Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Merawat


__ADS_3

Baru 4 suap Emir sedang ingin meletakkan bubur itu kembali di atas meja, tentu saja Mutia tidak akan membiarkannya.


"Kamu bisa makan sendiri atau tidak ?jangan bertingkah seperti anak kecil, cepat habiskan sebelum kesabaranku habis," ancam Mutia


"Kau memarahi ku?" sahut Emir dengan tatapan tajam.


"Aku hanya tidak ingin ladang uangku sampai kering, jika kamu sakit nenek pasti akan memarahi ku." sahut Mutia tak kalah galak, dia menekan egonya dengan mengatakan itu semua, sengaja meprovokasi Emir.


'Cih sudah kuduga dia tidak perduli padaku hanya perduli dengan uangku,' batin Emir


"Suap!" ucap Emir kesal


"tidak mau, makan saja sendiri,"


"Ok, aku tidak akan makan?'


"Dasar bocah," omel Mutia


Dia pikir Mutia akan memohon dengan cara lembut dan menyuruhnya makan, ternyata dia salah. Gadis itu justru terang-terangan mengatakan bahwa dia perempuan matre.


Emir tak mau makan, Mutia menjadi iba, Mutia mengambil mangkok bubur yang terletak di atas meja kemudian mulai menyendokkan bubur, "Buka mulutnya,"


Emir menoleh dengan wajah datar, namun di dalam hatinya dia bersorak kegirangan, wanita itu kalah dan memilih menyuapinya meski semua dia lakukan demi uang, setidaknya aku menang,' batin Emir


Sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut Emir.


"Buka mulutnya." ucap Mutia.


"Sudah." sahut Emir pada suapan ketiga.


"Makan yang banyak dan jangan merepotkan ku." omel Mutia lagi.

__ADS_1


Dua suapan terakhir dan setelah itu Emir tak mau membuka mulutnya lagi. Dia kembali berbaring perutnya terasa pedih dan perih.


Mutia memberikan nya obat dan pria itu kembali memejamkan matanya.


Mutia kembali dari dapur setelah mencuci dan mengembalikan mangkok serta gelas Emir ke tempatnya.


Saat kembali ke kamar, Dilihatnya pria itu sudah memejamkan matanya. Dia kemudian duduk tak jauh dari tempat Emir. Dan pun ikut memejamkan matanya, dan tertidur pulas.


Pukul empat dinihari Emir terbangun tubuhnya sudah terasa lebih baik. Bubur yang dibuat oleh istrinya sangat enak, dan Alhamdulillah cocok di perutnya.


Emir duduk, dan dia bisa melihat Mutia yang tertidur di sofa disampingnya, gadis itu terlihat menggigil kedinginan dengan tubuh setengah meringkuk.


lama Emir menatap wajah damai itu, cantik, tanpa sadar kata itu terucap dari bibirnya.


Namun segera kesadarannya muncul, pria itu pun menggeleng kan kepalanya, "Tidak, dia hanyalah cewek matre yang mau menikah dengan ku karena uang." ucapnya lagi meyakini hatinya.


Emir mengangkat tubuh Mutia perlahan dan membaringkan nya di ranjang, lalu dia menyelimutinya. Setelah itu pria itu berdiri, berjalan perlahan menuju kamarnya.


Emir membuka pesan tersebut, namun isinya Justru membuat senyum pria itu hilang, dan wajahnya berubah masam.


Lagi kekasihnya membuat keputusan tanpa bertanya dulu padanya, dia lebih  mengejar karir tanpa memikirkan perasaan Emir. Bahkan membuat keputusan tanpa bicara pada Emir.


Padahal mereka sudah berjanji akan segera menghubungi neneknya begitu pekerjaan gadis itu selesai, tapi apa buktinya dia justru kembali menerima tawaran keliling dunia tanpa bicara dulu dengar Emir.


Pria itu menarik napas dalam, kecewa dengan keputusan sang kekasih, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Resiko memiliki kekasih seorang model terkenal, dia harus siap ditinggal dan harus sabar menunggunya.


Emir membanting ponselnya di sofa, hatinya kesal, sampai kapan dia harus menunggu sang kekasih yang terus saja mengejar karirnya tak sedikitpun memikirkan dirinya


**


Mutia terbangun, sedikit kaget melihat dia tertidur. Gadis itu duduk dan memperhatikan sekitarnya, Ingatan nya kembali, dia mencari dimana pria ketus itu,

__ADS_1


"ah...pasti dia berada di kamarnya, sudah lah."


Mutia bangun dan berjalan ke dapur untuk membuat sarapan. Tak lupa dia membuat bubur untuk suami juteknya.


Jam setengah tujuh, Emir keluar kamar dengan pakaian lengkap, siap.berangkat ke kantor.


"Tunggu, kau tidak sarapan?" tanya Mutia.


"Tidak, dan jangan mengkhawatirkan ku, aku bisa mengurus diriku sendiri." ucapnya berlalu.


Mutia hanya bisa menghela napas, bubur yang dia buat dia letakkan begitu saja di atas meja. Kemudian gadis itu pun bersiap untuk berangkat bekerja.


Di bawah tanpa sengaja dia bertemu dengan Pras.


"Loh, kakak mau kemana?" tanya Pras yang heran melihat Mutia sudah berpakaian rapi.


"Aku , aku berangkat bekerja."


"Bekerja?" ulangnya menyipitkan mata.


"Iya, aku bekerja di kafe Admiror yang ada di ujung jalan sana."


"Apa aku enggak salah, kakak bekerja, padahal suami ka-"


"Dia sudah memberikan ijin," potong Mutia.


"Oh ya, tolong sampaikan pada tuan sombong itu, jangan lupa sarapan, jangan sampai dia kembali pingsan dan merepotkan banyak orang, "


Setelah bicara Mutia melangkahkan kakinya keluar mencari kendaraan untuk berangkat bekerja.


Sebuah mobil berhenti di depannya "Mau ikut?"

__ADS_1


__ADS_2