
selamat membaca————.
...----------------...
...----------------...
Lana berujar terimakasih setelah Claire mengantarkan nya pada kamar yang akan dirinya tempati mulai saat ini, sedangkan Claire tersenyum simpul menanggapi hal itu
" apa kamu masih butuh bantuan ? kamu bisa bertanya atau meminta tolong apapun jika masih ada yang kamu inginkan" tawar Claire, sedikitnya berbasa-basi pada si manis, namun gelengan Lana adalah jawaban nya
" tidak, begini saja sudah cukup bagiku Claire, terimakasih sudah mengantar, urusan menata biar aku saja hehe " jawabnya dengan kekehan kecil yang manis
"baiklah jika begitu, tapi ingat jangan sungkan meminta tolong jika kamu memang butuh, kamar ku ada di kamar nomor lima, di ujung dari koridor ini, kamu bisa langsung ke sana jika memang butuh sesuatu" ucap Claire sambil menjelaskan tentang letak kamar nya yang kini sedang ia tunjuk tepat pada bagian ujung sebelah kanan dari kamar Lana
" sebentar lagi makan siang, bibi Aria mungkin sudah pulang, dan mulai mempersiapkan masakan di dapur, kau bisa urus barang-barang mu nanti, lebih baik mandi dan ganti baju mu. "
" ah baiklah, jika sudah selesai aku akan turun, juga ikut membantu bibi Aria, Claire sekali lagi terimakasih ya "
Si manis tersenyum, lalu berjalan memasuki kamar barunya sambil menyeret koper miliknya, meninggalkan Claire yang tak lama dari itu berbalik pergi.
" bibi Aria ! " Lana menerjang tubuh Aria dengan pelukan hangat, begitu melihat istri dari Samuel itu tengah di sibukan dengan alat-alat dapur, dengan Claire juga David yang juga sudah berada di sana dan kini tengah menatap keduanya dengan gelengan kecil
" hallo Lama sayang, lama tidak bertemu, kamu terlihat semakin cantik dan manis."
Si manis terkekeh mendengar itu, melepas pelukannya, maniknya bergulir menatap Claire dan satu sosok pemuda yang belum terlalu dirinya kenali, seketika ia menunduk malu, karena bersikap layaknya anak kecil kepada Aria baru saja
Aria menepuk keningnya pelan, ia lupa jika dirinya tak memasak sendiri di dapur ini.
" ah iya Lana, aku yakin kau sudah melihat wajah mereka, tapi apa kamu sudah mengenal mereka berdua?" tanya nya, Lana kini beralih menatap Aria
"kalau untuk Claire aku sudah mengenalnya bibi, tapi untuk pemuda di sebelahnya aku hanya bertemu di ruang tengah tadi dan belum mengetahui nama nya"
"kalau begitu salam kenal, aku David Lee"ujar David selaya memperkenalkan dirinya, di tanggapi oleh sebuah senyum simpul oleh Lana "omong-omong berapa usia mu? "
"ah, aku baru 20 tahun"
"kamu seumuran dengan Claire, tapi kamu bisa memanggilku kakak, karena aku lebih tua, jangan kurang ajar seperti Claire karena suka memanggilku seenaknya jidat nya"
"itu karena kamu pantas di bully" Claire menyahut, mengundang tatapan malas dari David dan kekehan kecil dari Lana dan Aria yang melihat hal itu
" Lana bisa bantu bibi ?, Panggilkan yang lain nya ? Makan siang hampir siap. " ujar Aria, meminta tolong pada si manis, kedua tangan nya tengah sibuk menata piring-piring di meja makan saat ini.
Dan Lana tak harus membantah untuk mengiyakan, sekalian mengenal yang lain, itu pikirnya.
.
__ADS_1
Suara ribut terdengar dari ruang tengah ketika Lana melangkah ke sana, ia bertanya-tanya dalam hati, ia merasa hanya dua orang yang harus dirinya panggil, tapi kenapa ributnya seperti ada sepuluh orang di ruang tengah
" aku pasti menang lihat saja Aland! "
" bermimpi bocah, aku selalu bisa mengalahkan mu di permainan apapun. "
Aland dan Eric, yang Lana ketahui nama keduanya, tengah bermain video game dengan begitu seriusnya, dengan di selingi adu mulut entah apapun itu sedangkan satu sosok lagi hanya terduduk dengan wajah datar menatap keduanya, hingga tanpa sadar bahwa si manis sudah berdiri di belakang mereka sambil memperhatikan
" eum, permisi ?" sapaan si manis membuat ketiga nya berhasil mengalihkan atensi mereka dari game, Lana tersenyum kaku menanggapi hal itu
" Lana ? Ada perlu apa ? " Crish lah yang pertama kali membalas ucapan Lana
" itu bibi Aria meminta ku memanggil kalian, makan siang akan segera siap hehe" jujur saja mereka gemas melihat itu, bahkan Aland dan Eric sampai sama-sama kalah dalam game mereka, si manis tidak bisa di lewatkan.
" baiklah kami akan ke sana nanti" itu Eric yang membalas, pemuda konyol itu menyertai sebuah senyuman manis yang menurut Crish memuakkan
" ah eum ?— "
" Eric "
"ah iya, Eric apa kamu melihat paman Samuel dan Ocean ?."
"mereka di halaman belakang, kamu kesana saja dan lihat" itu Crish yang menyahut, karena dirinya memang mengetahui bahwa paman dan keponakan itu sedang berbicara entah apa di halaman belakang
"baiklah, terimakasih Crish, Eric dan Aland" dan Lana berlalu dari sana untuk menuju ke halaman belakang sesuai dengan apa yang Crish katakan
" ya memang kau tidak ada manis-manis nya sama sekali. "
" Aland Birkins, kau benar-benar ingin ku pukul ?."
.
" Lana ? " Ocean menyapa si manis yang saat itu terlihat berjalan menghampiri dirinya dan Samuel, Lana tersenyum saat Ocean sudah menyadari keberadaan nya, Lana itu suka sekali tersenyum, tapi jika mood nya sedang tidak baik, jangan harap bisa menikmati senyuman manis miliknya dengan mudah.
" Ocean, paman Sam, bibi Aria meminta ku memanggil kalian, makan siang hampir siap! " ujarnya, Samuel dan Ocean mengangguk paham, namun seketika Lana sedikit terkejut saat ia baru sadar bahwa tidak hanya ada mereka berdua, tapi ada satu sosok pemuda tinggi di sana, berdiri kokoh dengan tatapan tajam nya yang tak lepas dari dirinya, namun Lana menyadari satu hal
Ughh kenapa mereka bisa setinggi-setinggi itu ?, Lana merasa 'mungil'.
" ah iya, Lana belum bertemu dengan dia kan ? Ini Leonard, dia baru kembali dari luar itu sebabnya tadi tidak ada. " jelas Samuel seperti paham arah pandang si manis.
Lana mengangguk saja, ia yakin setidaknya paman Samuel sudah sedikit menceritakan soal ia pada Leonard, mengenai penghuni baru.
" baiklah ayo Lana, saat nya makan siang. " Lana terkekeh terhadap sikap Ocean, yang kini merangkulnya sambil melontarkan beberapa obrolan.
" paman, dia anak Jeffrey Lyxander ?" langkah Samuel terhenti, menoleh pada Leonard di belakang nya.
__ADS_1
" hm, dan paman harap dia tidak tau apapun. "
Leonard sedikitnya cukup paham apa yang Samuel maksudkan.
•
•
•
Lana terbangun tengah malam, rasa haus tiba-tiba terasa mengisi tenggorokan, Lana menepuk kening pelan, ia lupa membawa air ke dalam kamarnya
Jadi dengan malas, ia memilih untuk bangun dari kasur, keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, ia yakin penghuni lain sudah tidur, bibi Aria dan paman Samuel sudah kembali ke rumah mereka tadi sore, setelah memastikan bahwa dirinya nyaman.
Begitupun Ocean yang jelas harus pulang ke rumahnya, tapi si tampan keturunan asia itu tadi tetap menemani Lana sampai jam 9 malam.
Jemari lentik nya meraih sebuah gelas bening, mengisinya dengan air putih, lalu meneguk air putih itu hingga tandas
Nampak begitu lega setelah tenggorokan nya di aliri oleh air putih yang menyegarkan.
" kau siapa. " si manis tersentak dari posisinya yang tengah menumpukan kedua tangan nya pada sisi counter dapur, ia menoleh ke belakang, mendapati seseorang berjalan perhalan ke arahnya, di balik gelapnya dapur yang minum cahaya, karena lampu di matikan.
Entah mengapa bahkan di balik gelap pun, tatapan intimidasi orang di depan nya tetap terasa menusuk.
Ini terlalu dekat ! Inernya dalam hati, ketika pemuda itu terlalu dekat berdiri di hadapan nya, dan mengungkungnya di antara tubuh tegap itu dan counter dapur, tidak ada nya pencahayaan membuat ia sulit melihat jelas wajah pemuda itu
Siapa? Lana yakin bahwa sosok di hadapan nya masihlah penghuni rumah ini, tetapi Lana tidak tahu siapa yang saat ini tengah berdiri di hadapan nya karena cahaya lampu yang tidak di nyalahkan
Lana gugub sekali, deru nafas hangat milik pemuda di hadapannya bahkan terasa menerpa wajahnya.
"ah benar, itu kamu, Ellana Evely si penghuni baru di sini. " pemuda itu berujar nyaris berbisik di sisi kepala Lana yang hanya dapat menunduk dengan degub jantung yang berdetak cepat, dan kemudian pemuda itu menjauhkan tubuh keduanya, meski masih di jarak yang dekat.
Ketika cahaya bulan mengintip dari celah-celah jendela dapur, menerangi keduanya, Lana kini tau rupa dari sosok di hadapannya, yang menampilkan raut tampan, mata tajam, hidung mancung, juga rahang yang tegas, nyatanya itu adalah Leonard
" Leonard, kau bisa ingat nama itu kan" dan hening terasa saat Leonard melangkah pergi begitu saja meninggalkan dapur, meninggalkan Lana yang bahkan rasanya, nyawa nya menguap entah kemana.
" aku berfikir, mungkin untuk tidak terlalu akrab dengan satu penghuni itu akan lebih baik "
Lana bergumam pelan di sela dirinya yang tengah menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di antara lipatan lutut
.
.
.
__ADS_1
See you next time.