Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Bubur


__ADS_3

Langkah Emir terhuyung dan kemudian brugh.... dia pun terjatuh pingsan.


Tubuhnya tergeletak dilantai tanpa siapa yang melihat dan membantunya.


Tengah malam Mutia merasakan haus, Entah kenapa rasanya malam ini sangat panas, sehingga dia tidak dapat menahan rasa haus itu. Walau sedikit malas, mau tak mau gadis itu pun harus beranjak berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.


Langkahnya sedikit sempoyongan sambil menahan kantuk yang masih menguasai setengah jiwanya.


Gadis itu perlahan menuruni tangga, melangkah satu persatu hingga sampai ke lantai dasar dan alangkah terkejutnya dia, saat tersandung sesuatu.


Refleks tangannya meraih dinding untuk menahan keseimbangan tubuhnya, matanya terbuka dan hilang sudah rasa kantuknya.


Matanya semakin membola saat melihat benda apa yang telah membuatnya tersandung,


"auw..benda apa ini? kenapa berat sekali," dia kemudian berjalan pelan menuju saklar lampu dan menghidupkannya,


Dia terkejut, sangat terkejut, saat melihat yabg tengah tergeletak adalah Emir.


Pria jutek yang berstatus sebagai suaminya itu kini terbaring di lantai.


"Ngapain sih kok tidur di lantai," omel mutiara


tapi detik berikutnya mata gadis itu membola dia tersadar sesuatunya.


"Apa dia terluka? atau Jangan rumah ini telah dirampok dan bagaimana ini, ka...kalau dia mati gimana!"


Perlahan gadis itu berjalan mendekat dan berjongkok, sedikit takut-takut untuk memeriksa keadaan Emir. Tangannya dia letakkan di hidung Emir, memeriksa apakah pria itu masih bernapas atau tidak.


Mutia sedikit merasa lega karena ternyata Emir masih bernapas, muncul pertanyaan di kepalanya, "kenapa dia tidur di sini? apa dia mabuk?" batin Mutia.


Mutia pun coba membangunkan Emir dengan menguncang tubuhnya pelan.


"Mir, Emir.. bangun." ucapnya pelan


Tak mendapat respon, gadis itu mengguncang tubuh Emir agak sedikit lebih keras, "woi.. bangun woi...." ucapnya.


Namun tubuh Emir tak juga bereaksi, barulah Mutia merasakan ada yang aneh, gadis itu memperhatikan wajahnya, ternyata wajah Emir pucat, tangannya juga sangat dingin, dengan cepat dia memapah Emir dan membawanya ke sofa.


setelah berusaha payah mengangkat tubuh pria itu akhirnya dia mampu meletakkan tubuh Emir di atas sofa.


"Hu! ternyata tubuhnya berat sekali," ucap Mutia yang kelelahan.


Segera dia berjalan menuju dapur, mengambil air hangat, dan membawanya.


Dia juga berjalan ke kamar mengambil selimut tebal, lalu menyelimuti Emir.


Mutiara nggak tau apa yang mau dia lakukan selanjutnya. Gadis itu mencoba kembali membangunkan Emir, namun tetap sama tidak bereaksi.


"kak bangun. kak....."

__ADS_1


Mutia memang tidak berpengalaman, dia bingung sendiri berjalan mondar-mandir dan semakin panik, "jangan-jangan dia.. argh jangan mati dulu, masa iya aku jadi janda, baru juga seminggu menikah udah jadi janda aja." batinnya


Mutia kembali mondar mandir, gadis itu bingung mau manggil dokter, nggak ada yang di kenal, kerena dia baru disana.


Tiba-tiba dia teringat pada Prasetya, sepupu Emir. Mutia segera bergegas masuk ke dalam kamar Emir, dan mengambil ponselnya. Untung saja ponsel tersebut tidak menggunakan kata sandi sehingga dia bisa membukanya. Kemudian dengan cepat dia mencari nama Prasetya. "Alhamdulillah, dia tidak menggunakan nama-nama yang aneh," batin Mutia lega.


Mutia langsung mencari nama Pras dan langsung meneleponnya.


"Ya, Mir ada apa?" terdengar suara Pras dari seberang sana.


"Halo, ini bener kamu Pras? ini aku istrinya Emir."


"Ya, ada apa Kak?" jawab Pras kaget, karena suara Mutia terdengar begitu panik.


"Begini, Emir tiba-tiba pingsan, aku nggak tahu dia kenapa? bisa tolong panggilkan dokter? atau kamu kesini dan bantu aku membawa nya ke rumah sakit."


"Oke tunggu di sana, jangan panik, Aku akan segera datang dan aku akan bawa dokter." jawab Pras yang langsung mematikan ponselnya.


Pras segera menghubungi dokter keluarga dan dia juga segera meluncur kekediaman Emir.


Sepuluh menit kemudian pintu terbuka dan Pras masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana kondisinya?"


"Masih sama, aku yakin dia pingsan." sahut Mutia


"Emir memiliki riwayat sakit maag akut, mungkin kambuh."


"Iya, bisa jadi kan? lagi kambuh. kita tunggu dok-ter"


Bel berbunyi menghentikan ucapan Pras, dia pun segera berdiri dan berjalan menuju pintu, membuka pintu dan masuk ke dalam bersama seorang dokter.


Dokter langsung memeriksa kondisi Emir dan memberikannya obat langsung ke dalam mulutnya, sebuah suntikan dan resep obat.


"Kenapa dengan suami saya, dok?" tanya Mutia


"Asam lambungnya naik dan juga kelelahan, usahakan agar beliau banyak istirahat."


"Apa tidak ada yang mengkhawatirkan?" tanya Mutia ragu


"Tidak, tapi penyakit ini juga berbahaya, maaf apa kamu pacarnya?"


"Eh, bukan saya istrinya." jawab Mutia ragu


"Tolong perhatikan makanannya, jangan pedas dan usahakan dia makan dengan teratur. Karena penyakit ini akan kambuh saat pasien terlambat makan dan banyak pikiran."


"Iya, dok. Makasih dok." sahut Mutia


Pras mengantar dokter keluar dan kembali membawa obat untuk Emir.

__ADS_1


"Eugh..." ucap Emir pelan sedikit merintih.


"Kamu sudah sadar?" tegur Pras.


Pria itu kini duduk di samping Emir sedangkan Mutia sedang berada di dapur.


"Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Emir dengan tubuh lemahnya yang berusaha untuk duduk.


"Aku," ucapnya berjeda


" istrimu yang menghubungiku." sahutnya pelan


"Ara,"


"Iya, dia panik melihatmu tergeletak, dan dia menghubungiku ku."


Emir masih menatapnya tak percaya, Pras tersenyum, "Aku pulang, jangan lupa minum obatmu." ucapnya


Emir kembali duduk karena merasa tubuhnya masih sakit dan lemah Tak lama kemudian istrinya datang membawa semangkuk bubur yang masih mengepul.


"Makanlah," ucap Mutia


"Aku tidak lapar." ucap Emir ketus


"tapi tetap kamu harus makan?"


.


"mulutku terasa pahit?"


"Mau makan sendiri atau aku suapi?"


malas berdebat Mutia to the point', karena jika di teruskan perdebatan ini tak akan kunjung usai.


"Cih, aku tidak sudi"


Emir masih keras kepala, dan kesabaran Mutia telah habis.


"Dengar ya, aku lakukan ini bukan karena aku kasihan padamu, tapi demi ibuku," Ucapnya tegas


"Sejujurnya aku tidak perduli mau kau jatuh sakit, mau makan atau enggak itu bukan urusanku!


tapi...


Jika nanti kau masuk rumah sakit, nenek kan menyalahkanku 'dan pengobatan ibuku akan dihentikan. Aku


tidak mau terjadi apapun pada ibuku jadi tolong kerjasamanya jika kau tidak bisa makan sendiri aku yang akan menyuapi mu."


Emir terdiam mendengar pengakuan Mutia, Dia pikir Gadis itu ingin mengambil hatinya tapi ternyata salah.

__ADS_1


"yang ada dipikirannya hanyalah uang, aku pikir dia khawatir padaku ternyata aku salah, dasar matre." makinya dalam hati.


Emir merampas mangkok bubur di tangan Mutia dan mulai menyuapnya ke dalam mulut.


__ADS_2