemuda ini selalu terlihat memiliki sikap tidak perduli meski tadi pagi telah menolong nya, sebelum mendudukkan bokong nya pada kursi tepat di sisi Lana.


" kamu memikirkan soal kejadian pot yang hampir menimpa mu ? "


Leonard kembali berbicara, dan membuat atensi si manis kembali terarah pada nya.


" bagaimana kak Leo menebak nya?"


" sejak kejadian tadi pagi, raut wajah mu nampak berfikir dengan keras. "


Lana hanya dapat meringis pelan mendengar kebenaran itu, apakah raut wajahnya begitu mudah terbaca hari ini?


" Lana, mungkin ini akan terdengar aneh, tapi— " perkataan Leonard itu berhasil membuat fokus Lanna kembali terarah kepadanya, menuai tatap penuh tanda tanya akan apa yang ingin Leonard ucapkan kepada dirinya


" aku harap kau tidak terlalu jauh dari pengawasan aku, maupun anak anak yang berada di kediaman. "


" apa maksud mu kak Leo ? " Lana bertanya penuh kebingungan, namun Leonard hanya menipiskan bibirnya, lalu mengusap pelan pipi halus Lana, dan tanpa kata berlalu pergi begitu saja.


Tunggu sebentar, apa barusan Leonard tersenyum ?.


seorang yang semenjak ia bertemu hanya menampilkan raut wajah dingin itu tersenyum?


oke, sekarang pikiran Lana teralihkan untuk memikirkan teori tersebut


" bukan kah dia sangat manis ? "


" dunia itu memang kejam Skay, bahkan keluarga bisa saling membunuh hanya karena harta. "





Kelas Seni baru saja di mulai, dan benar saja Leonard lah yang menjadi dosen mulai hari itu, banyak bisik-bisik yang mengatakan bahwa dosen mereka yang sekarang begitu tampan dan menawan


Dan cara mengajar yang tidak membosankan, meski Leonard tak begitu banyak menampilkan ekspresi tetapi tetap menjadi nilai plus di mata gadis gadis muda di sana


Lana hanya tersenyum geli melihat respon yang lain, andai saja mereka tau bahwa Lana mengenal Leonard, bisa di pastikan ia akan langsung di kerubungi hanya untuk meminta nomor si dosen Tampan itu.


" Lana kamu melamun. " Lana sedikit terkejut saat Leonard lagi-lagi mendadak sudah berdiri di dekat nya, membuat atensi siswa lain juga menatap pada si manis


" ah maaf kan aku Kak Dosen. "


" apa ada yang mengganggu pikiran mu ?" ada yang menatap heran dan juga iri, tentu, kenapa bisa Leonard nampak begitu perhatian pada Lana, dan memanggil akrab si manis ?


Apa mereka sudah saling mengenal ? Atau mereka memiliki hubungan, lebih baik kalian bertanya dari pada harus menatap Lana dengan pandangan iri seperti itu.


Leonard menipiskan bibirnya, lalu mengusak lembut surai halus milik si gadis itu, dan Lana hanya dapat tersenyum kaku menanggapi usapan mendadak itu.


" aku akan ada urusan nanti, tetapi aku sudah menghubungi David untuk menjemput mu, kelas mu hanya tinggal kelas ku saja kan hari ini?" ujar Leonard sekaligus bertanya perihal jadwal Lama, tentu saja dengan suara yang di pelan kan agar manusia-manusia penasaran itu semakin penasaran


Lana mengangguk pelan, dan membiarkan Leonard berlalu untuk kembali pada posisinya.

__ADS_1





" kak David! " pria tinggi itu tersenyum tipis saat suara halus memanggil namanya.


David yang tadinya tengah bersandar pada mobil pribadi miliknya dengan pandangan yang tak lepas dari ponsel pada tangan itu seketika segera menoleh, dan benar saja ia melihat Lana yang tengah berlari kecil ke arah nya, membuat rambut halus panjang gadis itu berayun-ayun pelan


Tanpa sadar David jadi tertawa kecil melihat nya.


" Hay Lana , kelas mu sudah selesai ?"


" hum ! Apa kamu menunggu lama ? Maaf merepotkan, seharusnya jika kak Leo tidak bisa pulang bersama ku, aku naik bus saja." ada nada tak enak di sana, namun David hanya mengusak lembut kepala Lana sebagai tanggapan.


" tidak merepotkan, kelas ku selesai lebih cepat hari ini, jadi sepulang dari kuliah aku langsung datang ke sini. Ayok pulang, ah apa ada hal yang ingin kamu beli sebelum itu?"


Lana nampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya dirinya mengangguk dengan yakin


"iya, aku ingin membeli beberapa camilan dan kebutuhan ku, kakak tidak keberatan menemani ku untuk ke supermarket terlebih dahulu? "


"tentu saja tidak, apapun itu untuk gadis kecil".


Di sini mereka sekarang berada di supermarket untuk membeli beberapa barang yang Lana inginkan


biasanya dia sering kali di temani oleh Ocean, meski Lana adalah gadis aktif periang, tetapi dia adalah orang yang tidak begitu suka menarik perhatian orang lain, ia sering kali nyaman dengan dunia nya sendiri, banyak yang cukup mengenali nya di Universitas tetapi tidak ada yang seakrab seperti Ocean


" kamu mau eskrim?"


David menawari, dengan kedua tangan yang sudah membawa dua bungkus eskrim rasa coklat, Lana tentu tidak menolak itu salah satu kesukaan nya


mereka selesai membayar, pada akhirnya David yang membayar belanjaan Lana tadi meski Lana sudah bersikeras menolak, ia tidak enak sungguh, tetapi David berkata


"anggap saja seperti di belikan oleh kakak laki-laki mu"


Lana sedikit merenggut menanggapi ucapan pemuda dewasa si hadapan nya ini


"kakak laki-laki apanya, aku anak tunggal, pokoknya nanti aku harus mentraktir kakak untuk balas budi"


Pemuda itu tertawa mendengar celotehan sungguh-sungguh yang Lana lontarkan, ia hanya mengangguk saja tidak ingin membuat gadis muda itu semakin bersungut kesal kepadanya


mereka berdua berakhir memakan eskrim yang tadi David beli, sambil duduk sejenak pada kursi yang tersedia pada halaman supermarket, Lana mengedarkan pandangannya dengan mulut yang sibuk memakan eskrimnya, sampai ia menyadari satu hal, berjarak cukup jauh, tepat di persimpangan gang dengan tiang listrik kokoh berdiri disana, seseorang tengah mengintip ke arah mereka, Lana segera mengalihkan pandangan nya dengan hati yang berdebar, ia bahkan sampai menjatuhkan eskrim nya yang masih setengah itu


tidak ingin salah kira, tetapi Lana selalu yakin dengan feeling nya sendiri, ia berniat untuk menoleh agar kembali memastikan, tetapi David menahan lengan nya dan menatap nya dengan tenang


"bersikaplah natural seolah tidak melihat nya, aku juga menyadari orang itu sejak tadi" ucapnya dengan pelan, mau tak mau Lana mengangguk patuh ia mencoba bersikap biasa seolah terkejut bahwa eskrimnya terjatuh


Dan pada akhirnya David meminta Lana untuk masuk ke mobil dan segera melaju untuk kembali pulang, tanpa Lana sadari bahwa David mengirim kan sebuah pesan kepada seseorang


"laki-laki bertopi, arah jam tiga".


...----------------...


Bersambung. . . . .


see u next time.

__ADS_1


__ADS_2