
"Darimana saja kamu?" suara bariton itu menyambut kedatangan Mutiara..
Gadis itu tak menjawab memilih masuk ke dalam kamar tapi rupanya sang suami merasa tidak terima dengan perlakuannya istrinya itu, dia merasa di sepelekan, dia kesal karena merasa diabaikan.
"Aku bicara dengan mu, Ara!"
Mutiara menggeram di dalam hatinya, dia baru saja pulang dan kini suaminya menyambutnya dengan kemarahan
"Aku pulang kerja," sahut nya singkat
"Jam segini?" Sindir Suaminya lagi
"Terserah mau percaya atau tidak, lagipula bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menggangu kehidupan masing-masing." di sahutnya lantang, setelah bicara Mutiara melangkah menuju kamarnya.
Emir hanya diam dan menggeram kesal ditempatnya, dirinya seperti terjebak dengan kalimatnya sendiri.
Bukankah kalimat seperti itu yang dia katakan pada sang istri diawal pernikahan, lalu mengapa kini dia yang penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya diluar.
Sementara di dalam kamar Mutiara menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, gadis itu terlentang dengan mata menatap langit-langit kamar. Beberapa kali terdengar hembusan napas berat. Dadanya naik turun seiring dengan amarah yang membara di dalam dadanya.
"Kenapa dia marah? apa dia pikir aku kelayapan nggak jelas, lagipula bukankah sudah sejak awal...argh.. dasar pria sinting. Apa dia tidak tau jika hari ini sangat melelahkan, aku capek, huh!" lagi dia menghembuskan napas sekuat tenaga, berusaha membuang segala sesak dan beban yang menghimpit di dadanya.
__ADS_1
Mutiara coba mengistirahatkan tubuhnya dengan memejamkan mata, namun bukannya tidur dia justru terbayang perdebatannya dengan bos mereka tadi.
"Apa yang Pak Faisal pikirkan tentangku? atau jangan-jangan dia.."
Secepatnya dia membuang jauh praduga nya itu, mungkin itu hanyalah kebetulan saja. Bukan apa-apa." ucapnya lagi
Batu beberapa detik merasa lega kini gadis itu kembali mendesah..
"Apa iya itu hanya kebetulan.." ucapnya lirih.
Lagi bayangan peristiwa tadi muncul.
Saat itu kejadiannya di kantorsaat dia dan Zia berada di halaman menunggu taksi yang sudah mereka pesan secara online. Kebetulan Pak Faisal melihat kedua gadis itu.
"Pulang ,,Pak," sahut Zia asal
"Pulang...? masih jam segini, Gimana kalau kita makan, saya traktir. Kalian juga pasti belum makan kan?" ajak Pak Faisal penuh semangat.
"Maaf Pak, kami sudah kenyang," tolak Mutiara secara lembut, diiringi dengan senyuman.
Mutiara menarik lengan Zia, agar mereka menjauh, tidak enak rasanya mengobrol dengan bos seperti saat ini.
__ADS_1
"Mutiara tunggu.." Panggil Faisal coba mengejar Mutiara dan Zia berjalan menuju sebuah taksi yang sudah berhenti tak jauh dari mereka.
"Zia, bagaimana kalau saya antarkan saja," tawarnya dengan suara keras.
Kalimat itu menghentikan langkah Mutiara, gadis itu berbalik dan tersenyum. "Tidak Pak, Terima kasih. Kami tidak ingin merepotkan Bapak, saya bisa pulang sendiri, lagi pula Bapak kan baru saja sampai, acaranya juga masih belum selesai, semua anak-anak juga masih berada didalam," jelas Mutiara.
Setelah itu Keduanya masuk ke dalam taksi yang sudah di pesan sebelumya.
Faisal menyerah, dia membiarkan kedua gadis itu pulang dengan menggunakan taksi.
"Huh! akhirnya lega..." sindir Zia sontak membuat lalu keduanya tertawa lebar, dan mereka pulang dengan wajah bahagia, bisa lepas dari Pria yang hanya bisa menatap dari kejauhan.
"Muti..." panggil Zia
"Hemm.."
"Kayaknya pak Bos suka deh sama kamu."
"Ngimpi, mana mungkin." sahut Mutiara tertawa pelan
" Serius!"sahut Zia kesal karena merasa jawabannya diremehkan
__ADS_1
"Stop ya Zia, jangan suka macem macem, dan sebar fitnah.
"Aku nggak fitnah kak,