Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Bekerja


__ADS_3

Pagi itu Laura bangun lebih dulu daro Emir. Seperti biasa gadis itu melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan.


Setiap hari Mutia tak lupa berdoa demi kesembuhan ibunya yang saat ini berjuang melawan penyakitnya.


Tak lupa gadis itu juga berdoa, agar dirinya diberikan kekuatan menghadapi Emir.


Setahun ini setidaknya, sampai ibunya dinyatakan sembuh, Dan dia bisa bercerai dengan pria itu.


Selesai menjalankan ibadahnya, Mutia pun melangkah keluar kamar.


Hari ini dia sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan, setidaknya dia memiliki kesibukan daripada hanya duduk diam di dalam rumah, pasti akan sangat membosankan.


Mutia telah bersiap dengan pakaian rapi. Dia berjalan keluar dan menemukan sebuah note diatas meja.


..."Pakai uang itu untuk belanja keperluan rumah, pin nya tanggal pernikahan kita."...


Tak hanya kartu ATM yang dia terima, ada juga kartu serta password apartemen itu kepada Mutia.


Gadis itu tersenyum tipis, lalu melangkah keluar mencari pekerjaan.


'Bismillah, semoga hari ini langkah ku di permudah, Amiin.'


Sedangkan Emir dia sudah berangkat bekerja lebih dulu, tanpa memperdulikan istrinya.


"Pagi Pak," sapa Rendi di depan pintu apartemen nya.


Tak menjawab Emir berjalan lebih dulu diikuti oleh Rendi do belakang.


"Apa laporannya sudah selesai?"


"Sudah Pak,"


"Mana!" tanya dengan wajah galaknya


Tiiing pintu lift terbuka, Rendi dan Emir berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil.


Emir duduk di belakang,


"Ini Pak." sahut Rendi memberikan berkas yang dibawa dan menyerahkannya.


"Jalan.."


"Baik, Pak." sahut Rendi

__ADS_1


Tak ada percakapan hingga mereka tiba di kantor.


"Maaf Pak, dimana istri bapak ta-"


Rendy tak berani melanjutkan kalimatnya karena mendapat tatapan membunuh dari Emir.


"kau datang ke sini ingin bekerja apa ingin menggosip? jika kau ingin gosip sebaiknya kau segera keluar dan jangan pernah kembali lagi ke sini."


"Maaf pak, tapi kan saya..."


"Kau dengar ucapanku?" tanya Emir.


"Iya Pak," jawabnya kemudian.


"Ini, dan antarkan laporan keuangan bulan ini."


"Baik pak." sahut pria itu dan melangkah keluar ruangan.


Emir kembali duduk dan menyandarkan kepalanya di kursi, matanya menatap langit-langit ruangan dengan kursi yang sedikit berputar-putar.


Pikirannya kembali menerawang, Dia teringat pertengkarannya dengan istrinya kemarin malam.


Emir yang begitu emosi dan marah hingga sampai bertindak kasar kepada Mutia, padahal ternyata Gadis itu tidak salah apa-apa.


Dirinya yang salah dia yang lupa jika ada orang lain di rumah itu yang juga membutuhkan makanan, dan dia juga tidak memberikan password rumah itu kepada Mutia.


Emir membetulkan duduknya dan mengusap wajahnya dengan kasar "kehidupan macam apa yang aku jalani ini"ucapnya gusar.


Emir mencari ponselnya dan menghubungi seseorang, dan dalam hitungan lima menit, apa yang dia inginkan tercapai. Pria itu tersenyum lebar


Dia sudah mendapatkan nomor telepon istrinya.


Kembali Emir fokus dengan pekerjaannya.


*


*


Mutiara sudah berkeliling mencari pekerjaan Namun karena dia tidak membawa fotokopi ijazah jadi sulit baginya untuk diterima bekerja di perusahaan-perusahaan.


Gadis itu berbelok ke sebuah cafe sederhana memesan makanan dan duduk menikmati makan siangnya.


Selesai makan dan membayar bill nya, gadis itu iseng bertanya.

__ADS_1


"Apakah ada lowongan pekerjaan di sini?" tanya Mutiara


"Maaf anda bicara apa?" tanya gadis cantik bernama Riri yang bertugas sebagai seorang kasir.


"Apakah ada lowongan, saya mencari pekerjaan." ucap Mutia.


"Maaf untuk saat ini tidak ada," ucap gadis itu


"Terima kasih, sahut Mutia, kemudian dia melangkah pergi.


Tanpa dia sadari ada seseorang yang tengah perhatikannya sejak tadi seorang pria yang duduk tidak jauh dari meja yang dia duduki.


Pria itu berjalan menuju kasir dan menanyakan apa yang dia bicarakan dengan Mutia.


dan dia tersenyum lebar saat mendengar bahwa Mutia membutuhkan pekerjaan.


Dengan sigap dia mengikuti Mutia, lalu dia menyuruh seseorang untuk berpura-pura memberikan kertas yang berisi lowongan pekerjaan, ia yakin jika Mutia pasti akan melamar ke tempat yang telah dia berikan.


"Kita akan bertemu lagi cantik." ucapnya tersenyum


Mutia sangat bersyukur mendapatkan iklan lowongan pekerjaan itu, dia pun segera melangkahkan kakinya kesana.


"Maaf apa benar disini ada lowongan pekerjaan," tanya Mutia dengan sopan pada gadis yang bertugas sebagai seorang resepsionis.


"Iya benar," sahut gadis itu, karena sebelumnya dia sudah di beritahu oleh Faisal.


"Maaf kalau boleh tau di bagian apa ya?" tanya gadis itu bingung


"Ehm..waiters,"


"Oh ok, aku mau."


"Sebentar, kamu tunggu disitu," tunjuknya pada kursi kosong, lalu dia masuk ke dalam.


Dibelakang nya ada seorang wanita cantik yang jalan mendekat.


"Siapa nama mu?" tanyanya


"Mutiara Bu"


"Kau tau, jika kau diterima tugasmu apa?"


"Tahu Bu," sahut mutiara lagi

__ADS_1


"Ok, ini lembar kontrak kerja kita, isi dan setelah selesai berikan kepada saya dan kamu mulai besok kamu sudah bisa mulai bekerja."


"Terima kasih Bu." sahut Mutiara dengan mata berbinar.


__ADS_2